Istirahat beberapa menit terkadang lebih berguna daripada memaksakan diri bekerja sambil terus memijat leher.
Belajar sambil membuka TikTok.
Mengerjakan tugas sambil membalas WhatsApp.
Menulis laporan sambil notifikasi Instagram terus muncul.
Satu pekerjaan akhirnya bersaing dengan banyak hal untuk mendapatkan perhatian.
Pada kebijakan terbaru 2026, American Academy of Pediatrics tidak lagi mendorong orang tua hanya berfokus pada satu angka screen time. AAP juga meminta keluarga memperhatikan apakah penggunaan media sampai menggeser waktu untuk tidur, bergerak, membaca, bermain, mengerjakan tugas, dan berinteraksi dengan keluarga.
Inilah pendekatan yang lebih masuk akal.
Dua orang bisa sama-sama menggunakan laptop selama empat jam, tetapi dampaknya berbeda. Satu orang mungkin menggunakan perangkat untuk mengerjakan tugas dan berhenti setiap beberapa waktu. Orang lainnya bisa menghabiskan empat jam berpindah dari satu konten pendek ke konten berikutnya hingga pekerjaan utama tidak selesai.
Jadi, apa yang dilakukan di layar juga penting, bukan hanya jumlah jamnya.
Anak-anak berada pada tahap perkembangan yang berbeda dengan orang dewasa.
Karena itu, pendekatannya tidak bisa hanya berupa memberikan tablet kemudian menghitung berapa lama perangkat menyala.
Untuk anak di bawah lima tahun, WHO menempatkan screen time sebagai bagian dari keseimbangan antara tidur, aktivitas fisik, dan perilaku sedentari. Untuk usia satu tahun, sedentary screen time tidak direkomendasikan, sedangkan usia dua hingga empat tahun direkomendasikan tidak lebih dari satu jam sehari dan lebih sedikit dinilai lebih baik.
Sementara untuk anak yang lebih besar, pendekatannya semakin menekankan keseimbangan.
Apakah penggunaan gadget sampai mengganggu jam tidur? Apakah anak masih bermain di luar? Apakah tugas sekolah dikerjakan? Apakah masih ada waktu berbicara langsung dengan keluarga?
Pertanyaan seperti itu sering kali lebih berguna daripada sekadar mengatakan bahwa semua layar buruk.
Tidak perlu langsung melakukan “detoks digital” ekstrem.
Mulai dari kebiasaan sederhana.
Nonaktifkan notifikasi aplikasi yang tidak penting. Jangan membawa ponsel ke meja makan. Hindari meletakkan smartphone tepat di samping bantal saat tidur.
Ketika bekerja atau belajar, letakkan ponsel di luar jangkauan selama beberapa puluh menit agar perhatian tidak terus berpindah.
Untuk mata, lakukan istirahat berkala dan gunakan aturan 20-20-20. Atur kecerahan layar agar nyaman dengan kondisi ruangan dan jangan menatap perangkat dari jarak terlalu dekat.
Yang paling penting adalah mengembalikan ruang untuk aktivitas lain.
Berjalan, olahraga, berbicara dengan keluarga, membaca buku, tidur tepat waktu, atau bahkan duduk beberapa menit tanpa memegang perangkat.
Teknologi sudah menjadi bagian kehidupan modern.
Sulit membayangkan sekolah, pekerjaan, perbankan, komunikasi, atau pelayanan publik hari ini tanpa perangkat digital.
Karena itu, tujuan yang realistis bukan hidup sepenuhnya tanpa layar.
Yang perlu dihindari adalah ketika gadget mulai mengatur hampir seluruh waktu kita.
Jika penggunaan ponsel membuat tidur terus berkurang, mata selalu lelah, tubuh jarang bergerak, pekerjaan tertunda, atau seseorang merasa sulit berhenti meski sebenarnya ingin, mungkin sudah waktunya memperbaiki pola penggunaan.
Tidak harus membuang smartphone.
Kadang perubahan terbaik justru dimulai dari sesuatu yang sangat sederhana: mengetahui kapan layar perlu dinyalakan dan kapan waktunya diletakkan.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir