KebonCinta.com – Setiap siswa datang ke kelas dengan pengalaman dan kemampuan yang berbeda. Ada yang sudah memahami materi prasyarat, ada pula yang membutuhkan penjelasan tambahan. Karena itu, guru perlu mengenali kondisi awal siswa sebelum menentukan cara mengajar.
Salah satu caranya ialah melalui asesmen diagnostik. Dalam Panduan Pembelajaran dan Asesmen edisi revisi 2025, kegiatan semacam ini dibahas sebagai asesmen awal pembelajaran, bagian dari asesmen formatif yang membantu guru menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan murid.
Asesmen diagnostik adalah kegiatan untuk memperoleh informasi tentang kemampuan awal, pemahaman, kesulitan, atau kebutuhan belajar siswa. Pelaksanaannya tidak harus berupa ujian tertulis. Guru dapat menggunakan pertanyaan lisan, tugas singkat, pengamatan, percakapan, atau demonstrasi keterampilan.
Tujuannya bukan memberi cap “pintar” atau “lemah”, melainkan menemukan titik awal pembelajaran yang tepat. Asesmen ini juga bukan pemeriksaan untuk menetapkan diagnosis kondisi medis atau psikologis anak.
Melalui asesmen awal, guru dapat:
Panduan Kemendikdasmen 2025 menegaskan bahwa asesmen awal tidak digunakan sebagai dasar penentuan nilai rapor. Asesmen pada awal tahun ajaran juga tidak harus dilakukan sebagai satu tes besar; yang penting adalah memperoleh informasi saat diperlukan sebelum pembelajaran.
Baca Juga: Skor AKGTK Bikin Penasaran! Kemenag Ungkap Alasan Hasil Asesmen Penting bagi Guru
Misalnya, guru kelas IV akan mengajarkan pecahan. Sebelum memulai, guru menyiapkan tiga pertanyaan singkat untuk melihat kemampuan prasyarat:
Pertanyaan 1: Berapakah hasil 125 + 75? Jawaban: 200.
Pertanyaan 2: Berapakah hasil 24 ÷ 6? Jawaban: 4.
Pertanyaan 3: Sebuah kue dibagi menjadi empat bagian sama besar. Jika satu bagian diambil, berapa bagian kue yang diambil? Jawaban: 1/4.
Guru tidak cukup hanya menghitung jawaban benar. Mintalah siswa menjelaskan alasannya. Jawaban yang salah bisa menunjukkan kesulitan berhitung, memahami soal cerita, atau mengenali konsep bagian dari keseluruhan.
Catatan: Pertanyaan di atas merupakan contoh buatan untuk pembaca, bukan instrumen baku dari Kemendikdasmen. Sesuaikan tingkat kesulitan dengan tujuan pembelajaran dan kondisi kelas.
Pada pelajaran Bahasa Indonesia, guru dapat meminta siswa membaca paragraf pendek, kemudian menceritakan gagasan utamanya. Pada PAUD, pendidik dapat mengamati anak saat mengelompokkan benda berdasarkan warna atau ukuran.
Guru juga bisa mengajukan pertanyaan reflektif: “Bagian pelajaran apa yang paling membingungkan?” atau “Kegiatan seperti apa yang membantumu memahami materi?” Jawaban tersebut dapat menjadi informasi pendukung, tetapi jangan dipakai untuk memberi label kepribadian atau mendiagnosis masalah kesehatan mental.
Baca Juga: AKGTK Madrasah 2026: Ini Jadwal Asesmen dan Daftar Peserta yang Wajib Mengikuti
Langkah 1: Tentukan tujuan belajar. Pilih dua atau tiga kemampuan prasyarat yang benar-benar diperlukan.
Langkah 2: Siapkan instrumen sederhana. Gunakan soal singkat, observasi, atau percakapan dengan bahasa yang mudah dipahami.
Langkah 3: Cermati pola jawaban. Periksa bukan hanya skor, tetapi juga cara siswa berpikir dan jenis kesulitan yang muncul.
Langkah 4: Sesuaikan pembelajaran. Siswa yang belum menguasai prasyarat mendapat contoh konkret dan pendampingan; siswa yang sudah siap dapat memperoleh latihan penerapan atau tantangan tambahan.
Langkah 5: Tinjau kembali. Lakukan pengecekan singkat setelah pembelajaran untuk melihat apakah strategi yang dipilih membantu siswa berkembang.
Kelompok belajar perlu bersifat fleksibel. Jangan menempatkan siswa dalam kategori tetap atau mengumumkan hasil individual di depan kelas.
Asesmen diagnostik atau asesmen awal terutama digunakan untuk merencanakan langkah belajar. Sementara itu, asesmen sumatif digunakan untuk menilai ketercapaian hasil belajar pada periode atau lingkup materi tertentu.
Perbedaannya terletak pada tujuan pemanfaatan informasi.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir