Pendidikan
Hilmi An Naufal

Pemerintah Perkuat Kolaborasi Keluarga dan Sekolah untuk Siapkan Generasi Emas 2045

Pemerintah Perkuat Kolaborasi Keluarga dan Sekolah untuk Siapkan Generasi Emas 2045

03 Agustus 2026 | 08:11

Sekolah perlu mencegah perundungan, kekerasan, diskriminasi, dan berbagai tindakan yang dapat mengganggu perkembangan anak.

Sementara itu, pelatihan industri digital diharapkan membantu siswa memahami perubahan dunia kerja sekaligus mengembangkan keterampilan yang relevan dengan masa depan.

Orang tua tidak hanya dipanggil saat muncul masalah

Kolaborasi keluarga dan sekolah sebaiknya tidak hanya berlangsung ketika siswa memperoleh nilai rendah, melanggar aturan, atau menghadapi masalah.

Komunikasi perlu dibangun sejak awal melalui pertemuan orang tua, konsultasi perkembangan anak, kegiatan kelas, program pendidikan keluarga, dan saluran komunikasi yang disepakati bersama.

Guru dapat menyampaikan perkembangan serta kebiasaan siswa selama berada di sekolah. Orang tua juga dapat memberikan informasi mengenai kebutuhan, kondisi kesehatan, dan perubahan perilaku anak di rumah.

Pertukaran informasi tersebut membantu kedua pihak memahami siswa secara lebih utuh.

Namun, komunikasi harus tetap menjaga privasi. Informasi pribadi anak tidak boleh disebarkan kepada pihak yang tidak berkepentingan atau dibicarakan melalui forum umum tanpa alasan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Sekolah perlu menjadi ruang aman bagi remaja

Masa remaja membawa berbagai perubahan fisik, emosional, dan sosial. Pada periode tersebut, siswa mulai menghadapi persoalan identitas, pertemanan, tekanan akademik, pilihan pendidikan, dan pengaruh media digital.

Tidak semua remaja mampu membicarakan persoalannya secara langsung kepada orang tua atau guru. Sekolah karena itu perlu menyediakan lingkungan yang aman dan tidak menghakimi.

Layanan konseling, pendidik sebaya, konselor sebaya, dan kegiatan pengembangan diri dapat membantu siswa memperoleh dukungan lebih awal.

Guru dan orang tua juga perlu mengenali perubahan yang patut diperhatikan, seperti penurunan prestasi secara tiba-tiba, sering tidak masuk, menarik diri dari pergaulan, perubahan emosi yang ekstrem, atau kehilangan minat terhadap aktivitas sehari-hari.

Pengamatan tersebut bukan untuk memberikan diagnosis, tetapi menjadi dasar untuk mengajak anak berbicara dan mencari bantuan yang sesuai.

Program harus disesuaikan dengan kebutuhan daerah

Pelaksanaan kerja sama keluarga dan sekolah perlu mempertimbangkan kondisi masing-masing wilayah.

Sekolah di perkotaan dapat menghadapi masalah penggunaan gawai, tekanan akademik, dan kompetisi sosial. Sekolah di daerah lain mungkin lebih banyak berhadapan dengan perkawinan anak, putus sekolah, akses kesehatan, stunting, atau keterbatasan layanan konseling.

Karena itu, program tidak sebaiknya diterapkan hanya untuk memenuhi dokumen administrasi.

Sekolah perlu memetakan kebutuhan siswa, keluarga, dan masyarakat sebelum menentukan kegiatan. Hasil pemetaan tersebut dapat digunakan untuk memilih topik pembelajaran, bentuk pendampingan, serta mitra yang perlu dilibatkan.

Pemerintah Kota Yogyakarta, misalnya, memperkuat pelaksanaan SSK di sejumlah SMP dan MTs dengan fokus pada literasi kependudukan, kesehatan reproduksi, perencanaan pendidikan dan karier, pencegahan perkawinan dini, serta pencegahan stunting.

Kolaborasi melibatkan masyarakat

Pendidikan anak tidak hanya menjadi tanggung jawab keluarga dan sekolah. Lingkungan masyarakat juga memengaruhi kebiasaan, keamanan, serta perkembangan mereka.

Sekolah dapat bekerja sama dengan puskesmas, pemerintah daerah, organisasi masyarakat, perguruan tinggi, dunia usaha, dan lembaga perlindungan anak.

Puskesmas dapat memberikan edukasi kesehatan dan layanan rujukan. Pemerintah daerah dapat membantu kebijakan dan pendampingan program. Sementara perguruan tinggi serta organisasi masyarakat dapat mendukung pelatihan, penelitian, dan pengembangan materi.

Kolaborasi yang lebih luas diperlukan karena persoalan anak sering berkaitan dengan berbagai bidang sekaligus.

Keberhasilan perlu diukur dari perubahan nyata

Keberhasilan program tidak cukup dinilai dari jumlah sekolah yang membentuk Pojok Kependudukan atau PIK-R.

Evaluasi perlu melihat apakah siswa benar-benar memahami materi, merasa aman meminta bantuan, dan mampu mengambil keputusan secara bertanggung jawab.

Sekolah juga dapat mengukur keterlibatan orang tua, kualitas komunikasi dengan guru, pemanfaatan layanan konseling, serta perubahan budaya sekolah.

Monitoring penting untuk memastikan program tidak hanya aktif ketika ada penilaian atau kunjungan. SSK, PIK-R, dan pendidikan keluarga perlu menjadi bagian dari kegiatan sekolah yang berkelanjutan.

Fondasi menuju Indonesia Emas 2045

Mendikdasmen Abdul Mu’ti menyampaikan bahwa nota kesepahaman tersebut akan ditindaklanjuti oleh unit teknis di kedua kementerian melalui program-program yang lebih konkret.

Tindak lanjut akan mencakup penguatan peran guru, pendidikan keluarga, serta pendampingan remaja dalam menghadapi perkembangan zaman.

Dengan pendekatan tersebut, proses pendidikan tidak hanya berlangsung di dalam kelas. Pendidikan terhubung dengan keluarga dan masyarakat sebagai bagian dari lingkungan tumbuh anak.

Kerja sama antara Kemendukbangga/BKKBN dan Kemendikdasmen diharapkan membantu melahirkan generasi yang sehat secara fisik dan mental, memiliki karakter, menguasai pengetahuan, serta mampu bersaing.

Kolaborasi tersebut menjadi salah satu upaya menyiapkan sumber daya manusia yang akan menopang pembangunan Indonesia menuju 2045.

Namun, keberhasilannya tetap bergantung pada pelaksanaan di lapangan. Nota kesepahaman perlu diterjemahkan menjadi layanan yang benar-benar dapat dirasakan oleh siswa, guru, dan keluarga.

Ketika komunikasi terbuka, pendampingan tersedia, dan anak tumbuh dalam lingkungan yang aman, keluarga dan sekolah dapat menjadi dua kekuatan utama dalam membangun generasi Indonesia yang berkualitas.

Sumber informasi: ANTARA, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Kemendukbangga/BKKBN, dan Pemerintah Kota Yogyakarta.

LANJUT MEMBACA
Jelajahi Artikel
2 / 2
HALAMAN SEBELUMNYA Sebelumnya
Tags:
pendidikan

Komentar Pengguna