KebonCinta.com-- Berjalan, berlari, mengangkat barang, hingga sekadar duduk dan berdiri merupakan aktivitas yang melibatkan kerja sama tulang, otot, dan sendi. Ketiganya membentuk sistem gerak manusia yang berperan penting dalam menunjang berbagai kegiatan sehari-hari.
Namun, sistem gerak tidak selalu berada dalam kondisi prima. Seiring bertambahnya usia, kurangnya aktivitas fisik, cedera, hingga gangguan kesehatan tertentu, tulang, otot, dan sendi dapat mengalami masalah. Dampaknya pun beragam, mulai dari rasa nyeri dan kekakuan hingga kesulitan melakukan aktivitas secara normal.
Beberapa gangguan sistem gerak dapat berkembang secara perlahan tanpa disadari. Karena itu, mengenali jenis penyakit, faktor penyebab, dan langkah pencegahannya menjadi hal penting agar kesehatan tubuh tetap terjaga.
Berikut delapan penyakit dan gangguan sistem gerak manusia yang perlu diketahui.
Baca Juga: 7 Fakta Unik Buah Matoa dari Papua, Buah Tropis dengan Rasa yang Khas
Osteoporosis merupakan kondisi ketika kepadatan dan kualitas tulang menurun sehingga tulang lebih mudah mengalami patah. Penyakit ini sering dikaitkan dengan proses penuaan dan perubahan hormon setelah menopause, tetapi pria maupun orang yang lebih muda juga dapat mengalaminya.
Salah satu tantangan osteoporosis adalah penyakit ini kerap tidak menimbulkan gejala pada tahap awal. Sebagian orang baru mengetahui kondisinya setelah mengalami patah tulang akibat benturan ringan atau terjatuh.
Risikonya dapat dikurangi dengan memenuhi kebutuhan kalsium dan vitamin D, melakukan latihan menahan beban sesuai kemampuan, menghindari rokok, serta membatasi konsumsi alkohol. Orang yang memiliki faktor risiko tertentu sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk mengetahui apakah pemeriksaan kepadatan tulang diperlukan.
Kifosis adalah kondisi ketika tulang belakang bagian atas melengkung ke depan secara berlebihan sehingga punggung tampak membulat atau membungkuk.
Gangguan ini dapat berkaitan dengan perubahan tulang akibat penuaan, osteoporosis, kelainan perkembangan tulang belakang, atau kondisi tertentu lainnya. Pada sebagian orang, kifosis ringan tidak menimbulkan keluhan berarti. Namun, kondisi yang lebih berat dapat menyebabkan nyeri, kekakuan, bahkan gangguan pernapasan.
Menjaga kekuatan otot punggung dan memperhatikan postur tubuh dapat membantu mendukung kesehatan tulang belakang. Meski demikian, tidak semua kifosis disebabkan oleh kebiasaan membungkuk, sehingga penyebabnya perlu dinilai secara tepat.
Lordosis merupakan lengkungan alami tulang belakang bagian bawah yang menjadi berlebihan pada kondisi tertentu. Perubahan ini bisa membuat perut terlihat lebih menonjol dan bokong tampak terdorong ke belakang.
Penyebabnya beragam, mulai dari perubahan bentuk tulang belakang, kondisi tertentu sejak lahir, hingga gangguan yang memengaruhi otot dan tulang. Perubahan berat badan juga dapat memengaruhi postur, tetapi bukan satu-satunya penyebab.
Jika lengkungan disertai rasa sakit, keterbatasan gerak, atau keluhan yang terus memburuk, pemeriksaan medis diperlukan untuk mengetahui penyebabnya. Penanganan dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing orang.
Baca Juga: Kopi Robusta vs Arabika, Mana yang Lebih Baik? Kenali Perbedaan Rasa, Kafein, dan Manfaatnya
Berbeda dari kifosis dan lordosis yang berkaitan dengan lengkungan ke arah depan atau belakang, skoliosis ditandai oleh kelengkungan tulang belakang ke samping yang dapat disertai rotasi tulang.
Kondisi ini sering diketahui sejak masa pertumbuhan. Pada banyak kasus, penyebabnya tidak diketahui secara pasti.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir