Kesehatan
Vini Dwi Jayati

Perempuan dan Seni Bertahan dalam Diam

Perempuan dan Seni Bertahan dalam Diam

19 Januari 2026 | 20:46

Dalam keluarga, hubungan, maupun lingkungan sosial, perempuan sering tetap menjalankan perannya meski batinnya terluka. Ia tetap hadir, tetap peduli, dan tetap berusaha kuat.

Ketahanan ini lahir dari proses sunyi. Dari malam-malam panjang penuh pikiran, dari air mata yang jatuh tanpa saksi, dan dari doa-doa yang dipanjatkan dalam diam. Perempuan belajar bertahan tanpa banyak bicara, meski dunia jarang menyadari perjuangannya.

Harga yang Harus Dibayar dari Sebuah Diam

Namun, diam yang terlalu lama memiliki harga yang mahal. Beban emosional yang dipendam bisa berubah menjadi overthinking, kecemasan, kelelahan mental, bahkan kehilangan kepercayaan diri. Perempuan bisa merasa tidak terlihat, tidak didengar, dan tidak dipahami.

Ketika diam terus dipilih, perempuan berisiko kehilangan dirinya sendiri. Ia lupa bagaimana caranya meminta tolong, bagaimana caranya jujur pada perasaannya, dan bagaimana caranya bersuara tanpa rasa bersalah.

Saat Diam Perlu Diakhiri

Diam memang bisa menjadi cara bertahan, tetapi bukan berarti harus dijalani selamanya. Perempuan juga berhak bersuara, berhak merasa lemah, dan berhak meminta bantuan. Berbicara bukan tanda kegagalan, melainkan bentuk keberanian.

Menciptakan ruang aman bagi perempuan untuk berbagi menjadi hal yang penting. Lingkungan yang mau mendengar tanpa menghakimi dapat membantu perempuan perlahan keluar dari diamnya. Karena terkadang, yang dibutuhkan bukan solusi, melainkan seseorang yang benar-benar mau mendengarkan.

Diam adalah seni bertahan yang sering dipilih perempuan ketika dunia terasa terlalu keras. Namun, perempuan bukan hanya makhluk yang dituntut untuk kuat dan sabar. Ia juga manusia yang berhak dimengerti, didengar, dan dihargai perasaannya.

Perempuan boleh diam jika itu membuatnya bertahan. Tetapi perempuan juga berhak bersuara ketika diam tak lagi sanggup menampung luka. Karena sejatinya, kekuatan perempuan bukan hanya terletak pada kemampuannya bertahan, tetapi juga pada keberaniannya untuk jujur pada dirinya sendiri.

LANJUT MEMBACA
Jelajahi Artikel
2 / 2
HALAMAN SEBELUMNYA Sebelumnya
Tags:
Kesehatan Mental Mental Health Kesehatan Emosional Kesehatan Perempuan

Komentar Pengguna