Pendidikan
M. Panji Maulana

Anak Menangis karena Tidak Dibelikan Sesuatu? Ini Cara Orang Tua Bersikap Tanpa Menyerah atau Membentak

Anak Menangis karena Tidak Dibelikan Sesuatu? Ini Cara Orang Tua Bersikap Tanpa Menyerah atau Membentak

31 Oktober 2026 | 21:55

Keboncinta.com-Berbelanja bersama anak terkadang menjadi pengalaman yang menyenangkan sekaligus menguji kesabaran orang tua. Awalnya, anak terlihat antusias menemani Ayah atau Bunda memilih kebutuhan rumah. Namun, ketika melewati rak mainan atau jajanan, suasana tiba-tiba berubah.

“Bunda, aku mau yang itu!”

Ketika orang tua menjawab bahwa barang tersebut tidak akan dibeli, anak mulai merengek. Permintaan diulang beberapa kali, suara semakin keras, bahkan sebagian anak menangis hingga duduk di lantai.

Situasi seperti ini sering membuat orang tua kebingungan, terutama ketika terjadi di tempat umum. Ada yang akhirnya membelikan barang agar anak berhenti menangis. Ada pula yang langsung memarahi anak karena merasa malu diperhatikan orang lain.

Padahal, anak menangis karena keinginannya tidak dipenuhi bukan berarti orang tua harus menyerah, tetapi juga bukan alasan untuk membentak atau mempermalukannya.

Anak, terutama pada usia dini, masih belajar memahami bahwa tidak semua keinginan dapat langsung dipenuhi. Mereka juga sedang mengembangkan kemampuan menghadapi kekecewaan dan mengatur emosi.

UNICEF menjelaskan bahwa anak kecil masih membutuhkan bantuan orang dewasa untuk memahami serta mengelola perasaan yang kuat. Sementara itu, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menekankan pentingnya respons orang tua yang konsisten terhadap perilaku anak.

Karena itu, orang tua perlu mempelajari cara mempertahankan keputusan sekaligus memberikan dukungan emosional ketika anak merasa kecewa.

Mengapa Anak Menangis Ketika Tidak Dibelikan Sesuatu?

Tidak semua tangisan anak mempunyai penyebab yang sama. Ada beberapa kemungkinan yang perlu dipahami orang tua sebelum menentukan respons.

1. Anak Belum Terbiasa Menghadapi Kekecewaan

Anak kecil belum selalu mempunyai kemampuan untuk menerima kenyataan bahwa sesuatu yang diinginkan tidak dapat diperoleh.

Ketika melihat mainan menarik, anak mungkin langsung membayangkan betapa menyenangkannya jika barang tersebut menjadi miliknya.

Namun, saat keinginannya ditolak, muncul perasaan kecewa yang sulit diungkapkan melalui kata-kata.

Tangisan kemudian menjadi salah satu bentuk ekspresi emosi.

Dalam keadaan ini, orang tua dapat membantu anak mengenali perasaannya tanpa harus mengubah keputusan.

Misalnya, “Kamu kecewa karena belum bisa membeli mainan itu, ya. Bunda mengerti.”

2. Anak Belum Memahami Batasan

Bagi anak usia dini, perbedaan antara menginginkan sesuatu dan boleh mendapatkannya belum selalu dipahami dengan baik.

Anak mungkin mengetahui bahwa suatu barang tersedia di toko, tetapi belum memahami bahwa barang tersebut tidak harus dibeli.

Karena itu, batasan perlu dijelaskan menggunakan bahasa yang sederhana dan sesuai usia.

Namun, penjelasan sebaiknya diberikan ketika anak masih mampu mendengarkan, bukan saat emosinya sedang memuncak.

3. Anak Belajar dari Pengalaman Sebelumnya

Apabila anak beberapa kali mendapatkan barang setelah menangis atau merengek, ia mungkin mulai menghubungkan perilaku tersebut dengan terpenuhinya keinginan.

CDC menjelaskan bahwa konsekuensi setelah perilaku dapat memengaruhi kemungkinan perilaku tersebut terulang.

Misalnya, seorang anak meminta mainan dan orang tua menolaknya. Setelah anak menangis cukup lama, orang tua akhirnya membelikan mainan tersebut agar suasana tenang.

Tanpa disadari, pengalaman ini dapat memperkuat kebiasaan merengek ketika menginginkan sesuatu.

Namun, hal ini bukan berarti seluruh tangisan anak merupakan upaya memanipulasi orang tua.

Anak tetap dapat mengalami kekecewaan yang nyata dan membutuhkan dukungan emosional.

4. Anak Sedang Lapar, Lelah, atau Terlalu Banyak Menerima Rangsangan

Tempat perbelanjaan yang ramai, suara keras, lampu terang, serta banyaknya barang menarik dapat membuat sebagian anak lebih mudah kewalahan.

Jika anak juga sedang lapar atau mengantuk, kemampuan menghadapi kekecewaan dapat semakin berkurang.

Dalam kondisi demikian, persoalannya bukan semata-mata keinginan membeli sesuatu.

Anak mungkin membutuhkan makanan, istirahat, atau lingkungan yang lebih tenang.

Orang tua perlu memperhatikan kebutuhan tersebut sebelum menganggap semua penolakan sebagai masalah perilaku.

Apa yang Harus Dilakukan Ketika Anak Mulai Merengek?

Langkah pertama bukan memberikan ceramah panjang, melainkan memastikan orang tua dapat merespons dengan tenang.

UNICEF menganjurkan pengasuh untuk mengenali emosi yang mendasari perilaku anak dan memberikan bantuan yang sesuai.

Berikut beberapa pendekatan yang dapat diterapkan.

1. Tetap Tenang meskipun Anak Menangis

Ketika anak mulai meninggikan suara, orang tua dapat merasa kesal atau malu.

Namun, membalas dengan bentakan sering membuat suasana semakin tegang.

Cobalah berbicara dengan suara yang cukup rendah dan jelas.

Misalnya:

“Bunda tahu kamu ingin mainan itu. Tetapi hari ini kita tidak membelinya.”

Orang tua tidak harus mengulangi penjelasan berkali-kali ketika anak belum siap mendengarkan.

Fokus terlebih dahulu pada keselamatan dan membantu anak melewati emosinya.

2. Akui Perasaan Anak tanpa Mengubah Keputusan

Mengakui perasaan tidak sama dengan menyetujui semua permintaan.

Orang tua dapat mengatakan:

“Kamu sedih karena tidak jadi membeli robot itu. Bunda mengerti kamu sangat menyukainya.”

Setelah itu, sampaikan batasan.

“Tapi hari ini kita tidak membeli mainan.”

Dua hal tersebut dapat dilakukan bersamaan: menghargai perasaan anak sekaligus mempertahankan keputusan.

Dengan cara ini, anak memperoleh pengalaman bahwa perasaannya boleh diungkapkan, meskipun keinginannya tidak selalu dipenuhi.

3. Jangan Langsung Membelikan Barang Hanya untuk Menghentikan Tangisan

Ketika anak menangis di toko, membeli barang dapat terlihat sebagai penyelesaian tercepat.

Namun, apabila orang tua sebelumnya telah menyampaikan penolakan yang masuk akal dan kemudian menyerah hanya karena tangisan semakin keras, anak dapat mempelajari pola bahwa merengek merupakan cara untuk memperoleh barang.

Karena itu, pertahankan keputusan yang sudah dibuat secara konsisten.

Konsistensi bukan berarti harus bersikap keras atau membiarkan anak menghadapi perasaannya sendirian.

Orang tua tetap dapat menemani, menenangkan, dan mengarahkan anak menuju kegiatan lain.

4.

LANJUT MEMBACA
Jelajahi Artikel
1 / 3
LANJUTKAN MEMBACA Selanjutnya
Tags:
anak merengek minta dibelikan anak menangis di toko cara menolak keinginan anak Parenting Positif batasan orang tua anak belajar kecewa

Komentar Pengguna