KEBONCINTA.COM – Pemerintah Arab Saudi berkomitmen menyediakan 1.000 kuota beasiswa bagi Indonesia untuk tahun akademik 2026–2027. Kesempatan tersebut menjadi bagian dari penguatan kerja sama kedua negara dalam bidang pendidikan tinggi, sains, teknologi, dan pengembangan sumber daya manusia.
Komitmen itu dibahas ketika Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Fauzan menerima Menteri Pendidikan Arab Saudi Yousef bin Abdullah Al-Benyan bersama delegasinya di Jakarta pada Rabu, 2 September 2026.
Kemdiktisaintek mendorong agar peluang beasiswa tersebut dimanfaatkan secara strategis, termasuk untuk mendukung kebutuhan studi doktoral dosen Indonesia pada sektor-sektor prioritas.
Namun, informasi mengenai jadwal pendaftaran, jenjang pendidikan, universitas tujuan, program studi, persyaratan bahasa, serta komponen pembiayaan belum dijelaskan secara terperinci dalam pengumuman tersebut. Calon pendaftar perlu menunggu informasi resmi dan tidak mengirimkan data pribadi kepada pihak yang tidak dapat diverifikasi.
Kerja sama Indonesia dan Arab Saudi tidak hanya berkaitan dengan beasiswa. Hingga 2026, tercatat 95 dokumen kerja sama aktif antara perguruan tinggi kedua negara.
Jumlah tersebut terdiri dari 45 nota kesepahaman, 33 Memorandum of Agreement, dan 17 Implementation Arrangement. Kerja sama mencakup penelitian bersama, pengabdian masyarakat, pengembangan kurikulum, program akademik bersama, pusat penelitian, pertukaran dosen, dan kegiatan profesor tamu.
Kedua negara juga membahas penguatan pendidikan STEM, mobilitas akademik, pendidikan digital, serta pengembangan kapasitas perguruan tinggi. Riset diharapkan semakin terhubung dengan kebutuhan masyarakat, pasar, dan dunia usaha.
Arab Saudi berencana melakukan asesmen untuk mengidentifikasi sekitar tiga hingga lima perguruan tinggi Indonesia yang berpotensi menjadi mitra program penelitian bersama.
Sebelumnya, Kemdiktisaintek telah mengusulkan 11 perguruan tinggi Indonesia untuk dihubungkan dengan kampus unggulan Arab Saudi. Pada 2026, proses penjajakan melibatkan 11 perguruan tinggi Indonesia dan 15 perguruan tinggi Arab Saudi.
Beberapa kemitraan yang telah berjalan antara lain Universitas Negeri Surabaya dengan Saudi Electronic University, Universitas Muhammadiyah Makassar dengan Al Baha University, dan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dengan King Saud University.
Kerja sama lainnya melibatkan Universitas Negeri Yogyakarta dengan Prince Sattam bin Abdulaziz University serta Universitas Islam Bandung dengan King Abdulaziz University.
Bagi mahasiswa dan dosen, perluasan kerja sama membuka peluang mengikuti pendidikan, penelitian bersama, serta pertukaran akademik. Meski demikian, setiap kesempatan harus diperiksa melalui situs kementerian, universitas, atau penyelenggara beasiswa resmi.
Kuota yang diumumkan juga tidak berarti seluruh calon otomatis diterima. Peserta kemungkinan tetap harus memenuhi persyaratan akademik, kemampuan bahasa, dokumen administratif, dan ketentuan lain yang nantinya ditetapkan penyelenggara.
Penguatan kerja sama Indonesia–Arab Saudi diharapkan tidak berhenti pada penandatanganan dokumen. Keberhasilannya perlu dilihat dari jumlah program yang benar-benar berjalan, hasil penelitian yang dihasilkan, dan manfaat pendidikan yang diterima mahasiswa serta dosen kedua negara.