KebonCinta.com – Perkembangan kecerdasan buatan atau AI membuat banyak orang mulai memikirkan kembali pilihan karier. Pekerjaan yang selama ini membutuhkan kemampuan berpikir dan mengolah informasi semakin mudah dibantu oleh mesin.
Namun, ada satu saran yang terdengar cukup mengejutkan dari Geoffrey Hinton, salah satu tokoh penting di balik perkembangan AI sekaligus penerima Nobel Fisika 2024.
Alih-alih menyarankan anak muda mengejar pekerjaan yang berhubungan dengan komputer atau teknologi, Hinton justru menyebut pekerjaan sebagai tukang ledeng atau plumber sebagai salah satu pilihan yang relatif lebih aman dari ancaman otomatisasi untuk saat ini.
Pernyataan Hinton muncul dalam wawancara di podcast The Diary of a CEO yang dipandu Steven Bartlett pada Juni 2025.
Ketika ditanya mengenai prospek pekerjaan di tengah perkembangan AI, Hinton menjelaskan bahwa pekerjaan yang membutuhkan manipulasi fisik masih menjadi tantangan besar bagi teknologi saat ini.
Karena itu, ia menilai menjadi tukang ledeng bisa menjadi pilihan yang cukup masuk akal bagi seseorang yang ingin mengurangi risiko pekerjaannya digantikan AI dalam waktu dekat.
Alasannya cukup sederhana.
AI sangat cepat dalam mengolah teks, menganalisis data, membuat gambar, menulis kode, hingga membantu menyelesaikan berbagai pekerjaan intelektual.
Namun, kemampuan tersebut tidak otomatis membuat sebuah sistem AI mampu datang ke rumah seseorang, menemukan pipa yang bocor, masuk ke ruang sempit di bawah wastafel, lalu memperbaiki masalah dengan tangan.
Pekerjaan seperti itu membutuhkan kombinasi antara keterampilan fisik, pengalaman, penilaian situasi, dan kemampuan beradaptasi terhadap kondisi yang tidak selalu sama.
Menurut Hinton, perkembangan AI berpotensi memberikan tekanan besar terhadap pekerjaan yang sebagian besar aktivitasnya dilakukan menggunakan komputer.
Pekerjaan yang berhubungan dengan dokumen, analisis informasi, layanan pelanggan, hingga pekerjaan administratif memiliki lebih banyak bagian yang dapat dibantu atau diotomatisasi oleh AI.
Dalam sejumlah pemberitaan mengenai wawancara tersebut, Hinton bahkan menyebut pekerjaan seperti paralegal dan operator call center sebagai contoh pekerjaan yang menghadapi risiko lebih besar.
Perbedaannya terletak pada jenis tugas.
Jika sebuah pekerjaan dapat dilakukan hanya dengan menerima informasi, memprosesnya, lalu menghasilkan jawaban dalam bentuk digital, AI memiliki peluang besar untuk mengambil alih sebagian proses tersebut.
Sebaliknya, pekerjaan yang membutuhkan kehadiran manusia secara langsung di lingkungan fisik yang berubah-ubah masih lebih sulit untuk diotomatisasi.
Meski menyebut tukang ledeng sebagai pilihan yang relatif aman, Hinton tidak mengatakan bahwa pekerjaan tersebut akan selamanya terbebas dari AI dan robot.
Ada satu kata yang penting dalam pernyataannya: sekarang.
Hinton menjelaskan bahwa teknologi masih membutuhkan waktu untuk mencapai kemampuan manipulasi fisik yang setara dengan manusia. Artinya, ketika perkembangan robotika semakin maju, pekerjaan fisik pun berpotensi menghadapi perubahan.
Jadi, saran tersebut bukan berarti tukang ledeng pasti aman dari teknologi.
Lebih tepatnya, pekerjaan yang membutuhkan keterampilan fisik kompleks masih memiliki hambatan otomatisasi yang lebih besar dibandingkan pekerjaan intelektual rutin.
Perkembangan AI generatif memberikan gambaran yang cukup jelas mengenai perubahan tersebut.
Saat ini, seseorang dapat menggunakan AI untuk membuat draf artikel, merangkum dokumen, menerjemahkan teks, menganalisis data, membuat presentasi, hingga membantu menulis program.
Pekerjaan manusia tidak selalu langsung hilang.
Namun, jumlah orang yang dibutuhkan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan dapat berkurang ketika satu pekerja dibantu sistem AI.
Inilah salah satu kekhawatiran Hinton.
Dalam wawancara dengan Nobel Prize, Hinton juga pernah menjelaskan bahwa salah satu risiko AI adalah tergantikannya banyak pekerjaan dan meningkatnya kesenjangan ekonomi ketika kenaikan produktivitas tidak dibagikan secara merata.
Dengan kata lain, persoalannya bukan semata-mata apakah AI akan menggantikan manusia.
Pertanyaan yang lebih besar adalah berapa banyak manusia yang nantinya dibutuhkan untuk melakukan pekerjaan yang sama.
Ada alasan mengapa pernyataan Hinton banyak mendapat perhatian.
Ia bukan pengamat teknologi dari luar. Hinton merupakan salah satu ilmuwan yang berperan besar dalam perkembangan jaringan saraf tiruan dan pembelajaran mesin modern.
Pada 2024, Hinton bersama John Hopfield menerima Nobel Fisika atas penemuan dan pengembangan yang menjadi fondasi machine learning menggunakan jaringan saraf tiruan.
Nobel Prize mencatat bahwa karya Hinton termasuk pengembangan Boltzmann machine, teknologi yang kemudian berkontribusi terhadap perkembangan machine learning dan kemampuan komputer dalam mengenali pola dari data.
Karena itu, ketika orang yang ikut membangun fondasi AI justru memperingatkan mengenai dampaknya terhadap dunia kerja, pernyataannya menjadi perhatian tersendiri.
Kekhawatiran Hinton sebenarnya lebih luas daripada sekadar pekerjaan tertentu akan hilang.
Dalam wawancara resmi dengan Nobel Prize, ia menyebut bahwa AI dapat menimbulkan persoalan sosial apabila banyak pekerjaan tergantikan dan keuntungan peningkatan produktivitas hanya dinikmati sebagian kelompok masyarakat.
Ia juga memperingatkan mengenai berbagai risiko lain dari AI, termasuk penyalahgunaan teknologi untuk membuat konten palsu dan serangan siber.
Karena itu, perkembangan AI menurut Hinton perlu diikuti dengan perhatian serius terhadap dampaknya terhadap masyarakat.
Tentu tidak sesederhana itu.
Pernyataan Hinton lebih tepat dipahami sebagai gambaran mengenai jenis keterampilan yang saat ini masih sulit dilakukan mesin.
Bagi anak muda yang sedang memilih karier, pesan yang bisa diambil bukan sekadar "jadilah tukang ledeng".
Ada pelajaran yang lebih luas: jangan hanya mengandalkan pekerjaan yang seluruh prosesnya bisa dilakukan secara digital.
Kemampuan menggunakan tangan, berinteraksi dengan manusia, mengambil keputusan di lapangan, memahami kondisi yang tidak terduga, serta menyelesaikan persoalan nyata bisa menjadi nilai tambah.
Pekerjaan seperti teknisi, mekanik, instalatur listrik, perawatan bangunan, dan berbagai profesi keterampilan lainnya memiliki karakteristik yang serupa.
Tetapi sekali lagi, tidak berarti profesi tersebut kebal terhadap perkembangan teknologi.
Di tengah kekhawatiran mengenai pekerjaan yang hilang, ada sudut pandang lain yang tidak kalah penting.
AI juga dapat membantu pekerja menyelesaikan tugas dengan lebih cepat.
Seorang teknisi, misalnya, dapat menggunakan AI untuk mencari referensi kerusakan, membaca manual peralatan, membuat daftar kebutuhan pekerjaan, atau mendapatkan bantuan diagnosis awal.
Dengan demikian, manusia tidak selalu harus berhadapan dengan AI sebagai pesaing.
Dalam banyak situasi, manusia yang mampu menggunakan AI justru dapat bekerja lebih efektif dibandingkan mereka yang tidak memanfaatkannya.
Masalahnya adalah perubahan tersebut kemungkinan akan membuat dunia kerja membutuhkan keterampilan yang berbeda.
Perubahan teknologi juga membuat pendidikan dan pelatihan kerja perlu beradaptasi.
Menguasai satu keahlian saja mungkin tidak cukup untuk menghadapi pasar kerja dalam jangka panjang.
Anak muda perlu memiliki kemampuan teknis sekaligus kemampuan beradaptasi.
Bisa menggunakan AI merupakan salah satu bekal.
Namun kemampuan komunikasi, kreativitas, pemecahan masalah, keterampilan praktis, dan pengalaman langsung tetap mempunyai nilai.
Terlebih jika pekerjaan tersebut menuntut seseorang berada di lokasi tertentu dan berhadapan dengan situasi fisik yang tidak dapat diprediksi oleh sistem komputer.
Pernyataan Hinton juga perlu dibaca secara proporsional.
Tidak ada kepastian bahwa AI akan menghapus seluruh pekerjaan manusia.
Bahkan Hinton sendiri mengakui ketidakpastian mengenai seberapa cepat AI akan mencapai kemampuan yang jauh melampaui manusia. Dalam wawancara Nobel Prize, ia menyebut bahwa perkiraan mengenai kapan AI dapat menjadi lebih pintar daripada manusia masih sangat tidak pasti.
Karena itu, pembicaraan mengenai pekerjaan masa depan sebaiknya tidak berhenti pada pertanyaan "profesi apa yang aman dari AI?"
Pertanyaan yang lebih berguna adalah:
keterampilan apa yang tetap bernilai ketika teknologi semakin pintar?
Jawabannya kemungkinan bukan hanya satu profesi.
Kemampuan beradaptasi, memahami teknologi, bekerja dengan manusia, menyelesaikan masalah nyata, serta memiliki keahlian yang sulit direplikasi mesin akan semakin penting.
Dan dari semua pesan Hinton, saran menjadi tukang ledeng mungkin terdengar sederhana.
Namun di baliknya terdapat gambaran besar tentang perubahan dunia kerja: semakin pintar mesin dalam mengolah informasi, semakin berharga pula keterampilan manusia yang tidak mudah diterjemahkan menjadi sekadar data.