Berita
Rahman Abdullah

Ulama Maroko Berikan Ijazah Dalā’il al-Khayrāt kepada Umat Islam Indonesia di Momen Gema Selawat Kebangsaan 2026

Ulama Maroko Berikan Ijazah Dalā’il al-Khayrāt kepada Umat Islam Indonesia di Momen Gema Selawat Kebangsaan 2026

02 September 2026 | 21:19

Zawiyah tidak hanya berfungsi sebagai tempat zikir dan pengembangan ilmu keagamaan, tetapi dalam sejarah Maroko juga mempunyai peran sosial dan kebangsaan.

Salah satunya melalui fungsi ribāṭ, yaitu pusat pembinaan masyarakat sekaligus tempat pertahanan wilayah pesisir dari ancaman kekuatan asing.

Hal tersebut menunjukkan bahwa kecintaan kepada Rasulullah saw. dan tradisi selawat tidak harus menjauhkan umat dari kehidupan sosial maupun kebangsaan. Sebaliknya, nilai-nilai tersebut dapat menjadi sumber kekuatan moral dalam menjaga masyarakat dan tanah air.

Baca Juga: Pelatihan Vokasi Nasional Batch 5 Dibuka, Lulusan SMA/SMK Bisa Dapat Pelatihan Gratis Hingga Fasilitas Lengkap

Ijazah Kubra Memperkuat Sanad Keilmuan

Prof. Idris juga menjelaskan mengenai sanad pembacaan Dalā’il al-Khayrāt yang diterimanya melalui empat jalur utama.

Di antaranya terdapat jalur Syekh Ahmad al-Kasrawi, yang merupakan Muqaddam Dalā’il al-Khayrāt di Raudhah Syarifah, Madinah. Selain itu, terdapat jalur keluarga ulama al-Fasi yang diwariskan secara turun-temurun dari orang tua kepada anak serta jalur Syekh al-Wazzani.

Berdasarkan sanad tersebut, Prof. Idris kemudian memberikan ijazah secara terbuka kepada umat Islam Indonesia yang mendengarkan pesan atau rekamannya.

Ijazah itu diharapkan dapat menjadi dorongan bagi umat untuk semakin tekun mempelajari kitab Dalā’il al-Khayrāt, memperbanyak selawat kepada Rasulullah saw., serta memperkuat zikir kepada Allah Swt.

Namun, Muchlis menegaskan bahwa ijazah bukan merupakan persyaratan sah untuk membaca Dalā’il al-Khayrāt. Ijazah lebih merupakan bentuk penghormatan terhadap kesinambungan tradisi keilmuan, hubungan batin antara guru dan murid, serta ikhtiar mendapatkan keberkahan dari mata rantai ulama yang telah menjaga tradisi tersebut selama lintas generasi.

Dengan demikian, umat Islam tetap dapat membaca Dalā’il al-Khayrāt meskipun tidak memiliki ijazah. Adanya Ijazah Kubra dari Prof. Idris menjadi penguat nilai sanad, kebersamaan, dan keberkahan dalam pelaksanaan Gerakan Nasional Gema Selawat Kebangsaan.

Baca Juga: Nasib Guru Honorer Senior Menuju CPNS 2027 Masih Dinanti, Batas Usia Jadi Sorotan

Gema Selawat Kebangsaan Digelar di Seluruh Indonesia

Pada bagian akhir pesannya, Prof. Idris mengajak umat Islam Indonesia untuk memperbanyak zikir kepada Allah Swt. Beberapa zikir yang dianjurkan antara lain subḥānallāh, alḥamdulillāh, lā ilāha illallāh, Allāhu akbar, serta lā ḥawla wa lā quwwata illā billāh.

Ia juga mengingatkan umat agar terus memperbanyak selawat kepada Nabi Muhammad saw. sebagai bagian dari zikir sekaligus sarana mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Gerakan Nasional Gema Selawat Kebangsaan sendiri berlangsung pada 31 Agustus hingga 7 September 2026. Kegiatan tersebut melibatkan berbagai unsur, mulai dari pesantren, majelis taklim, penyuluh agama, lembaga keagamaan, hingga jajaran Kementerian Agama di seluruh Indonesia.

Mengusung tema “Selawat untuk Negeri, Teladan Nabi untuk Indonesia,” gerakan ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kecintaan umat kepada Rasulullah saw., tetapi juga mendorong masyarakat untuk menerapkan keteladanan Nabi dalam kehidupan sehari-hari.

Nilai-nilai tersebut diharapkan dapat diwujudkan dalam kehidupan bermasyarakat sekaligus memperkuat semangat persatuan dan kebangsaan.

Dengan demikian, Gema Selawat Kebangsaan tidak hanya menjadi rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad saw., tetapi juga menjadi sarana untuk menghidupkan tradisi keilmuan dan spiritual sekaligus menanamkan nilai akhlak, kepedulian sosial, dan kecintaan terhadap bangsa.***

LANJUT MEMBACA
Jelajahi Artikel
2 / 2
HALAMAN SEBELUMNYA Sebelumnya
Tags:
berita nasional Ulama Islam

Komentar Pengguna