Pendidikan
M. Panji Maulana

Anak Takut Bertanya kepada Guru meski Belum Paham Pelajaran? Ini Cara Orang Tua Membantunya

Anak Takut Bertanya kepada Guru meski Belum Paham Pelajaran? Ini Cara Orang Tua Membantunya

31 Oktober 2026 | 22:02

Keboncinta.com-“Tadi di sekolah paham pelajarannya?”

“Enggak, Bun.”

“Kenapa nggak tanya Bu Guru?”

“Takut diketawain teman.”

Percakapan seperti ini mungkin pernah dialami orang tua ketika mendampingi anak mengerjakan tugas sekolah. Anak terlihat kebingungan membaca soal, tidak memahami penjelasan, tetapi memilih diam saat berada di kelas.

Bagi sebagian orang tua, situasi tersebut membuat khawatir. Mereka mungkin langsung menasihati anak agar lebih berani dan tidak malu bertanya. Namun, nasihat sederhana seperti “Kalau tidak tahu, ya tanya!” belum tentu cukup membantu anak yang benar-benar merasa takut.

Kemampuan bertanya bukan hanya berkaitan dengan keberanian berbicara. Anak juga perlu merasa aman, memahami apa yang ingin ditanyakan, serta mempunyai keyakinan bahwa pertanyaannya tidak akan mempermalukan dirinya.

UNICEF menekankan pentingnya lingkungan belajar dan hubungan yang mendukung rasa aman, kepercayaan diri, serta perkembangan sosial dan emosional anak.

Sementara itu, American Academy of Pediatrics melalui HealthyChildren.org menjelaskan bahwa sebagian anak mempunyai kecenderungan pemalu atau lebih berhati-hati ketika berada dalam situasi sosial. Mereka dapat membutuhkan waktu serta dukungan untuk mengembangkan keterampilan berinteraksi.

Karena itu, sebelum meminta anak lebih aktif di kelas, orang tua perlu memahami alasan di balik keengganannya bertanya.

Mengapa Anak Takut Bertanya kepada Guru?

Ada beberapa alasan yang mungkin membuat anak memilih diam ketika belum memahami pelajaran.

1. Takut Pertanyaannya Dianggap Bodoh

Sebagian anak menganggap bahwa bertanya berarti menunjukkan dirinya tidak pandai.

Perasaan tersebut dapat muncul ketika anak terlalu khawatir dinilai berdasarkan kemampuan menjawab atau memahami pelajaran.

Misalnya, anak merasa semua temannya sudah memahami penjelasan guru, sedangkan dirinya masih bingung.

Ia kemudian memilih diam agar tidak terlihat berbeda.

Orang tua dapat membantu mengubah cara pandang tersebut dengan menjelaskan bahwa bertanya merupakan salah satu cara memperoleh informasi dan memperbaiki pemahaman.

2. Khawatir Ditertawakan Teman

Pengalaman pernah ditertawakan atau dikomentari teman dapat membuat anak enggan mengulangi situasi serupa.

Bahkan ketika kejadian hanya berlangsung sebentar, anak mungkin masih mengingat perasaan malunya.

Namun, orang tua perlu membedakan kekhawatiran yang berasal dari dugaan anak dengan peristiwa yang benar-benar terjadi.

Jika terdapat ejekan berulang, sekolah perlu dilibatkan agar lingkungan belajar kembali aman.

3. Anak Belum Tahu Cara Menyusun Pertanyaan

Terkadang, anak sebenarnya ingin bertanya, tetapi tidak mengetahui bagian mana yang harus disampaikan.

Ia hanya merasa bahwa seluruh materi sulit dipahami.

Anak membutuhkan bantuan mengenali masalah secara lebih spesifik.

Sebagai contoh, daripada mengatakan “Aku nggak paham matematika”, anak dapat berlatih mengatakan “Bu, saya belum mengerti cara mengerjakan langkah kedua.”

Kemampuan tersebut dapat dilatih melalui percakapan sederhana di rumah.

4. Takut Mendapat Respons yang Tidak Menyenangkan

Anak mungkin khawatir guru akan memarahinya karena dianggap tidak memperhatikan.

Kekhawatiran tersebut tidak selalu menunjukkan bahwa guru benar-benar melakukan tindakan tersebut.

Orang tua sebaiknya mendengarkan pengalaman anak terlebih dahulu.

Jika terdapat kejadian yang membuat anak merasa dipermalukan, orang tua dapat membahasnya dengan pihak sekolah secara tenang dan berdasarkan fakta.

5. Anak Membutuhkan Waktu Lebih Lama untuk Memproses Informasi

Tidak semua anak langsung mampu menyusun pertanyaan ketika guru selesai menjelaskan.

Sebagian membutuhkan waktu untuk memahami informasi, mengidentifikasi bagian yang sulit, kemudian menyusun pertanyaan.

Dalam kondisi demikian, strategi menulis pertanyaan terlebih dahulu dapat membantu.

Namun, apabila kesulitan memahami instruksi terjadi secara luas dan terus-menerus, orang tua perlu mempertimbangkan kemungkinan kebutuhan dukungan belajar yang lebih spesifik.

Jangan Langsung Menyebut Anak Pemalu atau Penakut

Ketika mengetahui anak tidak berani bertanya, orang tua terkadang mengatakan:

“Kamu memang terlalu pemalu.”

“Makanya jangan penakut!”

“Temanmu saja berani, kenapa kamu tidak?”

Kalimat tersebut mungkin dimaksudkan untuk memotivasi, tetapi dapat membuat anak semakin khawatir terhadap penilaian orang lain.

Sikap diam di kelas tidak selalu menunjukkan bahwa anak tidak percaya diri dalam seluruh situasi.

Seorang anak mungkin sangat aktif ketika bersama keluarga, tetapi lebih berhati-hati dalam kelompok besar.

Karena itu, orang tua sebaiknya menggambarkan perilaku secara spesifik daripada memberikan label terhadap kepribadian.

Misalnya, “Kamu masih merasa sulit mengangkat tangan di kelas, ya?” lebih tepat daripada menyimpulkan bahwa anak adalah seorang penakut.

Cara Membantu Anak Berani Bertanya kepada Guru

1. Dengarkan Cerita Anak Tanpa Menghakimi

Mulailah dengan bertanya mengenai pengalaman anak.

“Apa yang kamu rasakan ketika ingin bertanya?”

“Bagian mana yang membuatmu takut?”

“Apakah ada kejadian yang membuatmu tidak nyaman?”

Dengarkan jawabannya tanpa langsung menyela dengan nasihat.

Jika anak belum siap bercerita, orang tua dapat memberikan kesempatan pada waktu yang lebih nyaman.

UNICEF menyarankan komunikasi dengan anak usia sekolah dilakukan tanpa tekanan dan memperhatikan suasana hati mereka.

2. Jelaskan bahwa Tidak Paham Bukan Hal Memalukan

Orang tua dapat menjelaskan bahwa belajar merupakan proses memahami sesuatu yang sebelumnya belum diketahui.

Tidak semua pelajaran harus langsung dipahami setelah satu kali penjelasan.

Sebagai contoh, orang tua dapat membagikan pengalaman sederhana ketika dirinya perlu bertanya kepada orang lain.

“Tadi Ayah juga belum paham cara menggunakan aplikasi baru. Jadi Ayah tanya teman yang lebih tahu.”

Contoh tersebut menunjukkan bahwa meminta penjelasan merupakan tindakan yang wajar.

3. Latih Anak Membuat Pertanyaan Kecil

Mulailah dari satu bagian materi yang paling membingungkan.

Contohnya, ketika anak kesulitan mengerjakan pecahan, tanyakan bagian mana yang belum dipahami.

Apakah anak belum memahami cara menyamakan penyebut, membaca soal, atau menghitung hasilnya?

Bantu anak menyusun satu kalimat pertanyaan.

“Bu, bagaimana cara menyamakan penyebut pada soal ini?”

Pertanyaan yang spesifik dapat membantu anak merasa lebih siap.

4. Gunakan Permainan Peran di Rumah

Orang tua dapat berpura-pura menjadi guru, sedangkan anak menjadi siswa.

Berikan penjelasan sederhana mengenai suatu topik, kemudian minta anak berlatih mengajukan pertanyaan.

Misalnya:

Anak: “Bu, saya belum memahami contoh yang kedua.”

Orang tua: “Baik, bagian mana yang ingin dijelaskan kembali?”

Latihan ini tidak perlu berlangsung lama.

Tujuannya adalah memberi pengalaman berbicara dalam suasana aman, bukan menguji keberanian anak secara berlebihan.

5. Mulai dari Cara Bertanya yang Paling Nyaman

Tidak semua anak langsung siap mengangkat tangan di depan seluruh kelas.

Sebagian mungkin lebih nyaman bertanya kepada guru setelah pelajaran selesai, menulis pertanyaan di buku, atau menggunakan mekanisme pertanyaan yang disediakan sekolah.

Orang tua dapat membantu anak memilih cara yang memungkinkan.

Setelah merasa lebih percaya diri, anak dapat mencoba bentuk interaksi berikutnya sesuai kesiapan.

Perkembangan keberanian tidak harus sama antara satu anak dan anak lainnya.

6. Berikan Apresiasi atas Usaha, Bukan Hanya Hasil

Ketika anak berhasil menyampaikan pertanyaan, hargai prosesnya.

Misalnya:

“Tadi kamu sudah berani meminta penjelasan. Bagaimana rasanya?”

Orang tua tidak harus menuntut anak langsung menjadi aktif setiap hari.

Apresiasi juga dapat diberikan ketika anak berhasil menuliskan pertanyaan, mencoba berbicara, atau berani menyampaikan kesulitannya kepada guru.

7. Jalin Komunikasi dengan Guru

Jika anak terus mengalami kesulitan bertanya, orang tua dapat menghubungi wali kelas atau guru mata pelajaran.

Jelaskan keadaan secara objektif.

Misalnya, anak sering kesulitan memahami materi tetapi merasa takut bertanya di depan teman.

Tanyakan apakah guru dapat membantu melalui kesempatan bertanya setelah pembelajaran atau cara lain yang sesuai.

American Academy of Pediatrics menganjurkan komunikasi orang tua dan guru dilakukan secara terbuka serta menggunakan contoh kejadian yang jelas.

Tujuannya bukan menyalahkan guru ataupun anak, melainkan mencari dukungan yang paling tepat.

Baca Juga: Cara Melatih Anak agar Tidak Mudah Menyerah dan Berani Menghadapi Kegagalan

Contoh Kalimat untuk Melatih Anak Berani Bertanya

Berikut beberapa kalimat yang dapat dipraktikkan bersama anak.

SituasiContoh kalimat anak
Belum memahami penjelasan“Bu, boleh dijelaskan sekali lagi?”
Bingung pada langkah tertentu“Saya belum paham langkah kedua.”
Tidak mendengar instruksi“Pak, boleh diulangi tugasnya?”
Membutuhkan contoh“Apakah boleh diberi contoh lain?”
Takut salah menjawab“Saya ingin mencoba, tetapi belum yakin jawabannya.”
Ingin bertanya secara pribadi“Bu, apakah saya boleh bertanya setelah pelajaran?”

Contoh ini dapat disesuaikan dengan budaya komunikasi sekolah dan usia peserta didik.

Latihan Sederhana Selama Satu Minggu

Orang tua dapat menggunakan rencana latihan ringan berikut sebagai contoh, bukan program baku yang wajib diselesaikan.

HariLatihan di rumah
SeninAnak menceritakan satu bagian pelajaran yang belum dipahami
SelasaMenuliskan satu pertanyaan sederhana
RabuBerlatih bertanya melalui permainan peran
KamisMenentukan cara menyampaikan pertanyaan kepada guru
JumatMencoba bertanya jika ada kesempatan yang sesuai
SabtuMembahas pengalaman tanpa menghakimi
MingguMenentukan latihan lanjutan berdasarkan kesiapan anak

Jika anak belum siap pada hari tertentu, tidak perlu dipaksa mengejar jadwal.

Tujuan latihan adalah membangun rasa aman dan keterampilan berkomunikasi secara bertahap.

Apa yang Harus Dilakukan Jika Anak Pernah Ditertawakan di Kelas?

Jika anak menyampaikan bahwa teman-temannya pernah mengejek pertanyaan yang diajukan, orang tua perlu menanggapi pengalaman tersebut dengan serius.

Pertama, dengarkan cerita anak dan pahami kronologinya.

Kedua, pastikan anak mengetahui bahwa meminta penjelasan bukan tindakan yang memalukan.

Ketiga, apabila terdapat ejekan berulang, bicarakan dengan guru atau pihak sekolah.

Keempat, periksa apakah situasi tersebut sudah ditangani dan apakah anak kembali merasa aman.

Jangan menyuruh anak membalas ejekan atau mempermalukan teman di hadapan orang lain.

Sekolah perlu membantu menciptakan suasana kelas yang menghargai pertanyaan dan tidak membiarkan siswa dipermalukan ketika belum memahami pelajaran.

Apakah Anak yang Jarang Bertanya Berarti Tidak Pintar?

Tidak.

Frekuensi bertanya di kelas bukan ukuran tunggal kemampuan berpikir atau kecerdasan anak.

Ada siswa yang menunjukkan pemahaman melalui tugas tertulis, percakapan pribadi, atau hasil pekerjaan.

Ada pula siswa yang jarang bertanya karena sudah memahami materi, sementara yang lain masih membutuhkan keberanian atau cara komunikasi yang sesuai.

Karena itu, orang tua tidak seharusnya menyimpulkan kemampuan akademik hanya dari seberapa sering anak mengangkat tangan.

Untuk mengetahui kebutuhan belajar, perhatikan hasil pekerjaan, penjelasan anak tentang materi, umpan balik guru, serta perkembangan dalam berbagai kegiatan.

Kapan Orang Tua Perlu Mencari Bantuan Tambahan?

Sebagian anak memang lebih pendiam dalam situasi sosial.

Namun, apabila ketakutan berbicara sangat kuat, berlangsung terus-menerus, atau menyebabkan anak kesulitan mengikuti sekolah, orang tua perlu memperhatikan kondisinya lebih jauh.

Misalnya, anak berulang kali mengalami kecemasan berat sebelum berangkat sekolah, menghindari kegiatan belajar, atau tidak mampu berbicara dalam situasi tertentu meskipun sebenarnya ingin menyampaikan sesuatu.

Kondisi tersebut tidak boleh langsung dianggap sebagai sifat pemalu biasa ataupun dijadikan dasar diagnosis secara mandiri.

Orang tua dapat berkonsultasi dengan guru, konselor sekolah, dokter anak, atau psikolog anak sesuai kebutuhan.

Dukungan profesional bertujuan membantu memahami situasi dan menentukan pendekatan yang tepat, bukan memberi label negatif kepada anak.

Baca Juga: Pentingnya Mengenalkan Keberhasilan dan Kegagalan kepada Anak Sejak Dini

Keberanian Bertanya Tumbuh Ketika Anak Merasa Aman

Membantu anak berani bertanya bukan berarti menuntutnya menjadi siswa yang paling banyak berbicara di kelas.

Tujuan utamanya adalah memastikan anak mempunyai kesempatan menyampaikan kesulitan, meminta bantuan, serta memperoleh penjelasan yang dibutuhkan.

Orang tua dapat memulai dari hal sederhana: mendengarkan cerita anak, membantu menyusun pertanyaan, memberikan contoh, dan menghargai setiap usaha.

Komunikasi dengan guru juga menjadi bagian penting ketika kesulitan tersebut berlangsung di lingkungan sekolah.

Anak tidak harus langsung percaya diri setelah satu kali latihan.

LANJUT MEMBACA
Jelajahi Artikel
1 / 2
LANJUTKAN MEMBACA Selanjutnya
Tags:
anak takut bertanya anak malu di kelas Anak Tidak Percaya Diri parenting anak sekolah komunikasi dengan guru Anak Takut Salah

Komentar Pengguna