Selain tandu, museum juga memiliki pecahan kaca jendela dari Gedung Bank Internatio di kawasan Jembatan Merah, Surabaya. Kaca tersebut berkaitan dengan peristiwa pertempuran yang terjadi pada masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
Menurut penjelasan pihak museum, warna kemerahan pada kaca bukan berasal dari darah, melainkan bekas terbakar akibat panasnya peluru yang mengenai kaca tersebut.
Koleksi ini memperlihatkan bahwa benda yang tampak sederhana sekalipun dapat menyimpan cerita besar mengenai konflik, perjuangan, dan pengorbanan dalam sejarah bangsa.
Museum Satria Mandala juga mengalami pembaruan, termasuk pada penamaan beberapa ruang pamer setelah proses revitalisasi. Penyesuaian tersebut dilakukan agar penyajian koleksi dan pengalaman pengunjung lebih sesuai dengan perkembangan museum.
Salah satu contohnya adalah Ruang Panji-Panji yang kini dikenal sebagai Ruang Merah Putih. Sementara itu, Diorama 1 berganti nama menjadi Ruang Jejak Juang.
Pembaruan juga dilakukan pada ruang-ruang lain, termasuk Ruang Dharmapertiwi Jayasakti dan Ruang Ksatria Mahaputra.
Perubahan tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan pengalaman berkunjung yang lebih menarik sekaligus mempertahankan fungsi utama museum sebagai tempat edukasi sejarah. Dengan begitu, pengunjung tidak hanya melihat benda koleksi, tetapi juga dapat memahami cerita dan konteks di baliknya.
Bagi wisatawan yang ingin berkunjung, Museum Satria Mandala dapat menjadi pilihan untuk mengisi waktu luang sambil mempelajari sejarah perjuangan TNI.
Berikut informasi kunjungan berdasarkan referensi yang tersedia:
Sebelum berkunjung, wisatawan disarankan memeriksa kembali informasi harga tiket dan jam operasional melalui kanal resmi museum untuk memastikan tidak ada perubahan.
Museum Satria Mandala menawarkan pengalaman wisata yang lebih dari sekadar melihat koleksi militer. Kisah bangunan yang pernah menjadi rumah Dewi Sukarno, perubahan fungsi kolam renang menjadi ruang senjata, hingga benda-benda peninggalan perjuangan menjadikan museum ini destinasi menarik bagi siapa pun yang ingin mengenal sejarah Indonesia lebih dekat.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir