Kesehatan
Rahman Abdullah

5 Jenis Makanan yang Bisa Berdampak Buruk bagi Otak, Batasi Konsumsinya Mulai Sekarang

5 Jenis Makanan yang Bisa Berdampak Buruk bagi Otak, Batasi Konsumsinya Mulai Sekarang

18 Oktober 2026 | 18:48

KebonCinta.com-- Menjaga kesehatan otak tidak hanya berkaitan dengan aktivitas fisik dan kualitas tidur, tetapi juga dipengaruhi oleh makanan yang dikonsumsi setiap hari. Meski ukurannya relatif kecil dibandingkan organ tubuh lainnya, otak berperan penting dalam mengatur daya ingat, konsentrasi, emosi, hingga berbagai fungsi tubuh.

Pola makan yang kurang sehat dapat memengaruhi metabolisme tubuh dan keseimbangan bakteri di usus. Kondisi tersebut juga menjadi perhatian para ahli karena kesehatan usus memiliki hubungan dengan proses peradangan dan fungsi otak.

Sejumlah jenis makanan perlu dibatasi apabila dikonsumsi terlalu sering atau dalam jumlah berlebihan. Kebiasaan makan yang lebih seimbang dapat menjadi salah satu langkah untuk mendukung kesehatan kognitif seiring bertambahnya usia.

Berikut lima jenis makanan dan minuman yang patut diperhatikan demi menjaga fungsi otak tetap optimal.

Baca Juga: Ingin Otak Tetap Tajam di Usia Lanjut? Olahraga Raket Bisa Jadi Pilihan 

1. Makanan dengan Gula Tambahan Tinggi

Makanan dan minuman manis memang mudah ditemukan dalam menu sehari-hari, mulai dari minuman bersoda, kue, hingga berbagai produk olahan. Namun, asupan gula tambahan yang berlebihan dapat membawa dampak kurang baik bagi kesehatan.

Otak membutuhkan glukosa sebagai sumber energi. Meski demikian, kebutuhan tersebut bukan berarti seseorang perlu mengonsumsi gula tambahan dalam jumlah besar.

Konsumsi gula berlebihan dikaitkan dengan gangguan kemampuan belajar dan daya ingat. Salah satu bagian otak yang menjadi perhatian adalah hipokampus, wilayah yang berperan penting dalam pembentukan dan penyimpanan memori.

Untuk mengurangi asupan gula, biasakan memeriksa kandungan gula pada label produk, membatasi minuman manis, serta memilih buah utuh sebagai alternatif camilan.

2. Gorengan yang Dikonsumsi Terlalu Sering

Kentang goreng, ayam krispi, dan berbagai makanan berbalut tepung yang digoreng memang menggugah selera. Akan tetapi, terlalu sering mengonsumsi makanan jenis ini dapat membuat pola makan menjadi kurang seimbang.

Sejumlah penelitian menemukan hubungan antara konsumsi makanan yang digoreng dalam jumlah tinggi dengan penurunan fungsi kognitif serta risiko depresi yang lebih besar. Meski demikian, hubungan tersebut tidak serta-merta membuktikan bahwa gorengan secara langsung menyebabkan gangguan otak.

Langkah yang dapat dilakukan adalah mengurangi frekuensi konsumsi gorengan dan lebih sering memilih makanan yang diolah dengan cara direbus, dikukus, atau dipanggang.

Dengan begitu, asupan harian bisa lebih bervariasi dan tidak terlalu bergantung pada makanan yang digoreng.

Baca Juga: Contoh RPP SKI Kelas 11 Semester 2 MA, Lengkap dengan Tujuan Pembelajaran dan Langkah Kegiatan 

3. Karbohidrat dengan Indeks Glikemik Tinggi

Tidak semua sumber karbohidrat memberikan pengaruh yang sama terhadap kadar gula darah. Karbohidrat dengan indeks glikemik tinggi, seperti roti putih dan beberapa produk olahan kentang, dapat meningkatkan gula darah lebih cepat dibandingkan sejumlah sumber karbohidrat lainnya.

Nasi putih juga dapat memiliki respons glikemik yang relatif tinggi, bergantung pada jenis beras, cara pengolahan, dan porsi yang dikonsumsi.

Perubahan kadar gula darah merupakan salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam menjaga kesehatan metabolisme. Karena itu, memilih sumber karbohidrat yang lebih beragam dapat membantu memperbaiki kualitas pola makan.

Gandum utuh, sayuran, dan buah-buahan segar bisa menjadi pilihan untuk melengkapi menu harian. Konsumsi serat yang cukup juga mendukung kesehatan pencernaan dan keseimbangan asupan nutrisi.

4. Alkohol dalam Jumlah Berlebihan

Konsumsi alkohol berlebihan dapat memberikan dampak serius terhadap kesehatan, termasuk fungsi dan struktur otak. Dalam jangka panjang, kebiasaan tersebut dikaitkan dengan meningkatnya risiko gangguan kognitif dan demensia.

Dampaknya dapat berkaitan dengan berbagai faktor, seperti jumlah alkohol yang dikonsumsi, frekuensi minum, serta kondisi kesehatan seseorang.

Oleh sebab itu, membatasi konsumsi alkohol merupakan salah satu langkah untuk mengurangi risiko yang berkaitan dengan penggunaannya. Perlu diingat, angka batas konsumsi tertentu bukan jaminan bahwa alkohol aman bagi semua orang. Tidak mengonsumsi alkohol merupakan pilihan yang paling rendah risikonya terkait alkohol.

Bagi orang yang ingin menjaga kesehatan otak hingga usia lanjut, kebiasaan hidup sehat secara menyeluruh tetap menjadi hal utama.

5.

LANJUT MEMBACA
Jelajahi Artikel
1 / 2
LANJUTKAN MEMBACA Selanjutnya
Tags:
Makanan merusak otak cara menjaga daya ingat Kesehatan Otak

Komentar Pengguna