Tentu tidak semua biskuit sama. Ada produk yang lebih tinggi serat atau menggunakan bahan gandum utuh. Namun tetap saja, ia bukan pengganti makanan utama. Biskuit sebaiknya diposisikan sebagai camilan sesekali, bukan sumber energi harian utama.
Menariknya, rasa nyaman saat makan biskuit bukan hanya soal rasa, tetapi juga kebiasaan. Ia sering dikaitkan dengan santai, minum teh, atau waktu istirahat. Di sinilah tantangannya: membedakan antara menikmati camilan secara wajar dan menjadikannya konsumsi rutin tanpa kontrol.
Pada akhirnya, masalahnya bukan pada biskuit itu sendiri, melainkan pada frekuensi dan porsi. Tubuh manusia dirancang untuk menerima makanan yang beragam dan bernutrisi seimbang. Terlalu sering mengandalkan camilan tinggi gula dan rendah serat bisa menggeser keseimbangan itu.
Sesekali menikmati biskuit tentu tidak masalah. Tapi jika hampir setiap hari dikonsumsi itu dapat menyebabkan ketidakseimbangan dalam pola makan, yang nantinya akan berdampak pada kesehatan.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir