Gaya Hidup
Al Fina

5 Fakta Museum Satria Mandala yang Jarang Diketahui, Ternyata Pernah Jadi Rumah Istri Sukarno

5 Fakta Museum Satria Mandala yang Jarang Diketahui, Ternyata Pernah Jadi Rumah Istri Sukarno

20 Oktober 2026 | 16:08

KebonCinta.com - Jakarta memiliki sejumlah destinasi wisata sejarah yang menarik untuk dikunjungi, salah satunya Museum Satria Mandala. Museum militer ini menyimpan berbagai koleksi yang berkaitan dengan perjalanan perjuangan Tentara Nasional Indonesia (TNI), mulai dari persenjataan hingga benda bersejarah yang menjadi saksi peristiwa penting di Indonesia.

Namun, ada cerita menarik di balik bangunan museum tersebut. Sebelum difungsikan sebagai museum, kawasan ini pernah menjadi rumah Presiden Sukarno bersama istrinya, Ratna Sari Dewi Sukarno, yang berasal dari Jepang dan memiliki nama asli Naoko Nemoto.

Museum Satria Mandala berlokasi di Jalan Gatot Subroto No. 14, Kuningan Barat, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan. Selain melihat koleksi militer, pengunjung juga bisa mempelajari kisah bangunan dan benda-benda bersejarah yang tersimpan di dalamnya.

Lantas, apa saja fakta menarik Museum Satria Mandala yang membuatnya layak masuk daftar wisata sejarah di Jakarta? Berikut ulasannya.

Baca Juga: Mulai 2027 Status Guru Berubah? Ini Nasib PPPK Paruh Waktu dan Guru Non-ASN Setelah 31 Desember 2026 

1. Dulunya Merupakan Rumah Ratna Sari Dewi Sukarno

Salah satu fakta paling menarik dari Museum Satria Mandala adalah sejarah bangunannya yang dahulu digunakan sebagai tempat tinggal Presiden Sukarno dan istrinya, Ratna Sari Dewi.

Kasub Promosi Museum Satria Mandala, Yulianto Setiawan, menjelaskan bahwa kawasan tersebut sebelumnya merupakan rumah dengan luas sekitar 5,6 hektare yang ditempati Sukarno bersama Dewi Sukarno.

Perubahan fungsi bangunan menjadi museum berawal dari gagasan Prof. Dr. Nugroho Notosusanto, yang saat itu menjabat sebagai Kepala Pusat Sejarah TNI. Kawasan tersebut kemudian dikembangkan menjadi museum untuk mengenang perjalanan dan perjuangan TNI.

Museum Satria Mandala akhirnya diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 5 Oktober 1972. Sejak saat itu, bangunan yang sebelumnya memiliki fungsi sebagai tempat tinggal tersebut menjadi salah satu lokasi penting untuk mempelajari sejarah militer Indonesia.

2. Nama Satria Mandala Memiliki Makna Khusus

Nama Museum Satria Mandala bukan sekadar penamaan sebuah tempat wisata. Menurut penjelasan Yulianto Setiawan, istilah tersebut berasal dari bahasa Sanskerta.

Kata satria berarti pahlawan, sedangkan mandala merujuk pada lingkungan atau kawasan. Jika digabungkan, Satria Mandala dapat dimaknai sebagai lingkungan para pahlawan.

Nama tersebut sejalan dengan tujuan museum, yakni mengenang perjuangan para prajurit dan tokoh yang berperan dalam perjalanan sejarah militer Indonesia.

Melalui koleksi yang dipamerkan, pengunjung dapat mengenal lebih jauh berbagai peristiwa perjuangan serta kontribusi TNI dalam mempertahankan kemerdekaan dan menjaga kedaulatan negara.

3. Ruang Senjata Dulunya Merupakan Kolam Renang Indoor

Pengunjung yang melihat ruang senjata di Museum Satria Mandala mungkin tidak menyangka bahwa ruangan tersebut dahulu memiliki fungsi berbeda. Sebelum menjadi tempat penyimpanan dan pameran persenjataan, area itu merupakan kolam renang dalam ruangan yang digunakan oleh Dewi Sukarno.

Kolam renang tersebut kemudian ditimbun dan dialihfungsikan menjadi ruang senjata. Meski mengalami perubahan, sejumlah bagian bangunan masih dipertahankan untuk menjaga jejak sejarahnya.

Salah satu bagian yang tetap terlihat adalah glass block atau blok kaca yang dahulu membantu memasukkan cahaya alami ke area kolam renang.

Keberadaan elemen bangunan tersebut memberikan gambaran mengenai fungsi awal ruangan sekaligus memperlihatkan bagaimana sebuah bangunan bersejarah dapat mengalami perubahan tanpa sepenuhnya kehilangan karakter masa lalunya.

4. Menyimpan Tandu Asli Jenderal Sudirman dan Pecahan Kaca Bersejarah

Museum Satria Mandala juga menyimpan benda-benda yang berkaitan langsung dengan peristiwa penting dalam sejarah perjuangan Indonesia. Salah satunya adalah tandu asli yang pernah digunakan Jenderal Sudirman ketika menjalani perang gerilya pada masa Agresi Militer Belanda II, sekitar 1948–1949.

Tandu tersebut kini disimpan di Ruang Dharmapertiwi Jayasakti.

LANJUT MEMBACA
Jelajahi Artikel
1 / 2
LANJUTKAN MEMBACA Selanjutnya
Tags:
museum satria mandala destinasi wisata

Komentar Pengguna