Teknologi
Hilmi An Naufal

Anak Sulit Lepas dari Gadget? Ini 7 Cara Orang Tua Mengaturnya Tanpa Drama

Anak Sulit Lepas dari Gadget? Ini 7 Cara Orang Tua Mengaturnya Tanpa Drama

13 Agustus 2026 | 06:24

KebonCinta.com – “Sebentar lagi ya.”

Kalimat itu mungkin sudah terdengar berkali-kali ketika orang tua meminta anak berhenti bermain gim, menonton YouTube, atau menggunakan tablet.

Lima menit berlalu.

Anak masih memegang perangkat.

Ketika akhirnya gadget benar-benar diambil, tangisan atau kemarahan bisa muncul.

Situasi tersebut membuat banyak orang tua menyimpulkan anak sudah “kecanduan gadget”. Namun penggunaan layar pada anak sebenarnya tidak sesederhana menghitung berapa jam perangkat berada di tangannya.

American Academy of Pediatrics (AAP) pada panduan 2026 justru mendorong keluarga bergerak melampaui aturan lama yang hanya berfokus pada angka screen time. Orang tua juga perlu melihat karakter anak, kualitas konten, bagaimana gadget digunakan untuk menenangkan emosi, aktivitas apa yang tersingkir, dan bagaimana komunikasi di dalam keluarga.

UNICEF juga mengingatkan bahwa teknologi dapat membawa manfaat sekaligus risiko. Laporan globalnya pada 2025 bahkan tidak menemukan bukti jelas bahwa durasi screen time sendirian secara langsung merusak kesehatan mental anak. Yang jauh lebih penting adalah apa yang dilakukan anak di dunia digital dan pengalaman apa yang mereka hadapi di sana.

Jadi, bagaimana membantu anak yang terasa semakin sulit lepas dari gadget?

1. Cari Tahu Dulu Mengapa Anak Terus Mencari Gadget

Sebelum membuat aturan baru, coba amati penyebabnya.

Apakah anak memakai gadget karena sedang bosan?

Apakah ia tidak mempunyai teman bermain?

Apakah perangkat selalu diberikan ketika menangis?

Atau memang orang tua sedang sibuk sehingga gadget menjadi aktivitas yang paling mudah tersedia?

UNICEF menyarankan orang tua tidak langsung menyalahkan teknologi untuk setiap masalah. Penggunaan perangkat yang berlebihan kadang menjadi tanda ada persoalan lain yang perlu dipahami melalui percakapan.

Untuk anak yang lebih besar, tanyakan apa yang membuat aplikasi tertentu begitu menarik.

Jangan mulai percakapan dengan:

“Main HP terus!”

Coba tanyakan:

“Game ini bagian yang paling kamu suka apa?”

atau:

“Video apa yang biasanya kamu tonton?”

Percakapan seperti ini memberi orang tua informasi yang jauh lebih berguna daripada sekadar mengetahui total screen time.

2. Buat Aturan yang Jelas dan Bisa Diprediksi

Anak akan lebih sulit menerima penghentian yang terasa tiba-tiba.

Hari ini boleh bermain dua jam, besok dimarahi setelah 20 menit, lalu akhir pekan diperbolehkan seharian.

Aturan seperti itu membuat anak tidak mempunyai gambaran kapan waktunya berhenti.

AAP menyarankan keluarga membuat Family Media Plan, yaitu aturan penggunaan teknologi yang disesuaikan dengan rutinitas dan nilai keluarga. Rekomendasinya termasuk membuat zona bebas layar, menggunakan satu layar dalam satu waktu, mematikan autoplay serta notifikasi, dan menyediakan aktivitas alternatif.

Contohnya:

Gadget boleh digunakan setelah pekerjaan rumah selesai.

Saat makan tidak ada perangkat.

Sebelum tidur menjadi waktu bebas layar.

Durasi bermain gim disepakati sebelum permainan dimulai.

Untuk anak kecil, timer bawaan perangkat juga dapat membantu karena anak mengetahui sejak awal kapan waktunya selesai.

Kuncinya adalah konsisten.

3. Jangan Selalu Memberikan Gadget Ketika Anak Menangis

Ada satu kebiasaan yang sangat mudah terbentuk.

Anak mulai rewel di restoran.

Tablet diberikan.

Anak bosan di mobil.

Smartphone diberikan.

Anak menangis.

YouTube dibuka.

Memang sering kali gadget berhasil menghentikan tangisan dengan cepat.

Namun AAP meminta orang tua memperhatikan unsur Calm dalam panduan 5C. Anak tetap perlu belajar berbagai cara untuk menenangkan emosi dan tidak menjadikan media digital sebagai satu-satunya strategi ketika marah, bosan, atau hendak tidur.

Untuk balita dan anak prasekolah, AAP secara khusus menyarankan agar perangkat tidak selalu digunakan sebagai pengalih ketika anak sedang kesal atau bosan.

Alternatifnya bisa sederhana.

Pelukan.

Menggambar.

Mendengarkan cerita.

Berjalan sebentar.

Bermain balok.

Mengajak anak membantu pekerjaan kecil.

Tujuannya bukan melarang gadget saat anak sedang sedih, tetapi memastikan ia juga mempunyai cara lain untuk mengelola perasaannya.

4. Kalau Anak Marah Saat Waktu Habis, Jangan Langsung Menyerah

Tantrum saat gadget dimatikan merupakan situasi yang cukup umum.

Jika setiap kali anak menangis kemudian perangkat dikembalikan, ia dapat belajar bahwa kemarahan adalah cara efektif mendapatkan tambahan waktu.

AAP menyarankan orang tua tetap tenang ketika terjadi tantrum akibat berakhirnya screen time dan memberi anak ruang untuk menenangkan diri. Anak yang lebih kecil dapat diarahkan ke tempat yang aman dan tenang sampai emosinya mereda.

Hal yang membantu adalah memberikan peringatan terlebih dahulu.

“Lima menit lagi selesai.”

Kemudian:

“Video ini yang terakhir.”

Saat waktunya habis, aturan tetap dijalankan.

Tidak harus dengan teriakan atau ancaman.

Anak mungkin tetap kecewa. Itu tidak berarti aturannya gagal.

Belajar menerima batas juga merupakan proses.

5. Jangan Hanya Mengurangi Gadget, Isi Waktu Kosongnya

Bayangkan seorang anak biasa bermain tablet tiga jam setiap sore.

Kemudian orang tua tiba-tiba membatasi menjadi satu jam.

Ada dua jam kosong.

Kalau tidak tersedia aktivitas lain, wajar jika anak terus meminta perangkat kembali.

AAP menyarankan keluarga memikirkan aktivitas yang ingin “direbut kembali” dari waktu layar, seperti tidur, membaca, bermain di luar, berinteraksi dengan keluarga, mengerjakan tugas, atau bermain dengan hewan peliharaan.

Karena itu, jangan hanya berkata:

“Sudah, simpan HP.”

Lanjutkan dengan pilihan.

“Mau main sepeda atau menggambar?”

“Mau bantu bikin makanan atau main bola?”

“Mau baca buku atau main puzzle?”

Untuk anak kecil, waktu bersama orang tua sering jauh lebih menarik dibandingkan sekadar diperintah meninggalkan gadget sendirian.

6. Dampingi Anak Saat Menggunakan Teknologi

Ada perbedaan besar antara anak diberikan tablet lalu ditinggalkan berjam-jam dan anak menggunakan perangkat bersama orang tua.

AAP pada 2026 mendorong co-viewing atau co-use, yaitu orang tua ikut menonton, bermain, atau mengeksplorasi media bersama anak. Pendampingan membantu orang tua memahami konten sekaligus membuka kesempatan untuk berbicara mengenai apa yang sedang dilihat.

Misalnya ketika menonton video:

“Menurut kamu kenapa tokohnya melakukan itu?”

Saat bermain gim:

“Bagian yang paling sulit yang mana?”

Ketika muncul iklan:

“Kamu tahu tidak kenapa iklan ini muncul?”

Pendampingan juga membuat orang tua lebih cepat mengetahui jika anak menemukan konten menakutkan, perundungan, orang asing, iklan manipulatif, atau informasi yang tidak sesuai usia.

UNICEF bahkan menyarankan orang tua mencoba teknologi bersama anak dan mengetahui aplikasi apa yang mereka gunakan, bukan hanya mengawasi dari jauh.

7. Orang Tua Juga Harus Mengikuti Aturan

Sulit meminta anak meletakkan tablet ketika ayah dan ibunya terus menatap smartphone saat makan.

Anak memperhatikan perilaku orang dewasa.

AAP menyarankan orang tua menjadi contoh dalam kebiasaan digital, termasuk meletakkan ponsel saat makan dan waktu tidur serta menunjukkan bahwa orang dewasa juga bisa mengambil jeda dari perangkat.

UNICEF mempunyai pesan serupa: membangun kebiasaan digital sebaiknya menjadi kerja sama keluarga, bukan situasi “orang tua melawan anak”.

Jadi kalau meja makan ditetapkan sebagai zona bebas gadget, aturan berlaku kepada semua orang.

Termasuk ayah.

Termasuk ibu.

Kecuali memang ada kebutuhan penting.

Anak akan jauh lebih mudah memahami aturan ketika ia melihat semua anggota keluarga menjalankannya.

Bagaimana dengan Batas Screen Time Berdasarkan Usia?

Untuk anak usia dini, WHO masih memberikan rekomendasi yang cukup spesifik.

Pada usia satu tahun, sedentary screen time tidak direkomendasikan. Untuk usia dua tahun, waktu layar sedentari direkomendasikan tidak lebih dari satu jam sehari dan lebih sedikit lebih baik. Untuk usia tiga hingga empat tahun, rekomendasinya juga maksimal satu jam sehari dan lebih sedikit dinilai lebih baik.

Namun untuk anak yang lebih besar, pendekatan terbaru AAP tidak lagi hanya berpusat pada aturan universal “maksimal dua jam”.

AAP memperkenalkan pendekatan 5C:

Child — siapa anaknya dan bagaimana media memengaruhinya.

Content — apa yang ditonton atau dimainkan.

Calm — apakah gadget menjadi satu-satunya cara menenangkan diri.

Crowding Out — aktivitas penting apa yang tergeser.

Communication — bagaimana keluarga membicarakan teknologi.

Pendekatan ini membuat orang tua tidak hanya sibuk menghitung menit.

Jangan Lupakan Kualitas Konten

Satu jam video pendidikan yang ditonton bersama orang tua tidak sama dengan satu jam konten acak yang terus berganti melalui autoplay.

AAP menekankan kualitas konten dapat memengaruhi apakah hubungan anak dengan media menjadi lebih positif atau negatif.

Tags:
teknologi

Komentar Pengguna