Orang tua dapat memainkan percakapan singkat bersama anak. Gunakan kejadian ringan agar latihan tidak terasa seperti pemeriksaan ulang atas kesalahannya.
Untuk anak yang lebih besar, ajak berdiskusi tentang dampak informasi yang tidak benar terhadap orang lain dan cara memulihkan kepercayaan melalui tindakan yang konsisten.
Anak juga memperhatikan cara orang tua menghadapi kesalahan. Beri contoh mengakui kekeliruan tanpa menyalahkan orang lain.
Misalnya:
“Ayah tadi lupa membawa bukumu. Itu kesalahan Ayah. Sekarang Ayah akan menghubungi sekolah untuk mencari solusinya.”
Jika sebelumnya membentak, orang tua dapat meminta maaf dan memperbaiki cara berbicara. Aturan tentang kejujuran tetap berlaku, sementara cara menegakkannya dapat diperbaiki.
Apabila kebohongan terus berulang, makin serius, atau disertai kesulitan lain yang mengganggu kehidupan anak, diskusikan dengan guru, dokter, atau psikolog anak. Hindari menetapkan diagnosis berdasarkan satu perilaku.
Kejujuran berkembang melalui banyak percakapan dan pengalaman. Dengan respons yang konsisten, anak mendapat kesempatan belajar bahwa mengakui kenyataan dapat diikuti bantuan, tanggung jawab, dan langkah perbaikan yang jelas.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir