Parenting
Rahman Abdullah

Anak Susah Diminta Tolong? Ini 8 Cara Melatihnya agar Lebih Peduli dan Mau Membantu

Anak Susah Diminta Tolong? Ini 8 Cara Melatihnya agar Lebih Peduli dan Mau Membantu

02 November 2026 | 13:55

Hindari menganggap anak sengaja tidak mau membantu ketika sebenarnya ia belum memahami instruksi.

4. Berikan Pilihan agar Anak Merasa Dilibatkan

Anak terkadang menolak karena merasa selalu diperintah. Untuk mengurangi penolakan, orang tua bisa memberikan pilihan sederhana yang tetap mengarah pada tanggung jawab.

Misalnya, tanyakan apakah anak ingin merapikan mainan terlebih dahulu atau memasukkan pakaian kotor ke keranjang. Keduanya merupakan tugas yang perlu dilakukan, tetapi anak diberi kesempatan menentukan urutannya.

Cara ini dapat membuat anak merasa pendapatnya dihargai. Ia juga belajar mengambil keputusan dan memahami bahwa membantu bukan sekadar mengikuti perintah, melainkan ikut berperan dalam kehidupan keluarga.

5. Berikan Apresiasi atas Usahanya

Ketika anak bersedia membantu, jangan lupa memberikan penghargaan melalui ucapan atau perhatian. Apresiasi tidak harus berupa hadiah atau uang.

Katakan, misalnya, "Terima kasih sudah membantu merapikan mainan" atau "Ibu senang kamu mau membereskan meja." Ucapan sederhana seperti ini membuat anak mengetahui bahwa usahanya diperhatikan.

Usahakan menghargai proses, bukan hanya hasil yang sempurna. Jika anak belum melakukannya dengan rapi, berikan arahan dengan baik tanpa langsung mengambil alih pekerjaannya.

Dengan begitu, anak dapat memahami bahwa membantu adalah perilaku positif yang patut dibiasakan, bukan semata-mata cara untuk mendapatkan hadiah.

6. Jadikan Kegiatan Membantu Lebih Menyenangkan

Pekerjaan rumah bisa terasa membosankan bagi anak jika selalu disampaikan sebagai kewajiban. Orang tua dapat mengubah suasananya menjadi kegiatan bersama yang lebih menyenangkan.

Contohnya, ajak anak merapikan mainan sambil menyusun berdasarkan warna atau jenisnya. Ketika membereskan meja, orang tua bisa mengajak anak menghitung jumlah piring yang perlu disiapkan.

Untuk anak yang lebih besar, buat tantangan sederhana dengan batas waktu yang wajar. Namun, jangan sampai kegiatan tersebut berubah menjadi perlombaan yang membuat anak merasa tertekan.

Tujuannya bukan membuat semua pekerjaan menjadi permainan, melainkan menciptakan pengalaman positif agar anak tidak selalu menganggap membantu sebagai sesuatu yang menyebalkan.

7. Terapkan Aturan dan Rutinitas Secara Konsisten

Kebiasaan tidak terbentuk hanya melalui satu atau dua kali permintaan. Anak perlu memahami bahwa ada tanggung jawab yang dilakukan secara rutin.

Orang tua dapat membuat aturan sederhana, seperti mainan harus dikembalikan setelah bermain, pakaian kotor diletakkan di keranjang, dan perlengkapan sekolah disiapkan sebelum tidur.

Jelaskan aturan tersebut dengan bahasa yang mudah dipahami. Terapkan secara konsisten dan berikan pengingat jika anak lupa.

Hindari terus-menerus menyelesaikan semua pekerjaan anak hanya karena ingin cepat selesai. Berikan kesempatan kepadanya untuk belajar bertanggung jawab, selama tugas tersebut aman dan sesuai kemampuannya.

8. Hindari Membandingkan Anak dengan Orang Lain

Membandingkan anak dengan saudara atau teman sebaya bukan cara yang tepat untuk menumbuhkan kemauan membantu. Kalimat seperti "Lihat temanmu, dia rajin sekali" dapat membuat anak merasa tidak dihargai dan justru semakin enggan bekerja sama.

Setiap anak memiliki perkembangan dan kebiasaan yang berbeda. Lebih baik perhatikan kemajuannya sendiri, sekecil apa pun perubahan yang terlihat.

Jika sebelumnya anak selalu menolak, tetapi sekarang mulai bersedia melakukan satu tugas sederhana, berikan apresiasi. Bantu ia memahami bahwa belajar bertanggung jawab merupakan proses yang membutuhkan latihan.

Kesimpulan

Mengajarkan anak agar mau membantu tidak bisa dilakukan hanya dengan perintah atau teguran.

LANJUT MEMBACA
Jelajahi Artikel
2 / 3
HALAMAN SEBELUMNYA Sebelumnya LANJUTKAN MEMBACA Selanjutnya
Tags:
Mendidik Anak Kemandirian Anak Pendidikan Karakter

Komentar Pengguna