Keboncinta.com-- Bullying pada anak tidak selalu terlihat dalam bentuk luka atau kejadian yang mudah dikenali. Dalam sejumlah kasus, dampaknya justru muncul melalui perubahan perilaku, seperti anak yang mendadak lebih banyak diam, kehilangan semangat pergi ke sekolah, menjauh dari teman, hingga mengalami penurunan prestasi.
Perundungan juga bukan sekadar pertengkaran biasa antaranak. Pengalaman tersebut dapat memengaruhi rasa aman, kepercayaan diri, serta kondisi emosional anak.
Karena itu, upaya mencegah bullying membutuhkan perhatian bersama. Orang tua, guru, sekolah, dan lingkungan sekitar perlu menciptakan suasana yang membuat anak merasa aman untuk belajar, bermain, dan berinteraksi.
Lantas, apa saja perubahan yang perlu diperhatikan orang tua dan bagaimana cara mencegah bullying sejak dini?
Baca Juga: Mau Magang di BUMN? Jangan Asal Klik Daftar, Ini Syarat dan Dokumen yang Harus Disiapkan
Hubungan yang terbuka antara orang tua dan anak menjadi salah satu langkah penting untuk mengetahui persoalan yang sedang dihadapi anak.
Pembicaraan sebaiknya tidak hanya berkisar pada nilai sekolah, tugas, atau pekerjaan rumah. Orang tua dapat menanyakan bagaimana pengalaman anak sepanjang hari, hubungan dengan teman, serta hal-hal yang membuatnya merasa senang maupun tidak nyaman.
Ketika anak mulai bercerita, usahakan tidak langsung memotong, menyalahkan, atau memberikan penilaian. Dengarkan terlebih dahulu dan tunjukkan bahwa cerita anak dianggap penting.
Anak yang merasa didengar akan lebih mudah menjadikan orang tua sebagai tempat untuk mencari bantuan ketika menghadapi persoalan.
Pencegahan bullying juga dapat dimulai dari rumah dengan membiasakan anak memahami perasaan orang lain.
Anak perlu mengetahui bahwa perkataan dan tindakan yang dilakukan dapat memengaruhi orang di sekitarnya. Sesuatu yang dianggap sebagai candaan belum tentu menyenangkan bagi orang yang menjadi sasaran.
Orang tua dapat memberikan contoh melalui situasi sehari-hari. Ajak anak membicarakan bagaimana perasaan seseorang ketika diejek, dipermalukan, dikucilkan, atau diperlakukan secara tidak adil.
Pembiasaan tersebut dapat membantu anak memahami pentingnya menghormati orang lain serta membangun hubungan sosial yang lebih sehat.
Baca Juga: Anak Sulit Menunggu dan Sering Bertindak Spontan? Ini Cara Melatih Kontrol Diri Sejak Dini
Bullying kini tidak hanya terjadi secara langsung. Perundungan juga dapat berlangsung melalui media sosial, grup percakapan, gim daring, dan berbagai platform digital.
Karena itu, orang tua perlu memahami bagaimana anak menggunakan internet dan berkomunikasi dengan orang lain di dunia maya.
Pendampingan bukan berarti melakukan pengawasan secara berlebihan. Orang tua dapat mengajak anak berdiskusi mengenai etika berkomunikasi secara daring, pentingnya menjaga informasi pribadi, serta dampak menyebarkan foto atau konten yang dapat mempermalukan orang lain.
Anak juga perlu mengetahui bahwa tindakan di internet tetap dapat memberikan dampak nyata. Jika menemukan atau mengalami perundungan daring, anak harus tahu kepada siapa ia dapat meminta pertolongan.
Tidak semua anak berani mengatakan secara langsung bahwa dirinya sedang mengalami bullying. Karena itu, orang tua perlu peka terhadap perubahan yang muncul dalam keseharian.
Anak yang biasanya ceria kemudian menjadi lebih tertutup, kehilangan minat beraktivitas, tidak bersemangat pergi ke sekolah, atau mulai menghindari pergaulan perlu mendapatkan perhatian lebih.
Perubahan pola tidur, keluhan fisik yang berulang, berkurangnya minat pada kegiatan yang sebelumnya disukai, hingga perubahan prestasi juga patut diperhatikan.
Namun, perubahan tersebut tidak secara otomatis menunjukkan bahwa anak menjadi korban bullying. Banyak faktor lain yang dapat memengaruhi perilaku anak. Meski demikian, perubahan yang berlangsung terus-menerus menjadi alasan bagi orang tua untuk mengajak anak berbicara secara lebih mendalam.
Baca Juga: Lowongan Magang BUMN Tinggal Hitungan Hari!