Anak Mulai Lebih Nyaman Curhat ke AI? Psikolog Ingatkan Orang Tua Harus Jadi Tempat Cerita yang Aman
04 Oktober 2026
| 20:54
JAKARTA — Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence semakin dekat dengan kehidupan anak dan remaja. AI tidak lagi hanya digunakan untuk membantu mengerjakan tugas sekolah, mencari informasi atau membuat gambar. Sebagian anak mulai memanfaatkannya sebagai teman berbicara dan tempat menceritakan persoalan pribadi. Fenomena tersebut menjadi perhatian para ahli karena hubungan emosional anak dengan teknologi perlu tetap berada dalam pendampingan orang tua. Psikolog klinis dan keluarga Pritta Tyas Mangestuti mengingatkan bahwa ketika seorang anak merasa lebih nyaman mencurahkan isi hati kepada AI dibandingkan kepada ayah atau ibunya, kondisi tersebut perlu menjadi bahan evaluasi dalam keluarga. Masalah utamanya bukan semata-mata keberadaan teknologi. Hal yang perlu diperhatikan adalah apakah anak merasa memiliki ruang yang cukup aman untuk berbicara di rumah. Menurut Pritta, kebutuhan dasar seorang anak adalah merasa diterima dan dicintai apa adanya. Perasaan aman tersebut menjadi semakin penting ketika anak memasuki masa praremaja dan remaja. Pada fase ini, anak mengalami banyak perubahan. Mereka mulai menghadapi perubahan fisik, emosi, hubungan pertemanan, tekanan akademik hingga pertanyaan mengenai identitas dirinya sendiri. Anak membutuhkan seseorang yang dapat mendengarkan cerita mereka tanpa langsung menghakimi. Namun dalam kehidupan sehari-hari, tidak sedikit anak yang akhirnya memilih diam karena khawatir mendapatkan kemarahan atau ceramah ketika menceritakan suatu masalah. Ketika kondisi tersebut terjadi terus-menerus, anak dapat mencari ruang lain yang dianggap lebih nyaman. Salah satunya adalah chatbot berbasis AI. AI dapat memberikan respons secara cepat dan tersedia kapan saja. Hal itu dapat membuat teknologi terasa seperti teman yang selalu siap mendengarkan. Meski demikian, AI tidak dapat sepenuhnya menggantikan hubungan emosional dengan manusia. Respons yang diberikan teknologi juga tidak selalu tepat dan anak belum tentu memiliki kemampuan untuk membedakan saran yang baik dengan informasi yang keliru. Karena itu, orang tua tetap memiliki peran utama.
Tags:
pendidikan
Komentar Pengguna