Kondisi geologis ini menuntut masyarakat dan pemerintah meningkatkan kesiapsiagaan melalui pemantauan aktivitas gunung api, pembangunan sesuai standar kebencanaan, edukasi, dan latihan evakuasi.
Soal 8. Pendekatan Penelitian Geografi untuk Mengkaji Urban Sprawl
Fenomena urban sprawl atau perembetan kota terjadi ketika kawasan perkotaan meluas ke daerah pinggiran, ditandai dengan perubahan lahan pertanian menjadi kawasan permukiman.
Seorang peneliti ingin menganalisis fenomena tersebut menggunakan pendekatan penelitian geografi.
Tentukan apakah langkah berikut Tepat atau Tidak Tepat!
Pernyataan
1. Merumuskan pertanyaan penelitian mengenai dampak urban sprawl terhadap kondisi sosial ekonomi petani lokal ( Tepat/Tidak Tepat)
2. Mengumpulkan data dengan mewawancarai penduduk di pusat kota mengenai kemacetan, tanpa mengkaji perubahan lahan di wilayah pinggiran ( Tepat/Tidak Tepat)
3. Menganalisis citra satelit dari beberapa tahun berbeda untuk mengidentifikasi perubahan penggunaan lahan ( Tepat/Tidak Tepat)
Kunci jawaban:
1. Tepat
2. Tidak Tepat
3. Tepat
Pembahasan:
Penelitian geografi perlu menghubungkan pertanyaan penelitian, metode pengumpulan data, dan tujuan analisis.
Pernyataan 1 – Tepat. Pertanyaan mengenai dampak urban sprawl terhadap petani lokal relevan karena perubahan lahan dapat memengaruhi mata pencaharian, harga tanah, dan struktur sosial ekonomi.
Pernyataan 2 – Tidak Tepat. Wawancara tentang kemacetan di pusat kota dapat menjadi data pendukung, tetapi tidak cukup jika penelitian berfokus pada perubahan penggunaan lahan di pinggiran. Data perlu dikumpulkan dari lokasi dan kelompok yang relevan dengan masalah penelitian.
Pernyataan 3 – Tepat. Citra satelit multitemporal memungkinkan peneliti membandingkan kondisi wilayah dari tahun ke tahun dan memetakan perubahan lahan pertanian menjadi permukiman.
Penelitian yang lebih komprehensif dapat menggabungkan analisis citra satelit, peta tata ruang, wawancara dengan petani, serta data kependudukan.
Soal 9. Faktor Penyebab Kekeringan di Nusa Tenggara Timur
Sebuah wilayah di Nusa Tenggara Timur mengalami kekeringan parah. Kondisi tersebut tidak hanya dipengaruhi faktor alam, tetapi juga dapat diperburuk oleh aktivitas manusia.
Manakah faktor yang dapat meningkatkan risiko kekeringan di wilayah tersebut? Pilih lebih dari satu jawaban yang benar.
A. Curah hujan tahunan yang secara alami rendah.
B. Penggundulan hutan di daerah tangkapan air untuk perluasan lahan pertanian.
C. Tingkat penguapan yang tinggi akibat suhu udara panas.
D. Eksploitasi air tanah secara berlebihan untuk irigasi tanaman komersial.
E. Pengaruh angin muson timur yang cenderung membawa kondisi lebih kering di sebagian besar wilayah Indonesia.
Kunci jawaban: A, B, C, D, dan E
Pembahasan:
Kekeringan dapat muncul akibat kombinasi kondisi iklim, karakteristik wilayah, dan aktivitas manusia.
A – Benar.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir