Parenting
M. Panji Maulana

Anak Suka Membantah Orang Tua? Kenali Penyebab dan Cara Meresponsnya Sesuai Usia

Anak Suka Membantah Orang Tua? Kenali Penyebab dan Cara Meresponsnya Sesuai Usia

31 Oktober 2026 | 21:45

Terapkan Batasan dengan Konsisten

Menghargai pendapat anak bukan berarti setiap aturan dapat dibatalkan.

Orang tua tetap perlu mempunyai batasan yang jelas mengenai keselamatan, perilaku menyakiti, dan tanggung jawab keluarga.

Konsekuensi yang diterapkan harus proporsional, tidak merendahkan, serta berkaitan dengan perilaku yang perlu diperbaiki.

6. Berikan Contoh Cara Berbeda Pendapat

Orang tua dapat menunjukkan bahwa ketidaksetujuan tidak harus disampaikan dengan suara keras.

Jika orang tua pernah bereaksi berlebihan, meminta maaf dan memperbaiki cara bicara juga menjadi contoh penting.

“Maaf, Ayah tadi berbicara terlalu keras. Ayah tetap perlu membicarakan aturan ini, tetapi seharusnya dengan cara yang lebih baik.”

7. Apresiasi Cara Berbicara yang Sopan

Saat anak berhasil menjelaskan ketidaksetujuannya dengan tenang, berikan apresiasi yang spesifik.

“Terima kasih sudah menjelaskan alasanmu tanpa berteriak.”

CDC menjelaskan bahwa pujian yang menyebut perilaku secara jelas dapat membantu anak memahami tindakan positif yang diharapkan.

Baca Juga: Membangun Komunikasi Dua Arah: Agar Anak Tidak Takut Bercerita pada Orang Tua

Contoh Kalimat Menghadapi Anak yang Membantah

Beberapa respons berikut dapat membantu orang tua memisahkan masalah perilaku dengan harga diri anak.

Ketika anak berkataHindari responsCoba katakan
“Aku nggak setuju!”“Kamu tidak boleh membantah!”“Apa yang membuatmu tidak setuju?”
“Ayah juga begitu!”“Jangan menggurui Ayah!”“Kalau Ayah salah, kita bisa membicarakannya.”
“Kenapa harus aku?”“Pokoknya kerjakan!”“Karena ini bagian dari tanggung jawabmu.”
“Aku tidak mau!”“Dasar anak melawan!”“Boleh jelaskan apa yang membuatmu keberatan?”
“Ini nggak adil!”“Kamu banyak alasan!”“Bagian mana yang menurutmu tidak adil?”
Anak berteriakMembalas dengan teriakan“Bunda mau mendengarkan kalau kita bicara tanpa berteriak.”

Orang tua tidak harus menggunakan kalimat yang persis sama. Pilih kata yang alami dan sesuai budaya komunikasi keluarga.

Apakah Anak Harus Selalu Menuruti Orang Tua?

Menghormati orang tua merupakan nilai penting dalam banyak keluarga. Namun, menghormati tidak harus berarti anak kehilangan kesempatan untuk berpikir, bertanya, atau menyampaikan ketidaksetujuan.

Anak perlu belajar bahwa pendapat orang lain patut dihargai, termasuk pendapat orang tua.

Sebaliknya, orang tua juga dapat menunjukkan penghargaan terhadap pandangan anak.

Dengan demikian, keluarga dapat mengembangkan dua keterampilan sekaligus: kemampuan menyampaikan pendapat secara sopan dan kemampuan menerima batasan ketika diperlukan.

Misalnya, anak boleh mengusulkan waktu belajar yang berbeda. Namun, tanggung jawab menyelesaikan pekerjaan sekolah tetap berlaku.

Pada persoalan yang menyangkut keselamatan, orang tua mempunyai tanggung jawab lebih besar untuk menetapkan batasan tegas.

Tidak semua keputusan harus dinegosiasikan, tetapi alasan keputusan tetap dapat dijelaskan.

Kesalahan Orang Tua yang Justru Memperparah Pertengkaran

Beberapa kebiasaan yang sebaiknya dihindari antara lain:

Pertama, selalu menganggap pertanyaan anak sebagai pembangkangan.

Kedua, memotong penjelasan anak sebelum memahami maksudnya.

Ketiga, menggunakan kalimat yang merendahkan seperti “anak tidak tahu diri” atau “kamu memang susah diatur”.

Keempat, membandingkan anak dengan saudara atau teman yang dianggap lebih patuh.

Kelima, mengancam mencabut kasih sayang ketika anak berbeda pendapat.

Keenam, membalas teriakan anak dengan teriakan yang lebih keras.

Ketujuh, menerapkan aturan yang berubah-ubah tanpa penjelasan.

Kedelapan, menuntut anak menghormati orang tua, tetapi tidak pernah menunjukkan contoh berbicara dengan hormat.

Kesembilan, memaksa anak langsung menyetujui semua keputusan ketika sedang sangat emosional.

Kesepuluh, menganggap permintaan maaf dari orang tua sebagai bentuk kehilangan wibawa.

Menghindari kesalahan tersebut bukan berarti membiarkan perilaku tidak sopan. Orang tua tetap dapat menetapkan konsekuensi yang wajar dan konsisten.

Kapan Kebiasaan Membantah Perlu Mendapat Perhatian Khusus?

Perbedaan pendapat dan penolakan sesekali dapat terjadi dalam perkembangan anak.

Namun, orang tua perlu memperhatikan apabila perilaku tersebut sangat sering, berlangsung lama, semakin berat, dan mengganggu kehidupan keluarga, sekolah, atau hubungan sosial anak.

Perhatian lebih lanjut juga diperlukan jika konflik disertai kekerasan fisik, ancaman serius, perilaku menyakiti diri, atau perubahan emosi dan fungsi sehari-hari yang mencolok.

Tidak ada satu kalimat bantahan yang dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa anak mempunyai gangguan perilaku tertentu.

Penilaian perlu melihat usia, konteks, frekuensi, dampak, dan kondisi perkembangan anak secara keseluruhan.

Jika konflik terus berulang dan sulit ditangani, orang tua dapat berkonsultasi dengan psikolog anak, dokter anak, atau profesional kesehatan mental yang kompeten.

Tujuannya bukan memberi cap buruk kepada anak, melainkan memahami kebutuhan dukungan yang paling sesuai.

Baca Juga: Jangan Langsung Dimarahi, Begini Cara Menghadapi Anak yang Sering Mengelak

Mengajarkan Anak Sopan Tidak Harus Membuatnya Takut Berpendapat

Keinginan anak untuk mempertanyakan aturan atau menyampaikan ketidaksetujuan tidak selalu menunjukkan kurangnya rasa hormat kepada orang tua.

Dalam banyak situasi, perilaku tersebut berkaitan dengan proses belajar mengembangkan kemandirian, mengelola emosi, dan memahami hubungan sosial.

Orang tua mempunyai peran penting untuk membimbing proses tersebut.

Anak perlu mengetahui bahwa mereka boleh mengemukakan pendapat, tetapi tetap harus memperhatikan cara berbicara, pilihan kata, dan perasaan orang lain.

Di sisi lain, orang tua juga perlu memberikan contoh komunikasi yang menghargai, termasuk saat menghadapi pandangan yang berbeda.

Aturan keluarga dapat diterapkan secara tegas tanpa menggunakan ancaman, penghinaan, atau kekerasan.

Dengan mendengarkan, memberikan penjelasan, menetapkan batasan, dan memberi kesempatan berdiskusi sesuai usia, orang tua dapat mengubah perdebatan sehari-hari menjadi kesempatan belajar.

Pada akhirnya, tujuan pendidikan keluarga bukan sekadar menghasilkan anak yang selalu diam ketika dinasihati, melainkan membantu mereka tumbuh menjadi pribadi yang mampu berpikir, bertanggung jawab, menghormati orang lain, dan menyampaikan pendapat secara bijaksana.

Referensi

  1. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). (2026). Tips for Giving Directions. https://www.cdc.gov/parenting-toddlers/communication/giving-directions.html
  2. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). (2026). Tips for Responding to Behavior. https://www.cdc.gov/parenting-toddlers/responding-to-behavior/
  3. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). (2026). Tips for Using Praise and Rewards. https://www.cdc.gov/parenting-toddlers/responding-to-behavior/using-rewards.html
  4. UNICEF Indonesia. How to Support Your Teen During Stressful Times. https://www.unicef.org/indonesia/how-support-your-teen-during-stressful-times
  5. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). (2024). Steps for Giving Good Directions. https://www.cdc.gov/parenting-toddlers/directions/good-directions.html
LANJUT MEMBACA
Jelajahi Artikel
2 / 2
HALAMAN SEBELUMNYA Sebelumnya
Tags:
anak suka membantah anak melawan orang tua cara menghadapi anak Parenting Positif komunikasi anak dan orang tua Mendidik Anak

Komentar Pengguna