Berita
Hilmi An Naufal

1.378 Sekolah Terdampak Gempa NTT, Pembelajaran Darurat Diterapkan

1.378 Sekolah Terdampak Gempa NTT, Pembelajaran Darurat Diterapkan

22 Agustus 2026 | 19:51

Keboncinta.com – Labuan Bajo. Dampak gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 di Nusa Tenggara Timur mulai terlihat semakin luas pada sektor pendidikan. Pembaruan pemerintah hingga Jumat, 21 Agustus 2026, mencatat sebanyak 1.378 satuan pendidikan terdampak bencana tersebut.

Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana menunjukkan gempa berdampak terhadap kegiatan belajar 177.678 siswa dan aktivitas mengajar 21.166 guru. Sebanyak 5.521 ruang kelas juga dilaporkan mengalami kerusakan dengan tingkat yang masih terus diverifikasi.

Dari keseluruhan sekolah terdampak tersebut, 502 sekolah dilaporkan mengalami kerusakan berat. Namun, istilah “sekolah terdampak” tidak berarti seluruh bangunannya hancur atau rusak berat. Kategori tersebut juga mencakup sekolah yang kegiatan belajarnya terganggu, ruang kelasnya tidak aman digunakan, atau warga sekolahnya harus mengungsi.

Besarnya kerusakan membuat proses pembelajaran belum dapat berjalan normal. Pemerintah mencatat 923 sekolah masih meliburkan siswa untuk sementara, sementara 171 sekolah sudah menjalankan pembelajaran jarak jauh. Sebanyak 35 sekolah lainnya melaksanakan kegiatan belajar di ruang darurat.

Keselamatan Siswa dan Guru Jadi Prioritas

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Atip Latipulhayat mengatakan pembelajaran untuk sekolah terdampak disesuaikan dengan kondisi masing-masing wilayah. Kegiatan belajar dapat dilaksanakan dari rumah, tempat pengungsian, atau ruang darurat yang dinilai aman.

Penyesuaian tersebut diperlukan karena ribuan gempa susulan masih terjadi setelah gempa utama. Berdasarkan pembaruan BNPB hingga 21 Agustus 2026 pukul 16.00 WIB, jumlah gempa susulan mencapai 4.258 kejadian dengan magnitudo terbesar 6,2.

Tingginya aktivitas gempa susulan membuat bangunan sekolah yang mengalami retak atau kerusakan tidak boleh langsung digunakan. Pemeriksaan kondisi struktur diperlukan sebelum siswa dan guru diperbolehkan kembali beraktivitas di dalam kelas.

Kebijakan tersebut sejalan dengan imbauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika agar masyarakat menghindari bangunan yang retak atau rusak. Masyarakat juga diminta tidak mudah mempercayai informasi gempa yang tidak berasal dari kanal resmi.

Gempa utama terjadi pada Sabtu, 15 Agustus 2026, sekitar pukul 04.58 WIB. Pusat gempa berada di laut, sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, dengan kedalaman 15 kilometer.

BMKG sempat mengeluarkan peringatan dini tsunami setelah gempa terjadi. Peringatan tersebut kemudian dinyatakan berakhir pada pukul 07.30 WIB pada hari yang sama. Meski peringatan tsunami telah berakhir, kewaspadaan terhadap gempa susulan tetap diperlukan.

Pembelajaran Darurat Lebih Fleksibel

Kemendikdasmen telah menerbitkan panduan pembelajaran pada masa darurat untuk digunakan sekolah terdampak. Panduan tersebut memberikan fleksibilitas dalam menentukan tempat, metode, waktu, dan materi pembelajaran.

Penerapan pembelajaran darurat bukan berarti kegiatan pendidikan dihentikan sepenuhnya. Sekolah dapat memprioritaskan materi yang paling penting serta menyesuaikan beban belajar dengan kondisi siswa, guru, dan lingkungan pengungsian.

Sekolah juga tidak harus memaksakan pembelajaran tatap muka apabila bangunan belum dinyatakan aman. Pilihan pembelajaran dari rumah, pemberian tugas sederhana, pendampingan dalam kelompok kecil, maupun penggunaan ruang sementara dapat diterapkan sesuai fasilitas yang tersedia.

Selain kegiatan akademik, pendampingan psikososial menjadi bagian penting dalam penanganan pendidikan pascabencana. Anak-anak yang kehilangan rumah, anggota keluarga, atau harus tinggal di pengungsian berpotensi mengalami kecemasan dan trauma.

Karena itu, guru perlu menghindari tuntutan belajar yang berlebihan. Kegiatan rekreasional, permainan edukatif, percakapan yang menenangkan, dan pembentukan kembali rutinitas dapat membantu anak merasa lebih aman.

Bantuan Sekolah Mulai Disalurkan

Pemerintah melalui Kemendikdasmen bersama BNPB dan pemerintah daerah mulai menyalurkan bantuan ke wilayah terdampak. Bantuan tersebut antara lain berupa tenda untuk ruang kelas darurat, perlengkapan sekolah, paket kebutuhan anak, dan perlengkapan keluarga.

Distribusi bantuan diprioritaskan untuk sekolah dengan kerusakan berat serta wilayah yang belum memungkinkan menjalankan pembelajaran di bangunan permanen.

Tags:
Berita guru

Komentar Pengguna