Berita
Hilmi An Naufal

50 SMK di DIY Gandeng Industri, Siswa Dapat Proyek dan PKL Terstruktur

50 SMK di DIY Gandeng Industri, Siswa Dapat Proyek dan PKL Terstruktur

22 Agustus 2026 | 20:13

Keboncinta.com – Sleman. Sebanyak 50 Sekolah Menengah Kejuruan di Daerah Istimewa Yogyakarta memperkuat kerja sama dengan sejumlah perusahaan untuk meningkatkan relevansi pembelajaran dengan kebutuhan dunia kerja.

Kolaborasi tersebut ditandai dengan penandatanganan perjanjian kerja sama antara Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, perwakilan 50 SMK, serta perusahaan mitra. Penandatanganan dilaksanakan di Sleman, Yogyakarta, pada Rabu, 19 Agustus 2026.

Perusahaan yang terlibat dalam kerja sama tersebut meliputi PT Handal Yesindo Sejahtera, PT Agate International, PT Trakindo Utama, dan PT Erajaya Swasembada. Perwakilan kepala sekolah atau pejabat dari masing-masing SMK turut menandatangani kesepakatan sesuai mitra industrinya.

Kerja sama tidak hanya diarahkan pada penempatan siswa dalam program Praktik Kerja Lapangan atau PKL. Kemitraan juga mencakup penyelarasan kurikulum, keterlibatan praktisi industri dalam pembelajaran, pengembangan kelas industri, serta pemberian proyek yang dapat dikerjakan langsung oleh siswa.

Dengan skema tersebut, siswa diharapkan memperoleh pengalaman yang lebih dekat dengan situasi kerja sebenarnya. Materi yang dipelajari di sekolah juga dapat diperbarui mengikuti perkembangan teknologi, peralatan, proses produksi, dan kebutuhan kompetensi perusahaan.

PKL Diharapkan Lebih Terstruktur

Direktur Sekolah Menengah Kejuruan Arie Wibowo Khurniawan mengatakan PKL ke depan perlu dirancang secara lebih terstruktur. Perusahaan dapat menyiapkan proyek atau tugas yang sesuai dengan kompetensi keahlian siswa selama menjalani kegiatan di industri.

Pendekatan tersebut dinilai lebih bermanfaat dibandingkan PKL yang sekadar menempatkan siswa di lingkungan perusahaan tanpa target kompetensi yang jelas. Setiap kegiatan perlu memiliki tujuan, pembimbing, materi, serta hasil yang dapat dinilai oleh sekolah dan industri.

Penyusunan PKL terstruktur juga dapat membantu mencegah ketidaksesuaian tugas. Siswa jurusan tertentu seharusnya memperoleh pekerjaan dan pengalaman yang berkaitan dengan bidang yang dipelajarinya, bukan hanya menjalankan tugas umum yang tidak meningkatkan kompetensi.

Melalui proyek industri, siswa dapat belajar mengelola pekerjaan dari tahap perencanaan hingga penyelesaian. Mereka juga memperoleh kesempatan memahami standar keselamatan, ketepatan waktu, komunikasi, dokumentasi, dan pengendalian kualitas.

Namun, penandatanganan kerja sama tidak otomatis berarti seluruh siswa langsung memperoleh tempat PKL atau pekerjaan. Pelaksanaannya masih bergantung pada program yang disusun setiap SMK dan mitra, kapasitas perusahaan, kesiapan siswa, serta kesesuaian bidang keahlian.

Praktisi Industri Masuk ke Ruang Kelas

Salah satu bagian penting dari kolaborasi adalah keterlibatan praktisi industri dalam pembelajaran. Praktisi dapat berbagi pengetahuan mengenai teknologi, budaya kerja, standar operasional, serta perkembangan kebutuhan tenaga kerja.

Kehadiran praktisi di sekolah diharapkan melengkapi pembelajaran yang diberikan guru. Siswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga mengetahui bagaimana kompetensi tersebut diterapkan dalam pekerjaan nyata.

Selain mendatangkan praktisi, sekolah dan perusahaan dapat mengembangkan kelas industri. Program ini biasanya menggunakan kurikulum yang telah diselaraskan, praktik dengan peralatan yang relevan, serta evaluasi kompetensi berdasarkan standar industri.

Penyelarasan kurikulum diperlukan karena perubahan teknologi berlangsung cepat. Kompetensi yang dibutuhkan perusahaan saat siswa mulai masuk SMK dapat berubah ketika mereka lulus beberapa tahun kemudian.

Sekolah perlu memperbarui materi tanpa mengabaikan kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa. Industri dapat memberikan masukan, sedangkan guru tetap memiliki peran dalam menyusun proses pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan pendidikan.

Guru Juga Memerlukan Pengalaman Industri

Kolaborasi tersebut tidak hanya menyasar siswa. Program magang bagi guru turut didorong agar pendidik memahami perubahan teknologi, proses kerja, dan standar kompetensi terbaru.

Pengalaman langsung di industri dapat membantu guru memperbarui materi praktik dan contoh kasus yang digunakan di kelas. Guru juga dapat mengetahui kesenjangan antara peralatan sekolah dan teknologi yang digunakan perusahaan.

Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Tatang Muttaqin menilai perkembangan industri menuntut ketersediaan guru yang mampu beradaptasi. Pembelajaran vokasi harus memberikan pengalaman yang relevan sekaligus memperkuat kesiapan lulusan menghadapi dunia kerja.

Guru tetap menjadi pengelola utama pembelajaran. Masukan dari perusahaan perlu diterjemahkan menjadi materi yang sesuai dengan tingkat perkembangan siswa, capaian pembelajaran, serta kondisi sarana sekolah.

Bukan Hanya Kemampuan Teknis

Kemendikdasmen menegaskan bahwa siswa SMK tidak cukup hanya menguasai kemampuan teknis atau hard skills. Dunia kerja juga membutuhkan lulusan yang mampu berkomunikasi, bekerja sama, berpikir analitis, dan menyelesaikan masalah.

Ketahanan menghadapi tekanan, fleksibilitas, kedisiplinan, serta kemampuan beradaptasi dengan perubahan juga menjadi bagian penting dari kesiapan kerja.

Keterampilan tersebut dapat dilatih melalui proyek kelompok, presentasi, pemecahan kasus, serta interaksi langsung dengan pembimbing industri.

Tags:
Berita guru

Komentar Pengguna