Parenting
M. Panji Maulana

Anak Berbohong karena Takut Dimarahi? Cara Merespons agar Ia Berani Berkata Jujur

Anak Berbohong karena Takut Dimarahi? Cara Merespons agar Ia Berani Berkata Jujur

20 Oktober 2026 | 05:45

keboncinta.com- “PR-nya sudah selesai,” kata anak. Namun, ketika buku dibuka, beberapa halaman ternyata belum dikerjakan. Orang tua mungkin merasa kecewa, lalu ingin segera meminta penjelasan.

Situasi seperti ini menjadi kesempatan penting untuk mengajarkan kejujuran. Respons orang dewasa membantu membentuk pengalaman anak ketika mengakui kesalahan dan menghadapi akibat tindakannya.

Takut dimarahi dapat menjadi salah satu alasan anak berbohong. Namun, penyebabnya beragam, termasuk ingin menghindari tugas, mendapat perhatian, atau belum mampu menghadapi situasi yang membuatnya tidak nyaman.

Orang tua dapat menghargai keberanian berkata jujur sekaligus tetap membimbing anak memperbaiki kesalahannya. Berikut cara menerapkannya dalam percakapan sehari-hari.

Pahami Situasinya Sebelum Menyimpulkan

Cerita anak yang tidak sesuai fakta belum tentu selalu merupakan kebohongan yang disengaja.

Pada anak kecil, pemahaman tentang imajinasi dan kenyataan masih berkembang. Anak juga dapat keliru mengingat, salah memahami pertanyaan, atau menganggap tugas sudah selesai padahal ada bagian yang terlewat.

Cleveland Clinic menjelaskan pentingnya menyesuaikan respons dengan perkembangan anak serta mencari keterampilan yang masih perlu dibantu.

Tanyakan secara terbuka:

“Tadi kamu bilang tugasnya selesai. Coba ceritakan bagian yang sudah kamu kerjakan.”

Jika faktanya belum jelas, hindari memaksa anak mengaku hanya karena orang tua sudah memiliki dugaan.

Tenangkan Diri sebelum Membahasnya

Ketika emosi meningkat, ambil jeda singkat sebelum memulai percakapan. Pilih tempat yang memungkinkan anak berbicara tanpa ditonton saudara atau teman.

American Academy of Pediatrics mengingatkan bahwa reaksi yang sangat negatif dapat membuat anak merasa perlu terus menyembunyikan kesalahan untuk melindungi diri.

Sampaikan fakta dengan singkat:

“Ibu melihat masih ada soal yang kosong. Kita perlu membicarakan apa yang terjadi.”

Hindari label seperti “pembohong” atau kalimat “Kamu selalu begitu.” Fokuskan pembicaraan pada kejadian yang sedang dibahas.

Respons tenang tetap dapat memuat batas yang jelas: orang tua mengharapkan keterangan yang benar dan bersedia mendengarkan penjelasan.

Cari Kebutuhan di Balik Kebohongan

Child Mind Institute menjelaskan bahwa alasan anak berbohong dapat berbeda-beda. Karena itu, penanganannya perlu memperhatikan fungsi perilaku tersebut.

Untuk tugas yang belum selesai, misalnya, tanyakan:

“Kamu belum mengerjakan karena lupa, belum paham, atau ada hal lain?”

Berikan waktu menjawab. Anak mungkin membutuhkan bantuan mengatur tugas, menjelaskan kesulitan, atau menyampaikan bahwa ia takut mengecewakan orang tua.

Mengetahui alasannya membantu menentukan langkah berikutnya. Kesulitan memahami pelajaran perlu ditangani melalui bantuan belajar; kebiasaan menyembunyikan tugas juga memerlukan aturan dan pemeriksaan yang konsisten.

Baca juga: Jangan Langsung Dimarahi, Begini Cara Menghadapi Anak yang Sering Mengelak

Beri Kesempatan Memperbaiki Cerita

Jika sudah ada fakta yang jelas, orang tua dapat memberi kesempatan anak menyampaikan keterangan yang lebih akurat.

Contoh percakapan:

“Ayah sudah tahu buku itu belum dikembalikan. Kamu boleh menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Ayah akan mendengarkan.”

Jika anak mengakui takut dimarahi, tanggapi perasaannya tanpa membenarkan kebohongan:

“Terima kasih sudah bilang kamu takut. Kita tetap perlu mengembalikan bukunya, dan Ayah akan membantu kamu merencanakannya.”

Hindari menjanjikan bahwa kejujuran selalu membuat anak bebas dari konsekuensi. Janji yang tidak ditepati dapat membuat percakapan berikutnya semakin sulit.

Pilih komitmen yang bisa dijaga, seperti mendengarkan tanpa membentak dan membahas perbaikan secara tenang.

Hargai Kejujuran secara Spesifik

Dalam wawancara American Psychological Association, peneliti perkembangan anak Victoria Talwar menekankan pentingnya mengakui perilaku berkata jujur.

Orang tua dapat mengatakan:

“Ibu menghargai kamu akhirnya menceritakan yang sebenarnya.”

Kemudian, lanjutkan pembahasan tindakan:

“Sekarang kita pikirkan cara menyelesaikan tugas yang tertunda.”

Penghargaan tersebut tidak perlu berupa hadiah besar. Mendengarkan dengan serius dan menyebut keberanian anak untuk mengoreksi ceritanya dapat memperjelas perilaku yang sedang diajarkan.

Berikan apresiasi juga ketika anak jujur sejak awal, termasuk saat informasi yang disampaikannya tidak menyenangkan bagi orang tua.

Hubungkan Konsekuensi dengan Perbaikan

Gunakan konsekuensi yang masuk akal, sesuai usia, dan membantu memperbaiki keadaan. Berikut contoh penerapan yang dapat disesuaikan:

KejadianLangkah perbaikan
Menyembunyikan PR yang belum selesaiMenyusun waktu pengerjaan dan mengidentifikasi bantuan yang diperlukan
Memakai barang tanpa izin lalu menyangkalMengembalikan barang dan berlatih meminta izin
Menumpahkan minuman lalu menyalahkan saudaraMembantu membersihkan sesuai kemampuan dan meluruskan tuduhan

Contoh tersebut bukan aturan baku untuk semua keluarga.

Jika aturan perlu diperbarui, jelaskan perilaku yang diharapkan. Misalnya, anak menunjukkan daftar tugas setelah pulang sekolah selama masih membutuhkan bantuan mengaturnya.

Tujuannya agar anak mengetahui apa yang harus dilakukan pada kesempatan berikutnya.

Ajarkan Kalimat Pengganti

Sebagian anak membutuhkan contoh bahasa untuk menyampaikan keadaan yang sulit.

Latih kalimat sederhana saat suasana tenang:

  • “Aku belum selesai dan butuh bantuan.”
  • “Aku tadi salah bilang. Yang sebenarnya begini.”
  • “Aku takut dimarahi, tetapi aku mau cerita.”
  • “Aku lupa.
LANJUT MEMBACA
Jelajahi Artikel
1 / 2
LANJUTKAN MEMBACA Selanjutnya
Tags:
Parenting Anak Berbohong Mengajarkan Kejujuran Komunikasi Orang Tua dan Anak Disiplin Positif Karakter Anak Pengasuhan Anak

Komentar Pengguna