Peringatan Maulid menjadi sarana untuk terus menjaga misi dakwah Rasulullah SAW agar tidak terputus dari generasi ke generasi.
Allah SWT berfirman dalam QS. Ali Imran ayat 31:
قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ ۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
Artinya: “Katakanlah (Nabi Muhammad), jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.”
Ayat ini menunjukkan bahwa bentuk cinta sejati kepada Allah adalah dengan mengikuti Rasulullah SAW.
Banyak ulama yang mendukung peringatan Maulid Nabi:
Imam Jalaluddin Al-Suyuti: Maulid termasuk bid’ah hasanah bahkan bisa bernilai sunnah karena diisi dengan dzikir, kisah Nabi, dan sedekah.
Imam Al-Sakhawi: Jika kaum Nasrani memuliakan kelahiran nabinya, umat Islam lebih layak memuliakan kelahiran Rasulullah.
Fathullah Al-Bannani: Maulid adalah bid’ah terbaik karena di dalamnya ada amal-amal kebajikan.
Al-Qastalani: Sejak abad ke-3 H, umat Islam telah merayakan Maulid dengan sedekah dan kisah Nabi.
Ibnu Taimiyah: Walau tergolong bid’ah, Maulid bisa mendatangkan pahala besar karena niat untuk mengagungkan Nabi.
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW bukan sekadar tradisi, melainkan momentum untuk memperbanyak shalawat, meneguhkan cinta, meneladani akhlak, serta melestarikan dakwah Rasulullah. Dengan hikmah Maulid, umat Islam diingatkan kembali pada misi utama Nabi sebagai rahmat bagi seluruh alam.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir