Sejenak para sahabat terdiam. Tak ada kata. Hanya air mata yang mulai membasahi mata-mata yang menatap Rasulullah dengan kekaguman yang tak terucap. Betapa mulianya hati sang Nabi. Bahkan ketika rasa tidak enak pun masuk ke lisannya, beliau tidak mengeluh. Karena baginya, menjaga hati seorang fakir miskin lebih penting daripada menyenangkan lidah sendiri.
Itulah Rasulullah-sosok yang tidak hanya mengajarkan Islam lewat kata-kata, tetapi melalui setiap tindak-tanduknya. la adalah rahmat bagi semesta alam, penjaga hati yang terluka, pelindung bagi mereka yang tersingkirkan.
Dan hingga hari ini, kisah itu tetap hidup-mengajarkan kita bahwa penghormatan, keikhlasan, dan cinta yang tulus lebih berharga daripada apapun yang bisa dilihat mata.
Kisah ini termasuk dalam kategori qiṣṣah (cerita) yang beredar di kalangan umat Islam, sering disampaikan untuk tujuan pengajaran moral dan nilai-nilai kebaikan.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir