Ada juga faktor psikologis yang jarang disadari. Menahan keinginan buang air besar karena sibuk atau malas ke toilet dapat memperparah sembelit. Tubuh punya ritmenya sendiri. Jika sinyalnya diabaikan, usus akan menyerap lebih banyak air dari feses, membuatnya semakin keras.
Dalam beberapa kasus, perubahan pola tidur juga ikut berpengaruh. Kurang tidur dapat memengaruhi keseimbangan hormon dan ritme tubuh, termasuk sistem pencernaan. Maka menjaga kualitas istirahat selama bulan puasa juga penting, bukan hanya demi energi, tetapi juga demi kesehatan usus.
Sembelit saat puasa sebenarnya bukan sesuatu yang harus diterima begitu saja. Ia adalah sinyal bahwa tubuh membutuhkan perhatian lebih pada asupan dan pola hidup. Dengan cairan yang cukup, serat yang memadai, makan perlahan, dan tetap bergerak, sistem pencernaan bisa kembali seimbang.
Puasa adalah momen membersihkan. Ketika perut terasa nyaman dan lancar, ibadah pun terasa lebih ringan. Karena pada akhirnya, menjaga kesehatan adalah bagian dari menjaga amanah yang sudah diberikan kepada kita.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir