Anak juga membutuhkan waktu untuk beristirahat, berolahraga, membaca, bermain, dan berinteraksi secara langsung dengan keluarga serta teman.
Setiap penggunaan perangkat harus memiliki tujuan pembelajaran yang jelas.
Guru dapat memulai dengan menentukan kompetensi yang ingin dicapai. Setelah itu, barulah memilih apakah siswa membutuhkan video, aplikasi, simulasi, papan interaktif, atau cukup menggunakan buku dan benda di sekitar.
Tidak semua materi harus diajarkan menggunakan teknologi. Dalam beberapa kondisi, kegiatan praktik, diskusi langsung, observasi lingkungan, atau penggunaan alat sederhana dapat memberikan hasil yang lebih baik.
Teknologi seharusnya memperluas kesempatan belajar, bukan membuat proses pendidikan menjadi lebih rumit.
Perangkat juga harus memperhatikan kebutuhan siswa penyandang disabilitas. Fitur pembaca layar, teks besar, teks terjemahan, audio, dan pengaturan tampilan dapat membantu pembelajaran menjadi lebih inklusif.
Transformasi digital tidak harus dilakukan secara sekaligus.
Guru dapat memulainya dengan satu perubahan kecil, seperti membuat bahan presentasi yang lebih visual, menggunakan kuis digital, menyimpan materi agar dapat diakses secara offline, atau membagikan sumber belajar melalui platform sekolah.
Setelah terbiasa, penggunaan teknologi dapat dikembangkan menjadi proyek kolaboratif, portofolio digital, simulasi, atau pembelajaran berbasis masalah.
Setiap kegiatan perlu dievaluasi. Guru dapat menilai apakah teknologi membantu siswa memahami materi, meningkatkan partisipasi, dan mempermudah proses belajar.
Apabila penggunaan suatu aplikasi justru menghabiskan waktu atau menimbulkan kebingungan, guru dapat memilih metode lain yang lebih sederhana.
Perubahan menuju pembelajaran digital tidak dapat dibebankan hanya kepada guru.
Pemerintah perlu menyiapkan infrastruktur dan kebijakan. Sekolah perlu menyediakan kepemimpinan, waktu pelatihan, pemeliharaan perangkat, dan dukungan teknis.
Penyedia teknologi bertanggung jawab menghadirkan layanan yang mudah digunakan, aman, terjangkau, dan sesuai dengan kebutuhan pendidikan.
Sementara itu, guru menjadi pihak yang menghubungkan teknologi dengan pengalaman belajar siswa.
Ketika infrastruktur, kompetensi guru, materi berkualitas, keamanan, dan pendampingan berjalan bersama, pembelajaran digital dapat membantu mengurangi kesenjangan dan meningkatkan mutu pendidikan.
Transformasi yang berhasil bukan diukur dari banyaknya perangkat di dalam kelas. Keberhasilannya terlihat ketika teknologi membuat guru lebih mudah mengajar dan membantu siswa memahami pelajaran secara lebih bermakna.
Sumber informasi: Pendidikan.id dan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir