Berita
Admin

Tragedi KDM: Tiga Nyawa Melayang di Tengah Pesta Megah

Tragedi KDM: Tiga Nyawa Melayang di Tengah Pesta Megah

19 Juli 2025 | 20:26

Tapi di balik kemegahan kadang ada luka, ada nyawa yang tak kembali.

 

Dan terkadang, satu pesta bisa menjadi pemakaman bagiharapan.

 

Gubernur Dedi Mulyadi, ayah dari mempelai, menyampaikan duka dan janji santunan. Rp150 juta untuk tiap keluarga korban. Itu baik. Itu bentuk tanggung jawab. Tapi uang tak pernah bisa menggantikan pelukan seorang ayah, tawa cucu, atau panggilan "Pak Polisi" dari warga yang merasa aman.

 

Kita tak sedang menghitung siapa salah, siapa lalai. Tapi kita sedang berkabung atas satu kenyataan pahit: bahwa di negeri ini, bahkan dalam suka cita pun, kita belum sepenuhnya aman.

 

Malam ini, mungkin istri Bripka Cecep duduk menatap pintu rumah yang tak lagi diketuk. Anak-anaknya tertidur tanpa tahu, pagi besok mereka bangun sebagai anak yatim.

 

Dan kita, para pembaca, hanya bisa mendoakan sambil berharap jangan lagi ada pesta yang memakan korban, jangan lagi ada polisi gugur bukan karena peluru, tapi karena semangatnya terlalu besar, hingga jantungnya tak sanggup mengikuti.

 

Selamat jalan, Bripka Cecep.

 

Engkau mungkin tak sempat mengucap selamat kepada pengantin.

 

Tapi negerimu akan selamanya mengucap: terima kasih.

 

"Tak semua pahlawan datang dengan bendera di peti matinya. Ada yang datang hanya dengan keikhlasan di dadanya."

LANJUT MEMBACA
Jelajahi Artikel
2 / 2
HALAMAN SEBELUMNYA Sebelumnya
Tags:

Komentar Pengguna