Sementara itu, pada awan yang mengandung kristal es, pertumbuhan partikel dapat berlangsung melalui proses yang melibatkan perpindahan uap air menuju kristal es. Kristal tersebut bisa membesar, kemudian mencair saat melewati lapisan udara yang lebih hangat sehingga menjadi tetesan hujan.
Semakin besar dan berat tetesan air, semakin sulit bagi arus udara untuk mempertahankannya di dalam awan. Ketika tetesan sudah cukup besar, air mulai jatuh menuju permukaan Bumi karena pengaruh gravitasi.
Baca Juga: Bukan Sekadar Lava dan Abu, Ini 7 Keunikan Gunung Berapi di Bumi
Tahap berikutnya adalah presipitasi, yaitu proses jatuhnya air dari atmosfer ke permukaan Bumi. Jika air tersebut turun dalam bentuk cair, fenomena ini disebut hujan.
Namun, tidak semua air yang mulai jatuh dari awan pasti sampai ke tanah. Di wilayah dengan udara yang kering, sebagian tetesan dapat menguap kembali sebelum mencapai permukaan. Fenomena ini dikenal sebagai virga.
Sebaliknya, jika udara cukup lembap dan tetesan air terus bertahan selama perjalanan turun, hujan dapat mencapai daratan dengan intensitas yang berbeda-beda, mulai dari gerimis hingga hujan deras.
Intensitas hujan dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk kandungan air di awan, kondisi atmosfer, serta kekuatan pergerakan udara.
Setelah mencapai permukaan Bumi, air hujan memiliki beberapa kemungkinan perjalanan. Sebagian air meresap ke dalam tanah dan membantu mengisi cadangan air tanah. Sebagian lainnya mengalir di permukaan menuju parit, sungai, dan akhirnya laut.
Air hujan juga dapat tertampung di danau, waduk, atau berbagai tempat penampungan alami maupun buatan. Tumbuhan memanfaatkan sebagian air tersebut untuk mendukung pertumbuhan.
Ketika kembali ke permukaan, air tidak berhenti bergerak. Panas Matahari kembali menguapkannya, sementara tumbuhan melepaskan uap air ke atmosfer. Dengan demikian, siklus air terus berlangsung dan menghubungkan lautan, daratan, makhluk hidup, serta atmosfer.
Meskipun awan mengandung air, hujan hanya terjadi ketika kondisi atmosfer memungkinkan partikel air atau es tumbuh cukup besar dan jatuh hingga mencapai permukaan.
Kelembapan, suhu, kestabilan atmosfer, serta pergerakan udara memengaruhi peluang terbentuknya hujan. Awan yang tipis mungkin tidak memiliki cukup partikel air untuk menghasilkan presipitasi yang mencapai tanah.
Selain itu, angin dapat memindahkan awan dari satu wilayah ke wilayah lain. Akibatnya, hujan bisa turun di suatu daerah, sementara wilayah yang berdekatan tetap kering.
Inilah alasan cuaca dapat berubah dengan cepat dan prakiraan hujan membutuhkan pengamatan atmosfer secara berkelanjutan.
Baca Juga: Sering Makan Melon? Ini Beragam Manfaatnya yang Perlu Diketahui
Proses terjadinya hujan merupakan bagian dari siklus air yang berlangsung secara terus-menerus. Semuanya berawal dari penguapan akibat panas Matahari, dilanjutkan dengan pendinginan dan pengembunan uap air, pembentukan awan, pertumbuhan butiran air, hingga turunnya hujan ke permukaan Bumi.
Air yang jatuh kemudian meresap ke tanah, mengalir menuju sungai dan laut, atau dimanfaatkan oleh makhluk hidup sebelum kembali mengalami penguapan.
Memahami proses ini membantu kita menyadari bahwa hujan bukan sekadar perubahan cuaca, melainkan bagian penting dari sistem alam yang menjaga ketersediaan air bagi kehidupan di Bumi.***
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir