Perbedaan hanya terletak pada gaya dan struktur. Ada yang terikat rima, ada yang bebas. Ada yang pendek seperti haiku, ada yang panjang seperti epos. Ada yang dilantunkan dengan musik, ada yang dibacakan dengan sunyi. Namun semangatnya sama: mengabadikan pengalaman manusia dalam bahasa yang lebih peka.
Jadi, apakah puisi hanya ada di Indonesia? Tentu tidak. Tetapi Indonesia memiliki wajah puisinya sendiri, dengan warna budaya, sejarah, dan bahasa yang khas. Justru karena puisi bersifat universal, ia bisa menjadi jembatan antarbangsa. Kita bisa membaca Rumi dan merasakan getaran yang sama seperti ketika membaca Chairil Anwar.
Pada akhirnya, puisi bukan soal negara asalnya, melainkan tentang bagaimana kata-kata mampu menyentuh hati. Di mana pun manusia hidup, di sanalah puisi lahir, kadang dalam buku, kadang dalam lagu, kadang dalam doa yang lirih. Karena selama manusia masih memiliki rasa, puisi akan selalu menemukan jalannya.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir