Pemilihan beliau menunjukkan bahwa pahlawan yang diabadikan tidak hanya pejuang bersenjata, tapi juga yang berjuang lewat politik, sosial dan keagamaan.
Mohammad Hoesni Thamrin merupakan tokoh Betawi yang vokal memperjuangkan hak-hak rakyat pribumi di masa penjajahan Belanda. Ia aktif dalam organisasi Kaoem Betawi dan menjadi anggota Volksraad (Dewan Rakyat Hindia Belanda).
Potretnya menghiasi uang kertas pecahan Rp 2.000 sebagai lambang perjuangan politik rakyat kecil dan daerah metropolitan (Jakarta).
Maknanya: pengakuan bahwa perjuangan nasional juga dibangun dari kota-kota besar dan rakyat “kecil”.
Tjut Meutia adalah satu-satunya pahlawan wanita yang wajahnya tampil pada uang kertas rupiah (modern). Beliau berasal dari Aceh dan memimpin perlawanan melawan Belanda setelah kematian suaminya.
Potret beliau muncul pada pecahan Rp 1.000 sebagai pengingat bahwa kaum wanita juga memainkan peran besar dalam perjuangan kemerdekaan.
Maknanya: kesetaraan, keberanian, dan kekuatan seluruh elemen bangsa diakui dalam desain mata uang kita.
Mengapa tokoh-tokoh di atas dipilih dan ditempatkan pada pecahan uang tertentu? Berikut beberapa poin penting:
Representasi Wilayah Nusantara
Tokoh-tokoh tersebut mewakili berbagai daerah: Jawa (Soekarno, Hatta), Jawa Barat (Djuanda), Sulawesi (Ratulangi), Papua (Kaisiepo), Betawi/Jakarta (Hoesni Thamrin), Aceh (Tjut Meutia). Dengan demikian, mata uang menjadi medium yang mengingatkan bahwa Indonesia adalah negara kepulauan yang multi-etnis, multi-daerah dan bersatu.
Beragam Bentuk Perjuangan
Tidak hanya perjuangan bersenjata:
Diplomasi kemerdekaan (Soekarno & Hatta)
Integrasi wilayah dan kedaulatan laut (Djuanda)
Pendidikan, penyebaran kabar proklamasi (Ratulangi)
Integrasi wilayah paling timur (Kaisiepo)
Kehidupan keagamaan dan politik rakyat (Idham Chalid)
Perjuangan politik rakyat perkotaan (Hoesni Thamrin)
Perlawanan perempuan dari Aceh (Tjut Meutia)
Ini menunjukkan bahwa pahlawan nasional di uang rupiah dipilih karena jasa yang menyeluruh.
Penguatan Identitas Kebangsaan dalam Uang
Sebagaimana disebut oleh BI, gambar-pahlawan di uang rupiah bukan sekadar hiasan tetapi “merepresentasikan … identitas keindonesiaan”.
Setiap nominal ketika beredar membawa muatan sejarah yang dapat mengingatkan kita akan akar, perjuangan, dan nilai-nilai bangsa.
Penyebaran kesadaran generasi muda
Desain uang rupiah murah (nominal lebih rendah) sering “dalam genggaman” pelajar, anak muda. Dengan demikian, mekanisme ini menjadi sarana edukasi tidak langsung bahwa “ini sosok di uangmu – ini tokoh bangsa”.
Mata uang rupiah modern kita bukan sekadar kertas bernominal, melainkan lembaran sejarah yang hidup. Wajah-wajah seperti Soekarno & Hatta, Djuanda Kartawidjaja, Sam Ratulangi, Frans Kaisiepo, Idham Chalid, Hoesni Thamrin dan Tjut Meutia adalah pengingat bahwa bangsa ini berdiri atas dasar perjuangan, keberagaman dan persatuan.
Dengan setiap pecahan yang kita pegang, tersemat kisah dan semangat pahlawan yang patut dikenang dari Aceh hingga Papua.***
Sumber: Bank Indonesia
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir