Parenting
M. Panji Maulana

Anak Sering Menjawab “Nanti” Saat Disuruh? Ini Cara Mengajaknya Bekerja Sama Tanpa Mengomel

Anak Sering Menjawab “Nanti” Saat Disuruh? Ini Cara Mengajaknya Bekerja Sama Tanpa Mengomel

31 Oktober 2026 | 21:36

Keboncinta.com-Pernahkah Ayah atau Bunda meminta anak membereskan mainan, tetapi jawabannya hanya satu kata, “Nanti!”? Lima menit kemudian, mainan masih berserakan. Ketika diingatkan kembali, jawabannya tetap sama. Sampai akhirnya orang tua meninggikan suara karena merasa permintaannya tidak didengarkan.

Situasi seperti ini mungkin terlihat sederhana, tetapi cukup sering menjadi pemicu pertengkaran kecil dalam keluarga. Orang tua merasa anak sengaja mengabaikan perintah, sementara anak merasa aktivitas yang sedang dilakukannya tiba-tiba harus dihentikan.

Menariknya, kebiasaan menjawab “nanti” tidak selalu berarti anak malas, tidak hormat, atau sengaja membantah.

Ada anak yang masih kesulitan berpindah dari satu kegiatan ke kegiatan lainnya. Ada pula yang belum memahami instruksi, membutuhkan bantuan memulai tugas, atau ingin menyelesaikan aktivitas yang sedang dikerjakan.

Karena itu, sebelum mengomel, orang tua perlu memahami apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana cara memberikan arahan yang lebih efektif.

Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat, melalui panduan pengasuhan yang diperbarui pada April 2026, menekankan pentingnya instruksi yang sederhana, jelas, sesuai kemampuan anak, serta disampaikan dengan nada tenang.

Pendekatan tersebut dapat membantu orang tua membangun kerja sama tanpa harus menjadikan suara keras sebagai cara utama agar anak mau mendengarkan.

Mengapa Anak Sering Menjawab “Nanti” Saat Disuruh?

Jawaban “nanti” dapat muncul karena beberapa alasan. Penyebabnya tidak selalu sama pada setiap anak maupun situasi.

1. Anak Sedang Menikmati Aktivitasnya

Ketika anak sedang bermain, menggambar, atau membaca sesuatu yang menarik, perhatian mereka mungkin masih tertuju pada kegiatan tersebut.

Permintaan untuk segera berhenti dapat terasa sebagai gangguan terhadap sesuatu yang sedang mereka nikmati.

Sebagai contoh, anak sedang menyusun bangunan dari balok dan hampir menyelesaikannya. Tiba-tiba orang tua meminta agar semua mainan dibereskan.

Anak mungkin menjawab “nanti” karena ingin menyelesaikan bangunannya terlebih dahulu.

Dalam keadaan seperti ini, orang tua dapat memberikan pemberitahuan sebelum pergantian aktivitas apabila jadwal memungkinkan.

2. Anak Belum Memahami Apa yang Harus Dilakukan

Perintah seperti “Cepat bereskan semuanya!” mungkin terdengar jelas bagi orang dewasa, tetapi belum tentu mudah dipahami anak kecil.

Anak mungkin tidak mengetahui pekerjaan mana yang harus dilakukan terlebih dahulu.

CDC menyarankan agar orang tua memberikan satu instruksi yang spesifik dan sesuai dengan kemampuan anak, terutama pada usia balita dan prasekolah.

Daripada mengatakan “Bereskan kamar sekarang!”, orang tua dapat memulai dengan “Masukkan balok ke kotak mainan, ya.”

Setelah tugas pertama selesai, barulah berikan arahan berikutnya.

3. Anak Ingin Memiliki Kesempatan Memilih

Seiring bertambahnya usia, anak mulai mengembangkan keinginan untuk membuat keputusan sendiri.

Ketika seluruh aktivitas ditentukan sepihak, sebagian anak mungkin menunjukkan penolakan atau mencoba menunda.

Memberikan pilihan terbatas dapat membantu mereka merasakan keterlibatan tanpa menghilangkan aturan yang penting.

Misalnya, “Kamu mau menyimpan mobil-mobilan dulu atau baloknya dulu?”

Pilihan tersebut tetap mengarahkan anak pada tujuan yang sama, yaitu merapikan mainan.

4. Anak Sedang Lelah atau Membutuhkan Istirahat

Anak yang baru pulang sekolah mungkin membutuhkan waktu untuk makan, beristirahat, atau menenangkan diri sebelum mengerjakan kegiatan lain.

Jika orang tua langsung memberikan beberapa tugas sekaligus, anak dapat merasa kewalahan.

Kebutuhan istirahat perlu dibedakan dari kebiasaan menghindari tanggung jawab.

Orang tua dapat mengatur rutinitas yang memberikan kesempatan istirahat sekaligus waktu yang jelas untuk menyelesaikan tugas.

5. Anak Terbiasa Mendengar Instruksi Berulang-ulang

Ada keluarga yang tanpa sadar terbiasa memberikan instruksi berkali-kali.

Permintaan pertama dianggap belum mendesak. Permintaan kedua juga tidak diikuti. Anak baru bergerak ketika orang tua mulai berteriak.

Apabila pola ini terjadi berulang, anak dapat belajar bahwa instruksi baru benar-benar harus dilaksanakan ketika suara orang tua sudah meninggi.

Karena itu, konsistensi lebih penting daripada banyaknya pengulangan.

Cara Menghadapi Anak yang Selalu Menjawab “Nanti”

1. Dekati Anak Sebelum Memberikan Instruksi

Daripada berteriak dari dapur ketika anak sedang bermain di ruang keluarga, cobalah mendekat terlebih dahulu.

Sebut namanya dengan tenang, pastikan perhatian anak sudah terarah, kemudian sampaikan permintaan.

Contohnya:

“Adik, sebentar lihat Bunda. Setelah ini, tolong masukkan mainan ke kotaknya, ya.”

Untuk anak kecil, orang tua juga dapat menggunakan gerakan tangan atau menunjukkan benda yang harus dibereskan.

Cara ini membantu memastikan bahwa anak benar-benar menerima pesan yang disampaikan.

2. Gunakan Kalimat yang Singkat dan Spesifik

Instruksi panjang dapat membuat anak kesulitan memahami prioritas.

Sebagai contoh, orang tua mengatakan:

“Cepat bereskan kamar, ganti baju, cuci tangan, siapkan buku, terus jangan lupa makan!”

Bagi anak usia dini, beberapa instruksi sekaligus dapat terasa terlalu banyak.

Mulailah dengan satu tindakan yang paling penting.

“Sekarang, simpan mainan ke kotak.”

Setelah selesai, lanjutkan dengan arahan berikutnya.

3. Berikan Peringatan Sebelum Berganti Aktivitas

Jika anak sedang melakukan kegiatan yang menyenangkan, orang tua dapat memberikan pemberitahuan sebelum aktivitas harus dihentikan.

Misalnya:

“Lima menit lagi waktunya membereskan mainan, ya.”

Gunakan jam atau pengingat visual bila membantu.

Namun, pemberitahuan ini tidak berarti anak selalu harus memperoleh tambahan waktu setiap kali diminta melakukan sesuatu.

Untuk situasi yang menyangkut keselamatan, orang tua perlu memberikan arahan langsung tanpa menunggu.

4. Jangan Membuat Kata “Nanti” Menjadi Tidak Jelas

Salah satu penyebab kebiasaan menunda terus berulang adalah tidak adanya kesepakatan waktu.

Ketika anak menjawab “nanti”, orang tua dapat membantu memperjelas maksudnya.

Contohnya:

Anak: “Nanti, Bunda!”

Bunda: “Baik, kamu ingin menyelesaikan gambar dulu.

LANJUT MEMBACA
Jelajahi Artikel
1 / 2
LANJUTKAN MEMBACA Selanjutnya
Tags:
anak susah disuruh anak sering bilang nanti cara menghadapi anak Parenting Positif anak suka menunda komunikasi orang tua anak

Komentar Pengguna