Keboncinta.com – Tangisan anak kerap membuat orang tua bingung, terlebih ketika penyebabnya tidak langsung terlihat. Ada anak yang menangis karena lapar atau lelah, tetapi ada pula yang menangis ketika kecewa, takut, marah, merasa tidak nyaman, atau membutuhkan kedekatan dengan orang terdekat.
Dalam kondisi tersebut, tangisan sebaiknya tidak selalu dianggap sebagai perilaku manja yang harus segera dihentikan.
Bagi anak, terutama pada usia ketika kemampuan berbahasa dan mengelola emosi masih berkembang, menangis merupakan salah satu cara menyampaikan kebutuhan dan perasaan.
Karena itu, respons orang tua atau pengasuh ketika anak menangis memiliki peran penting dalam membantu anak mengenali sekaligus belajar mengelola emosinya.
Orang dewasa dapat mengatakan secara langsung ketika merasa kecewa, marah, takut, atau membutuhkan bantuan.
Anak belum tentu memiliki kemampuan yang sama.
Pada bayi dan anak usia dini, menangis menjadi salah satu sinyal yang digunakan untuk berkomunikasi dengan orang-orang di sekitarnya.
Penyebabnya juga beragam. Anak dapat menangis karena kebutuhan fisik seperti lapar, mengantuk, sakit atau merasa tidak nyaman.
Namun, tangisan juga dapat muncul akibat kebutuhan emosional, misalnya ketika anak merasa takut, frustrasi, kecewa atau membutuhkan perhatian.
Karena itu, langkah pertama yang dapat dilakukan orang tua bukan sekadar menghentikan suara tangisan, tetapi mencoba memahami apa yang sedang dialami anak.
Hubungan yang responsif antara anak dan orang dewasa memiliki peran penting dalam perkembangan awal.
Center on the Developing Child di Harvard University menggunakan konsep serve and return untuk menggambarkan interaksi timbal balik antara anak dan pengasuh.
Ketika bayi atau anak memberikan sinyal melalui tangisan, suara, ekspresi maupun gerakan kemudian orang dewasa memberikan respons melalui tatapan, ucapan atau pelukan, interaksi tersebut membantu membangun dan memperkuat koneksi saraf yang berkaitan dengan kemampuan komunikasi dan sosial.
Dengan kata lain, respons sederhana orang tua dapat menjadi bagian dari proses belajar anak.
Memberikan respons emosional kepada anak bukan berarti orang tua harus mengabulkan semua keinginannya.
Misalnya, seorang anak menangis karena tidak diperbolehkan bermain ponsel lebih lama.
Orang tua tetap dapat mempertahankan batasan tersebut sambil mengakui bahwa anak sedang kecewa.
Anak dapat diberi kesempatan untuk menenangkan diri, sementara orang tua tetap hadir dan memberikan penjelasan sesuai usianya.
Dengan pendekatan tersebut, anak belajar bahwa perasaannya dapat diterima, tetapi tetap ada aturan dan batasan yang perlu dipatuhi.
Ucapan seperti "jangan menangis", "cengeng", atau "begitu saja kok menangis" mungkin terdengar sederhana bagi orang dewasa.
Namun, anak yang sedang mengalami emosi kuat belum tentu mampu langsung menghentikan reaksinya.
Orang tua dapat mencoba pendekatan berbeda dengan membantu anak memberi nama pada perasaannya.
Misalnya, "Kamu sedih karena mainannya rusak?" atau "Kamu kecewa karena belum boleh bermain lagi?"
Menyebutkan apa yang sedang dilihat, dilakukan, atau dirasakan anak dapat membantu membangun hubungan bahasa dengan pengalaman yang sedang dialaminya. Harvard juga memasukkan langkah tersebut sebagai bagian dari interaksi responsif antara pengasuh dan anak.
Kemampuan mengendalikan emosi tidak langsung dimiliki anak sejak lahir.
Pada masa awal kehidupan, anak masih sangat bergantung kepada orang dewasa untuk mendapatkan rasa aman dan bantuan ketika menghadapi emosi yang terasa besar.
Perkembangan kemampuan mengatur emosi kemudian berlangsung secara bertahap seiring pertumbuhan.
Hubungan yang stabil dan responsif dengan orang dewasa dapat membantu anak menghadapi stres dan mengembangkan kemampuan mengatur emosi serta perilakunya.
Karena itu, ketenangan orang tua saat menghadapi tangisan dapat menjadi contoh yang perlahan dipelajari anak.
Ketika anak mulai menangis, orang tua dapat terlebih dahulu memastikan tidak ada kebutuhan fisik atau kondisi yang memerlukan perhatian.
Setelah itu, cobalah mendekati anak dengan tenang dan mencari tahu penyebabnya.
Untuk anak yang sudah mampu berbicara, orang tua dapat memberikan pertanyaan sederhana dan memberinya waktu untuk menjelaskan.
Jika anak belum siap berbicara, kehadiran orang tua dapat diberikan melalui cara lain, seperti duduk di dekatnya, berbicara dengan nada tenang atau memberikan pelukan apabila anak nyaman menerimanya.
Setelah emosi mulai mereda, barulah orang tua dapat mengajak anak membicarakan apa yang terjadi dan mencari cara menghadapi situasi serupa pada kesempatan berikutnya.
Menghadapi anak yang terus menangis memang tidak selalu mudah.
Orang tua juga dapat merasa lelah, kesal atau kewalahan, terutama jika tangisan terjadi ketika sedang menghadapi banyak pekerjaan.
Namun, respons orang dewasa ikut menentukan suasana interaksi.
Lingkungan yang tenang, stabil dan dapat diprediksi dapat membantu mengurangi stres yang dialami anak. Hubungan dengan pengasuh yang responsif juga dapat membantu anak menghadapi aktivasi respons stres.
Karena itu, ketika memungkinkan, orang tua dapat menenangkan dirinya terlebih dahulu sebelum merespons anak.
Tujuan orang tua tidak harus membuat anak berhenti menangis secepat mungkin.
Hal yang lebih penting adalah membantu anak memahami apa yang sedang dirasakannya dan secara bertahap belajar menghadapi emosi tersebut dengan cara yang sehat.
Anak tetap perlu mendapatkan batasan dan aturan. Namun, kedisiplinan dapat berjalan bersama dengan empati.
Ketika anak merasa sedih, takut atau kecewa, kehadiran orang tua yang responsif dapat memberikan rasa aman sekaligus menjadi kesempatan untuk belajar tentang emosi.
Pada akhirnya, di balik tangisan anak mungkin terdapat pesan sederhana yang belum mampu disampaikan dengan kata-kata.
Mendengarkan dan meresponsnya bukan berarti memanjakan. Respons yang tepat justru dapat menjadi bagian penting dalam membangun hubungan orang tua-anak serta mendukung perkembangan sosial dan emosional sejak dini.