Keboncinta.com – Hasil Asesmen Kompetensi Guru dan Tenaga Kependidikan (AKGTK) menjadi perhatian para pendidik madrasah. Sejumlah guru dan kepala madrasah mengungkapkan rasa ingin tahu terhadap skor asesmen yang diperoleh, sekaligus menyoroti pentingnya hasil tersebut sebagai bahan evaluasi untuk meningkatkan kualitas pendidikan.
Melalui unggahan di halaman media sosial resmi Instagram Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan Madrasah, @pendiskemenag, yang telah terverifikasi, Kementerian Agama menampilkan pandangan sejumlah pendidik mengenai makna skor AKGTK dan manfaatnya bagi pengembangan kompetensi guru.
Dalam unggahan tersebut, rasa penasaran terhadap hasil asesmen disebut sebagai dinamika yang wajar di kalangan peserta. Skor yang diperoleh diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai kemampuan serta aspek kompetensi yang masih perlu dikembangkan.
Baca Juga: Beasiswa Indonesia Bangkit 2026 Dibuka! Ada 5 Program Gratis, Ini Kuota dan Link Pendaftarannya
Cucu Herdiaman, Wakil Kepala MAN 2 Pangandaran, mengungkapkan bahwa hasil asesmen memiliki arti penting bagi peserta untuk mengetahui posisi kompetensinya saat ini.
Ia menilai skor AKGTK dapat menjadi bahan refleksi bagi guru, terutama untuk memahami perkembangan kemampuan dalam aspek pedagogik, profesional, serta kepribadian atau sosial.
“Saya sangat penasaran dengan nilainya, karena hal ini akan menunjukkan kepada saya sudah sampai mana level saya, terutama tiga hal: pedagogik, profesional, dan kepribadian atau sosial,” ungkap Cucu dalam unggahan tersebut.
Pandangan itu menunjukkan bahwa hasil asesmen tidak semestinya dipahami sebatas angka. Lebih dari itu, hasilnya dapat dimanfaatkan sebagai titik awal untuk mengenali kekuatan dan kekurangan dalam menjalankan tugas sebagai pendidik.
Dengan memahami capaian kompetensi, guru diharapkan dapat menentukan langkah pengembangan diri secara lebih terarah.
Pandangan serupa disampaikan Khairina Hasibuan, Kepala MIN 2 Kota Medan. Ia menekankan bahwa esensi AKGTK tidak terletak pada tinggi atau rendahnya skor semata, melainkan pada manfaat asesmen untuk mendorong perbaikan kualitas diri.
“Menurut saya, AKGTK ini bukan tentang mengejar skor tetapi ini adalah sebuah ajang untuk evaluasi dan pembenahan diri,” ujar Khairina sebagaimana dikutip melalui unggahan @pendiskemenag.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa asesmen sebaiknya menjadi sarana refleksi bagi guru dan tenaga kependidikan. Hasilnya dapat digunakan untuk mengidentifikasi kebutuhan peningkatan kemampuan, sekaligus menyusun langkah perbaikan yang sesuai dengan kondisi masing-masing.
Dengan demikian, capaian asesmen bukanlah tujuan akhir, melainkan salah satu instrumen untuk mendukung pengembangan profesionalisme pendidik.
Selain rasa penasaran terhadap hasil, integritas dalam mengerjakan asesmen juga menjadi perhatian penting. Kejujuran peserta diperlukan agar hasil yang diperoleh benar-benar mencerminkan kemampuan aktual di lapangan.
Muhammad Irfan Fadillah, Guru Al-Qur'an Hadis MAN 2 Kota Bekasi, menegaskan bahwa kejujuran merupakan bagian penting dalam pelaksanaan AKGTK.
“Yang paling penting dari AKGTK ini adalah kejujuran, karena kan tujuannya untuk mengukur kompetensi kita. Kalau tidak jujur yang berarti tidak objektif, jadi tidak tahu sebenarnya kemampuan kita sejauh mana,” ungkapnya.
Pesan tersebut mengingatkan bahwa asesmen hanya akan memberikan gambaran yang bermanfaat apabila dikerjakan secara jujur dan bertanggung jawab. Hasil yang objektif dapat membantu pemetaan kompetensi secara lebih tepat sehingga kebutuhan pembinaan bisa diketahui.
Sebaliknya, apabila peserta tidak mengerjakan asesmen dengan jujur, hasilnya berisiko tidak menggambarkan kemampuan sebenarnya dan menyulitkan proses evaluasi.
Agus Salim Tanjung, Kepala MTsN 1 Pekanbaru, menyoroti pentingnya peran madrasah dalam menindaklanjuti hasil AKGTK. Menurutnya, peningkatan kompetensi guru tidak berhenti setelah asesmen selesai dilaksanakan.
Ia menyampaikan bahwa tanggung jawab peningkatan kompetensi juga berada pada pundak manajemen madrasah, terutama dalam merancang pembinaan yang tepat sasaran.
“AKGTK ini tujuannya mengukur kompetensi guru dan tendik kita untuk bagaimana lebih baik ke depannya, sehingga pemetaan di madrasah kami lebih baik. Tentu ini menjadi evaluasi bagi madrasah kami,” ujar Agus Salim Tanjung.
Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa hasil asesmen dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pimpinan madrasah dalam menyusun program pengembangan sumber daya manusia.
Madrasah dapat memanfaatkan pemetaan kompetensi untuk mengenali bidang yang memerlukan penguatan, merancang pembinaan sesuai kebutuhan, serta mendukung peningkatan kualitas pembelajaran.
Beragam pandangan para pendidik tersebut memperlihatkan bahwa AKGTK memiliki peran lebih luas daripada sekadar menghasilkan nilai. Asesmen dapat menjadi sarana untuk mengenali kemampuan, mengevaluasi praktik profesional, dan merancang pengembangan kompetensi secara berkelanjutan.
Bagi guru, hasil asesmen dapat menjadi bahan refleksi untuk menentukan aspek yang perlu ditingkatkan. Sementara itu, bagi kepala madrasah, pemetaan kompetensi dapat membantu penyusunan program pembinaan yang lebih sesuai dengan kebutuhan pendidik.
Kejujuran selama pelaksanaan asesmen juga menjadi fondasi penting agar hasilnya dapat dimanfaatkan secara optimal.
Melalui pemanfaatan hasil AKGTK secara tepat, evaluasi diharapkan tidak berhenti pada laporan skor, tetapi berlanjut menjadi langkah nyata untuk meningkatkan kompetensi guru dan tenaga kependidikan serta kualitas layanan pendidikan madrasah.**
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir