Aktivitas Picture Storytelling menggunakan rangkaian gambar sebagai bahan untuk memahami atau menyusun cerita sederhana.
Guru dapat menyiapkan tiga atau empat gambar yang menunjukkan suatu kegiatan.
Sebagai contoh, gambar pertama menunjukkan seorang anak bangun pagi.
Gambar kedua menunjukkan anak tersebut sarapan.
Gambar ketiga menunjukkan anak berangkat ke sekolah.
Gambar keempat menunjukkan anak belajar di kelas.
Guru memperkenalkan kalimat sederhana berikut:
"I wake up."
Artinya: Saya bangun tidur.
"I have breakfast."
Artinya: Saya sarapan.
"I go to school."
Artinya: Saya pergi ke sekolah.
"I study in class."
Artinya: Saya belajar di kelas.
Kemudian, guru mengacak urutan gambar dan meminta siswa menyusunnya kembali.
Setelah itu, siswa dapat mencocokkan kalimat dengan gambar yang sesuai.
Untuk siswa yang sudah mempunyai kemampuan lebih tinggi, guru dapat meminta mereka menyampaikan cerita pendek menggunakan urutan yang telah disusun.
Aktivitas ini dapat dikembangkan menjadi latihan mendengarkan, membaca, berbicara, dan menulis sesuai kesiapan siswa.
Guru perlu menggunakan gambar yang jelas dan dekat dengan pengalaman anak agar siswa dapat memahami konteks tanpa harus menerjemahkan seluruh kalimat secara terpisah.
Tujuan pembelajaran: Mengembangkan pemahaman urutan peristiwa, kosakata kegiatan sehari-hari, dan kemampuan menyusun kalimat sederhana.
Alokasi waktu contoh: 10–15 menit.
Aktivitas terakhir adalah membuat kamus Bahasa Inggris sederhana menggunakan gambar dan kosakata yang telah dipelajari.
Kegiatan ini dapat dilakukan sebagai proyek kecil yang dikembangkan secara bertahap.
Guru meminta siswa menyiapkan beberapa lembar kertas, kemudian memilih satu tema.
Misalnya, tema benda di kelas, anggota tubuh, buah-buahan, atau hewan.
Setiap halaman memuat gambar, kata dalam Bahasa Inggris, dan maknanya dalam Bahasa Indonesia.
Contoh isi kamus:
Apple
Arti: Apel
Contoh kalimat: "This is an apple."
Cat
Arti: Kucing
Contoh kalimat: "The cat is sleeping."
Book
Arti: Buku
Contoh kalimat: "I have a book."
Untuk siswa yang baru mengenal Bahasa Inggris, cukup gunakan gambar dan kata.
Sementara itu, siswa yang sudah lebih siap dapat menambahkan kalimat pendek.
Guru dapat memberikan kesempatan siswa menunjukkan kamusnya kepada teman dan mengucapkan beberapa kosakata yang dipilih.
Hasil karya juga dapat disimpan sebagai bagian dari portofolio pembelajaran.
Namun, guru perlu memastikan proyek tidak membebani siswa dengan kewajiban membeli bahan khusus. Kertas bekas yang masih layak, gambar buatan sendiri, dan alat tulis sederhana dapat digunakan.
Tujuan pembelajaran: Memperkuat penguasaan kosakata, membaca kata sederhana, dan menulis sesuai kemampuan siswa.
Alokasi waktu contoh: 15–20 menit atau dilanjutkan pada pertemuan berikutnya.
Sepuluh aktivitas di atas tidak harus digunakan dalam satu pertemuan.
Guru dapat memilih dua atau tiga kegiatan yang sesuai dengan tujuan pembelajaran.
Sebagai contoh, berikut rancangan satu pertemuan untuk kelas III SD dengan tema "Things in the Classroom" atau benda-benda di kelas.
Tujuan pembelajaran: Siswa dapat mengenali dan menyebutkan beberapa benda di kelas serta merespons instruksi sederhana.
| Waktu | Kegiatan | Aktivitas |
|---|---|---|
| 5 menit | Pembukaan | Greeting Circle dan pengenalan tema |
| 8 menit | Pengenalan kosakata | Flashcard Matching |
| 10 menit | Latihan menyimak | Listen and Point |
| 7 menit | Praktik | Classroom Scavenger Hunt |
| 5 menit | Penutup | Refleksi dan pemeriksaan pemahaman |
Pada kegiatan penutup, guru dapat meminta siswa menunjukkan tiga benda dan menyebutkan namanya dalam Bahasa Inggris.
Contohnya:
"What is this?"
Artinya: Benda apakah ini?
Siswa menjawab:
"This is a book."
Artinya: Ini sebuah buku.
Guru juga dapat meminta siswa merespons instruksi sederhana seperti "Point to the chair".
Kegiatan ini memungkinkan guru mengamati kemampuan siswa memahami dan menggunakan kosakata dalam konteks.
Rancangan 35 menit tersebut merupakan contoh pembelajaran, bukan ketentuan alokasi waktu nasional yang wajib digunakan.
Pembelajaran Bahasa Inggris di sekolah dasar sebaiknya disertai asesmen yang sesuai dengan kemampuan dan perkembangan anak.
Guru tidak perlu selalu menggunakan tes tertulis yang panjang.
Pada tahap awal, penilaian dapat dilakukan melalui pengamatan ketika siswa mengikuti aktivitas.
Misalnya, dalam permainan Listen and Point, guru dapat melihat apakah siswa memahami kata yang diucapkan.
Dalam kegiatan Mini Role Play, guru dapat memperhatikan keberanian siswa mencoba berbicara dan kemampuan menggunakan ungkapan yang relevan.
Beberapa aspek yang dapat diamati meliputi:
Penilaian tersebut dapat dicatat menggunakan lembar observasi sederhana.
Namun, guru perlu menyesuaikan indikator dan kriteria ketercapaian dengan Capaian Pembelajaran yang berlaku.
Anak yang belum berani berbicara di depan kelas tidak seharusnya langsung dianggap tidak mampu berbahasa Inggris.
Guru dapat memberikan kesempatan latihan secara berpasangan atau kelompok kecil agar siswa memperoleh rasa percaya diri secara bertahap.
Tidak semua siswa mempunyai pengalaman belajar Bahasa Inggris sebelum masuk kelas III SD.
Sebagian mungkin sudah mengenal kosakata melalui televisi, permainan, atau kegiatan keluarga. Sementara itu, sebagian lainnya baru pertama kali mempelajari bahasa tersebut secara terstruktur.
Karena itu, guru perlu memperhatikan perbedaan pengalaman belajar.
Pertama, mulai dari kosakata yang dekat dengan kehidupan anak. Misalnya benda di kelas, warna, anggota tubuh, keluarga, dan kegiatan sehari-hari.
Kedua, gunakan contoh dan gerakan. Guru dapat menunjuk benda atau memperagakan tindakan agar siswa memahami makna tanpa bergantung sepenuhnya pada terjemahan.
Ketiga, berikan kesempatan pengulangan. Kosakata yang sama dapat digunakan dalam beberapa kegiatan berbeda agar siswa semakin familier.
Keempat, hindari mempermalukan siswa ketika salah. Guru dapat memberikan contoh pengucapan yang benar dengan pendekatan positif.
Kelima, sesuaikan aktivitas dengan kemampuan. Siswa yang masih pemula dapat menggunakan gambar, sedangkan siswa yang lebih siap dapat menyusun kalimat.
Keenam, gunakan media sederhana. Kartu gambar, papan tulis, benda di kelas, dan kertas dapat dimanfaatkan tanpa memerlukan perangkat digital.
Ketujuh, lakukan refleksi. Guru dapat menanyakan kosakata yang sudah dikuasai dan kegiatan yang paling membantu siswa belajar.
Kegiatan yang menyenangkan tetap perlu mempunyai tujuan pembelajaran yang jelas.
Permainan tidak hanya digunakan untuk mengisi waktu, tetapi membantu siswa mencapai kemampuan tertentu.
Teknologi dapat membantu pembelajaran Bahasa Inggris apabila digunakan sesuai kebutuhan.
Guru dapat memanfaatkan audio, video pembelajaran, aplikasi kosakata, atau Papan Interaktif Digital untuk menampilkan materi secara lebih menarik.
Sebagai contoh, guru memutar rekaman pengucapan kata, kemudian siswa diminta memilih gambar yang sesuai.
Guru juga dapat menampilkan gambar hewan melalui PID dan meminta siswa menyebutkan namanya dalam Bahasa Inggris.
Namun, teknologi bukan persyaratan utama agar pembelajaran berhasil.
Kegiatan seperti kartu kosakata, permainan gerak, percakapan berpasangan, dan cerita bergambar tetap dapat dilaksanakan tanpa perangkat elektronik.
Sekolah yang belum mempunyai fasilitas digital memadai dapat memprioritaskan bahan belajar yang mudah diperoleh.
Hal yang terpenting adalah kualitas interaksi antara guru, siswa, dan materi pembelajaran.
Persiapan pembelajaran Bahasa Inggris tidak hanya dilakukan dengan mengumpulkan aktivitas permainan.
Guru juga perlu mengembangkan kemampuan berbahasa dan memahami strategi mengajar yang sesuai bagi anak.
Kemendikdasmen telah menyediakan program PKGSD-MBI sebagai bentuk dukungan transisi menuju pembelajaran wajib Bahasa Inggris pada 2027/2028.
Pada 2026, pemerintah juga memperluas kesempatan pengembangan kompetensi melalui pelatihan mandiri pada platform Ruang Guru dan Tenaga Kependidikan dalam ekosistem Rumah Pendidikan.
Program tersebut dapat membantu guru memperkuat kemampuan menggunakan Bahasa Inggris sekaligus merancang kegiatan yang sesuai dengan karakteristik siswa.
Guru dapat memanfaatkan waktu persiapan untuk melatih pengucapan, menambah kosakata, mempelajari instruksi kelas, dan mencoba menyusun aktivitas pembelajaran.
Sebagai contoh, guru dapat berlatih menggunakan ungkapan:
"Open your book." — Buka bukumu.
"Listen carefully." — Dengarkan baik-baik.
"Work in pairs." — Bekerjalah berpasangan.
"Please repeat after me." — Silakan ulangi setelah saya.
"Well done!" — Bagus sekali!
Ungkapan sederhana tersebut dapat membantu guru mulai membangun kebiasaan menggunakan Bahasa Inggris dalam situasi belajar yang tepat.
Baca Juga: Bahasa Inggris Jadi Pelajaran Wajib di SD 2027/2028, Guru Bisa Ikuti Program Ini
Penerapan Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib pada tahun ajaran 2027/2028 memberikan kesempatan bagi sekolah untuk membangun pengalaman belajar bahasa asing yang lebih merata.
Namun, keberhasilan pembelajaran tidak semata-mata ditentukan oleh banyaknya kosakata yang dihafal atau seberapa cepat siswa mampu menyusun kalimat panjang.
Pada tahap awal, siswa membutuhkan pengalaman belajar yang membantu mereka memahami makna, mendengarkan bunyi bahasa, mencoba berbicara, dan berinteraksi secara percaya diri.
Melalui kegiatan salam, permainan gerak, kartu kosakata, pencarian benda, latihan menyimak, menggambar, irama, dialog, cerita bergambar, dan pembuatan kamus sederhana, guru dapat mengenalkan Bahasa Inggris melalui pengalaman yang dekat dengan dunia anak.
Kegiatan tersebut dapat disesuaikan dengan usia, kebutuhan, fasilitas, serta capaian pembelajaran yang berlaku.
Bagi sekolah yang masih dalam tahap persiapan, aktivitas sederhana dapat menjadi bahan latihan atau pengembangan perangkat pembelajaran sesuai kesiapan satuan pendidikan.
Dengan persiapan yang terarah, guru dapat membangun suasana belajar Bahasa Inggris yang komunikatif, inklusif, dan menyenangkan tanpa membuat siswa takut melakukan kesalahan.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir