Arab:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ لِلَّهِ تَعَالَى
Latin:
Nawaitu shauma ghadin ‘an qadhā’i fardhi syahri Ramadhāna lillāhi ta‘ālā.
Artinya:
“Aku berniat untuk mengqadha puasa Ramadhan esok hari karena Allah Ta‘ala.”
Qadha dilakukan dengan cara yang sama: menahan diri dari makan, minum, dan hal-hal yang membatalkan sejak fajar hingga maghrib.
Wahbah az-Zuhaili dalam Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu menjelaskan:
“Tata cara qadha sama dengan puasa Ramadhan, hanya berbeda dalam waktu pelaksanaannya.”
Dianjurkan segera melunasi utang puasa, tidak menundanya hingga Ramadhan berikutnya kecuali ada uzur syar’i.
Jika ditunda tanpa alasan sampai masuk Ramadhan selanjutnya, maka selain qadha, sebagian ulama mewajibkan fidyah sebagai bentuk taubat dan tanggung jawab.
QS. Al-Baqarah ayat 185
فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ
“Barang siapa hadir di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa. Barang siapa sakit atau dalam perjalanan lalu berbuka, maka (wajib mengganti) sebanyak hari yang ditinggalkan pada hari lain.”
Hadis Hafshah RA
مَنْ لَمْ يُبَيِّتِ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلَا صِيَامَ لَهُ
“Siapa yang tidak berniat puasa pada malam hari sebelum fajar, maka tidak sah puasanya.” (HR. Abu Dawud no. 2454, Tirmidzi no. 730)
1. Apakah niat harus diucapkan lisan?
Niat tempatnya di hati. Melafazkan lisan sunnah untuk membantu konsentrasi.
2. Jika lupa niat malam hari (menurut Syafi’i)
Puasa qadha tidak sah, ulangi di hari lain. Menurut Hanafi, boleh niat sampai sebelum zawal selama belum membatalkan.
3. Bolehkah qadha dipisah-pisah tidak berurutan?
Boleh. Tidak wajib berurutan, yang penting jumlah hari terpenuhi.
4. Kalau utang belum lunas sampai Ramadhan berikutnya?
Segera qadha setelahnya. Sebagian ulama mewajibkan fidyah atas penundaan tanpa uzur (lihat rincian mazhab).
5. Bolehkah sahur tanpa melafazkan niat?
Boleh, selama di hati telah ada tekad kuat akan berpuasa qadha esok hari.
Al-Qur’an, QS. Al-Baqarah: 185
HR. Abu Dawud no.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir