Pendidikan
Hilmi An Naufal

AI Makin Canggih, Peran Guru Justru Semakin Penting dalam Membentuk Karakter Siswa

AI Makin Canggih, Peran Guru Justru Semakin Penting dalam Membentuk Karakter Siswa

20 Agustus 2026 | 13:18

Keboncinta.com – Perkembangan kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan. Siswa kini dapat memperoleh informasi, mencari penjelasan materi hingga menghasilkan tulisan hanya dalam hitungan detik.

Namun, kecanggihan teknologi tersebut tidak membuat peran guru kehilangan relevansinya. Sebaliknya, guru menghadapi tanggung jawab baru untuk memastikan siswa tidak hanya mampu menggunakan AI, tetapi juga memiliki karakter, etika dan kemampuan berpikir kritis dalam memanfaatkannya.

Kemampuan menggunakan teknologi saja dinilai tidak cukup. Generasi muda juga perlu memahami batasan serta tanggung jawab ketika memanfaatkan AI dalam kehidupan sehari-hari.

AI Tidak Menggantikan Guru

AI dapat membantu berbagai aktivitas pembelajaran, mulai dari mencari informasi, merangkum materi, menghasilkan ide hingga membantu menjelaskan konsep yang sulit.

Meski demikian, teknologi tetap merupakan alat.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti sebelumnya menegaskan bahwa AI harus ditempatkan sebagai pendukung pembelajaran, bukan sebagai pengganti guru.

Pendidikan tidak hanya berkaitan dengan transfer informasi. Ada proses pembentukan karakter, nilai kemanusiaan dan interaksi sosial yang tetap membutuhkan kehadiran manusia.

Di sinilah guru memiliki peran yang sulit digantikan oleh mesin.

Tantangan Baru Muncul Bersama AI

Kemudahan menggunakan AI juga membawa sejumlah tantangan dalam proses pendidikan.

Siswa kini dapat menggunakan teknologi untuk membantu menyelesaikan pekerjaan sekolah. Jika tidak digunakan secara tepat, kemudahan tersebut berpotensi membuat siswa hanya mengejar hasil tanpa melalui proses berpikir dan belajar.

Panduan Pemanfaatan Kecerdasan Artifisial untuk Guru dari Kemendikdasmen mengingatkan sejumlah risiko penggunaan AI, seperti plagiarisme, ketergantungan, bias, informasi keliru atau halusinasi AI hingga berkurangnya proses berpikir kritis.

Karena itu, guru perlu mengajarkan siswa bahwa AI sebaiknya digunakan untuk membantu proses belajar, bukan menggantikan usaha untuk memahami materi.

Kejujuran Akademik Semakin Penting

Kemunculan AI generatif juga menghadirkan tantangan terhadap kejujuran akademik.

Siswa dapat meminta AI menghasilkan jawaban, esai atau tugas dalam waktu singkat. Masalah muncul ketika hasil tersebut langsung dikumpulkan tanpa dipahami atau diakui penggunaannya.

Guru memiliki peran dalam membangun pemahaman bahwa nilai sebuah tugas tidak hanya terletak pada jawaban akhir.

Proses mencari informasi, menganalisis, melakukan kesalahan, memperbaiki jawaban dan menyusun pemikiran sendiri merupakan bagian penting dalam belajar.

Kemendikdasmen juga menempatkan kejujuran sebagai salah satu nilai utama dalam pemanfaatan AI. Teknologi seharusnya mendukung pemahaman siswa, bukan digunakan untuk menghindari proses belajar.

Guru Perlu Mengajarkan Etika Digital

Kemampuan menggunakan AI perlu berjalan bersama dengan etika digital.

Mendikdasmen Abdul Mu'ti menekankan bahwa kompetensi digital perlu diiringi dengan digital civility atau keadaban digital. Tanpa etika, pemanfaatan teknologi justru dapat menimbulkan persoalan baru.

Tantangan yang dihadapi siswa tidak hanya mengenai tugas sekolah.

Perkembangan AI memungkinkan pembuatan gambar, suara dan video yang semakin sulit dibedakan dari materi asli. Fenomena deepfake, disinformasi, pelanggaran privasi dan berbagai bentuk penyalahgunaan teknologi menjadi risiko yang perlu dipahami generasi muda.

Guru dapat membantu siswa membangun kebiasaan memeriksa informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya.

Kemampuan Berpikir Kritis Jangan Hilang

AI mampu menghasilkan jawaban dengan cepat, tetapi jawaban yang diberikan tidak selalu benar.

Karena itu, siswa tetap perlu memiliki kemampuan untuk mempertanyakan, memeriksa dan membandingkan informasi.

Guru dapat mengubah cara penggunaan AI di kelas dengan menjadikannya sebagai bahan diskusi.

Misalnya, siswa tidak hanya diminta mencari jawaban melalui AI, tetapi juga memeriksa sumber, menemukan kesalahan, membandingkan beberapa informasi dan menjelaskan kembali menggunakan pemahamannya sendiri.

Dengan pendekatan tersebut, AI dapat menjadi alat untuk melatih kemampuan berpikir kritis, bukan justru menggantikannya.

Keteladanan Guru Tetap Sulit Digantikan Teknologi

Ada satu kemampuan yang tidak dimiliki AI sebagaimana manusia, yaitu menjadi teladan dalam hubungan nyata dengan peserta didik.

Siswa tidak hanya belajar dari materi yang disampaikan guru. Mereka juga mengamati bagaimana guru berkomunikasi, menyelesaikan masalah, menghargai orang lain, bertanggung jawab dan bersikap ketika menghadapi kesulitan.

Karena itu, perkembangan teknologi justru mempertegas fungsi guru sebagai pendidik karakter.

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Fajar Riza Ul Haq sebelumnya juga menekankan bahwa perkembangan AI merupakan peluang untuk memperkuat kualitas pembelajaran sekaligus peran pendidik dalam membentuk karakter generasi bangsa.

Guru Juga Harus Terus Belajar

Perubahan teknologi yang cepat membuat guru tidak cukup hanya melarang siswa menggunakan AI.

Pendidik juga perlu memahami cara kerja, manfaat, keterbatasan dan risiko teknologi tersebut.

Dengan memahami AI, guru dapat menentukan kapan teknologi boleh digunakan, bagaimana siswa menggunakannya secara bertanggung jawab dan kapan sebuah tugas harus benar-benar dikerjakan secara mandiri.

Guru juga dapat memanfaatkan AI untuk mendukung pekerjaannya, seperti mencari inspirasi pembelajaran, menyusun variasi latihan atau mengembangkan bahan ajar. Namun, hasil yang diberikan AI tetap perlu diperiksa sebelum digunakan.

Teknologi Berkembang, Nilai Kemanusiaan Tetap Menjadi Fondasi

Perkembangan AI hampir pasti akan terus berlangsung dan semakin dekat dengan kehidupan siswa.

Karena itu, dunia pendidikan tidak cukup hanya mempersiapkan generasi yang mahir menggunakan teknologi.

Sekolah juga perlu melahirkan generasi yang mampu menggunakan teknologi dengan jujur, kritis, bertanggung jawab dan tetap memiliki kepedulian terhadap sesama.

Di tengah perubahan tersebut, tugas guru justru menjadi semakin luas.

Guru bukan lagi sekadar sumber informasi karena informasi kini tersedia dalam jumlah sangat besar melalui internet dan AI. Perannya semakin mengarah pada pembimbing yang membantu siswa memahami informasi, membedakan yang benar dan keliru, membangun karakter serta menentukan bagaimana teknologi seharusnya digunakan.

AI mungkin mampu memberikan jawaban dalam hitungan detik. Namun, membentuk manusia yang berkarakter tetap membutuhkan proses pendidikan, keteladanan dan interaksi antarmanusia.

Tags:
berita nasional

Komentar Pengguna