KebonCinta.com – Teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kembali menunjukkan potensinya di bidang kesehatan. Peneliti di China mengembangkan sistem AI yang mampu menganalisis hasil CT scan untuk membantu menemukan tanda-tanda kanker lambung, termasuk pada tahap awal.
Teknologi tersebut dikenal sebagai DAMO GRAPE, sebuah model AI yang dikembangkan melalui kerja sama Zhejiang Cancer Hospital dengan DAMO Academy milik Alibaba. Penelitian mengenai teknologi ini diterbitkan di jurnal Nature Medicine pada 24 Juni 2025.
Yang membuat penelitian ini menarik adalah kemampuan model tersebut dalam menganalisis CT scan tanpa kontras atau noncontrast CT. Pemeriksaan seperti ini lebih umum digunakan dalam berbagai kebutuhan medis sehingga berpotensi dimanfaatkan sebagai pemeriksaan tambahan untuk menemukan pasien yang perlu menjalani pemeriksaan lebih lanjut.
Selama ini, pemeriksaan kanker lambung umumnya sangat berkaitan dengan endoskopi. Pemeriksaan tersebut memungkinkan dokter melihat kondisi bagian dalam lambung secara langsung dan mengambil sampel jaringan apabila ditemukan kelainan.
Masalahnya, tidak semua orang bersedia menjalani prosedur tersebut. Selain bersifat invasif, ketersediaan dan kualitas pemeriksaan endoskopi juga dapat berbeda antara satu fasilitas kesehatan dengan fasilitas lainnya.
Tim peneliti kemudian mencoba memanfaatkan CT scan yang sudah digunakan dalam pemeriksaan medis rutin.
Tantangannya tidak sederhana. Lambung merupakan organ yang bentuk dan isinya dapat berubah, sementara tanda kanker pada tahap awal bisa sangat kecil dan berada pada lapisan mukosa.
Melalui deep learning, DAMO GRAPE dilatih untuk mengenali pola tertentu pada citra CT dan memberikan penilaian terhadap kemungkinan adanya kanker lambung.
Penelitian tersebut menggunakan data dari berbagai pusat kesehatan di China.
Pada tahap pengembangan, model GRAPE dilatih menggunakan 3.470 kasus kanker lambung dan 3.250 kasus nonkanker dari dua pusat. Model kemudian diuji melalui beberapa tahap validasi, termasuk data eksternal dari 16 pusat kesehatan dengan 18.160 kasus.
Peneliti juga menguji kemampuan model dalam kondisi dunia nyata dengan melibatkan puluhan ribu pemeriksaan CT.
Hasilnya menunjukkan bahwa teknologi tersebut memiliki potensi untuk membantu menemukan kasus kanker lambung yang sebelumnya mungkin tidak terdeteksi ketika CT dilakukan untuk keperluan medis lain.
Dalam hasil yang dilaporkan tim peneliti, DAMO GRAPE memiliki sensitivitas 85,1 persen dan spesifisitas 96,8 persen pada evaluasi yang dilaporkan.
Secara sederhana, sensitivitas menggambarkan kemampuan sistem menemukan kasus yang memang memiliki penyakit, sedangkan spesifisitas berkaitan dengan kemampuan mengidentifikasi mereka yang tidak memiliki penyakit.
Dalam perbandingan yang dilaporkan penelitian, performa GRAPE juga lebih tinggi daripada radiolog yang membaca gambar tanpa bantuan sistem tersebut. Namun, angka tersebut tetap merupakan hasil penelitian dan bukan berarti AI dapat menggantikan dokter dalam menentukan diagnosis.
Temuan penelitian juga menunjukkan bahwa kemampuan deteksi model meningkat seiring dengan semakin tingginya stadium tumor.
Artinya, teknologi tersebut memiliki peluang untuk menjadi alat bantu bagi tenaga medis dalam menemukan pasien yang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.
Salah satu bagian menarik dari penelitian adalah ketika para peneliti melihat kembali hasil CT pasien yang kemudian diketahui mengalami kanker lambung.
Pada 11 pasien, model AI mampu menemukan indikasi yang berkaitan dengan kanker pada pemeriksaan CT yang dilakukan sekitar dua hingga 10 bulan sebelum diagnosis.
Ada pula kasus seorang pasien berusia 45 tahun yang kemudian didiagnosis mengalami kanker lambung stadium lanjut.
Ketika hasil CT yang sebelumnya dilakukan untuk kondisi lain diperiksa kembali menggunakan AI, sistem tersebut menemukan tanda yang diduga berkaitan dengan kanker sekitar enam bulan sebelum diagnosis akhirnya ditegakkan.
Temuan semacam ini menunjukkan potensi penggunaan AI untuk mendeteksi kelainan yang mungkin luput ketika pemeriksaan awal dilakukan untuk tujuan lain.
Namun, hasil tersebut tidak berarti setiap tanda yang ditemukan AI pasti merupakan kanker. Pemeriksaan lanjutan tetap diperlukan untuk memastikan diagnosis.
Konsep yang dikembangkan tim peneliti bukan menjadikan CT scan sebagai pengganti endoskopi.
Sebaliknya, AI dapat digunakan sebagai alat penyaringan awal.
Pasien yang berdasarkan analisis AI memiliki risiko lebih tinggi kemudian dapat diarahkan untuk menjalani pemeriksaan lanjutan, termasuk endoskopi apabila diperlukan.
Dalam simulasi skrining di dua rumah sakit daerah, model tersebut mampu meningkatkan konsentrasi kasus berisiko tinggi. Tingkat deteksi kanker pada kelompok yang telah disaring AI mencapai 24,5 persen dan 17,7 persen di masing-masing rumah sakit. Sekitar 40 persen kasus yang ditemukan dalam simulasi tersebut tidak menunjukkan gejala.
Pendekatan seperti ini berpotensi membantu tenaga kesehatan menentukan siapa yang perlu mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut.
Munculnya teknologi AI untuk membaca CT scan tentu menarik perhatian, tetapi masyarakat tidak seharusnya menganggap teknologi tersebut sebagai pengganti pemeriksaan dokter.
Diagnosis kanker tetap membutuhkan penilaian klinis dan, bila diperlukan, pemeriksaan lanjutan seperti endoskopi serta biopsi.
AI dalam penelitian ini lebih tepat dipahami sebagai alat bantu untuk menemukan kemungkinan adanya kelainan.
Hal tersebut juga menjadi alasan mengapa penelitian dan validasi lebih lanjut masih dibutuhkan sebelum teknologi seperti ini digunakan secara luas dalam berbagai sistem kesehatan.
Kanker lambung menjadi tantangan kesehatan karena pada sebagian kasus penyakit dapat berkembang tanpa gejala yang jelas pada tahap awal.
Padahal, semakin cepat kanker ditemukan, semakin besar peluang pasien mendapatkan penanganan pada tahap yang lebih memungkinkan untuk ditangani.
Peneliti melihat pendekatan “CT scan tanpa kontras + AI” sebagai salah satu peluang untuk memperluas skrining, terutama karena CT scan sudah digunakan dalam berbagai pemeriksaan medis.
Teknologi tersebut juga telah mulai diterapkan di sejumlah wilayah berisiko tinggi di China, dengan rencana pengembangan lebih luas di dalam maupun luar negeri.
Jika nantinya terbukti aman dan efektif melalui penggunaan yang lebih luas, AI semacam DAMO GRAPE dapat membantu dokter menemukan pasien yang sebelumnya mungkin terlewat dalam pemeriksaan rutin.
Perkembangan ini sekaligus menunjukkan perubahan besar dalam dunia medis. AI tidak hanya digunakan untuk mengolah data atau membantu administrasi rumah sakit, tetapi mulai dimanfaatkan untuk membaca pola kompleks dalam citra medis.
Meski begitu, teknologi tetap berfungsi sebagai pendukung keputusan medis. Keputusan diagnosis dan penanganan pasien masih membutuhkan tenaga kesehatan yang kompeten serta pemeriksaan klinis yang sesuai.