Mental Baja dari Pondok: Proses yang Tak Selalu Mudah tapi Sangat Berarti.
08 Agustus 2025
| 04:54
Belajar mandiri tanpa adanya orang tua. Demi ilmu dan masa depannya.
5. Merasa tidak percaya diri. Mungkin dulunya santri seperti ini merupakan santri yang pendiam, pemalu atau suka minder. Di pesantren anak-anak dil untuk tampil berani di depan temen baik memimpin doa, tahlil atau menjadi imam .proses ini membutuhkan waktu yang tidak sebentar, seta butuh dorongan dari orang tua.
6. Merasa iri dengan teman yang uang saku nya lebih banyak. Santri terkadang iri Liat teman nya beli jajan yang banyak sedangkan dirinya tidak mampu. Disinilah pentingnya menanamkan sifat qona'ah (nerima) dan selalu fokus pada tujuan utama untuk mendapatkan ilmu.
7. Belum terbiasa dengan tantangan baru. Terkadang santri merasa tidak betah berada di pondok karena mereka keluar dari zona nyaman merak berada di rumah. Di rumah mereka bebas mau main ke manapun, main sama siapapun, tapi di pondok mereka dibatasi dengan kegiatan yang padat serta disiplin yang ketat . Pesantren merupakan tempat terbaik untuk mengubah zona nyaman menjadi zona pertumbuhan. Dan ini semua adalah modal hidup yang mahal bagi mereka sebelum terjun ke masyarakat.
Mental pemenang bulan sesuatu yang bisa diwariskan , ia bisa didapat melalui proses tempaan keras, tangisan ,rasa lelah dan keikhlasan . Mungkin anak di pesantren belum terlihat sempurna hari ini, tapi mereka sedang menuju proses kedewasaan yang tidak semua anak di luar sana alami.