> "Aku... aku melihat Husain... tubuhnya hancur..."
"Aku mendengar tangis Zainab..." "Tapi aku juga melihat... para malaikat menurunkan mahkota cahaya untuk mereka..."
> "Jangan takut... wahai keluargaku... karena penderitaan mereka adalah jalan syafaat bagi umat ini."
Rasulullah lalu berbaring. Menatap langit-langit rumah.
> "Aku mencium bau surga... dari tubuh cucuku..."
Malam itu, rumah Nabi sunyi...
Tapi tangisan Fatimah tak bisa disembunyikan... Dan pelukannya pada Husain terasa makin kuat, seolah ingin memeluk masa depan yang akan
datang dengan luka.....
Malam itu masih bergulir, tapi hati keluarga itu terasa berat.
Fatimah tetap terisak, sementara Ali duduk di dekat Rasulullah, menggenggam tangan beliau.
Hasan dan Husain tertidur di pelukan ibunya, tak tahu bahwa mereka baru saja disebut-sebut oleh kakek tercinta dalam mimpi yang mengguncang dunia.
Setelah beberapa saat, Rasulullah kembali tenang, lalu menoleh ke Ali.
> "Wahai Ali... kuatkan dirimu. Suatu saat nanti.... engkau akan berdiri sendirian, dan mereka akan merampas segalanya darimu..."
Ali menunduk, dadanya sesak. Tapi ia angguk.
> "Jika itu jalan yang Allah pilih, maka aku akan sabar... bersama sabarnya cucu-cucumu"
Fatimah pun berkata dengan suara pelan,
> "Ayah... apa aku masih akan melihat Husain saat semua itu terjadi?"
Rasulullah memejamkan mata sejenak. Lalu menjawab dengan tenang.
> "Tidak, wahai Fatimah. Engkau akan lebih dulu menyusulku...
Engkau tidak akan melihat Karbala. Tapi kau akan menanti
Engkau tidak akan melihat Karbala. Tapi kau akan menanti mereka...
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir