KebonCinta.com - Pembelajaran bahasa Inggris di sekolah dasar akan diarahkan pada pendekatan yang lebih komunikatif dan menyenangkan. Pemerintah menekankan bahwa pengenalan bahasa asing sejak dini tidak seharusnya membebani siswa dengan penguasaan tata bahasa (grammar), melainkan membangun ketertarikan dan keberanian menggunakan bahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari.
Kebijakan tersebut sejalan dengan rencana Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) yang menetapkan bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib mulai kelas 3 SD. Melalui kebijakan ini, siswa diharapkan memiliki kesempatan mengenal bahasa asing sejak pendidikan dasar sebagai bekal menghadapi perkembangan global.
Baca Juga: Anak SD Bakal Belajar Bahasa Inggris Lewat Lagu dan Permainan, Ini Strategi Baru Kemendikdasmen
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti menjelaskan bahwa orientasi pembelajaran bahasa Inggris pada jenjang sekolah dasar bukan untuk menuntut anak langsung mahir berbahasa. Fokus utamanya adalah memperkenalkan kosakata dan ungkapan sederhana sekaligus menumbuhkan minat belajar.
Pendekatan tersebut akan mengacu pada prinsip pembelajaran mendalam (deep learning), yaitu mindful, meaningful, dan joyful. Artinya, proses pembelajaran dirancang agar siswa terlibat secara aktif, memperoleh pengalaman yang bermakna, serta menikmati kegiatan belajar.
Baca Juga: Bahasa Inggris Jadi Mapel Wajib SD 2027, Kemendikdasmen Gandeng 101 Kampus untuk Latih Guru
Untuk mendukung pendekatan tersebut, materi pembelajaran dapat dikemas melalui lagu, pemutaran film, permainan edukatif, dan berbagai aktivitas interaktif lainnya. Metode ini diharapkan membuat siswa lebih mudah mengenali dan menggunakan bahasa Inggris tanpa merasa sedang menghadapi beban pelajaran yang terlalu akademis.
Dalam pelaksanaannya, Kemendikdasmen mengarahkan guru agar tidak terlalu menitikberatkan pembelajaran pada ketepatan struktur kalimat dan aturan tata bahasa. Penekanan berlebihan terhadap aspek tersebut dikhawatirkan membuat siswa kehilangan minat sebelum memiliki keberanian untuk berkomunikasi.
Baca Juga: Bahasa Inggris Jadi Mapel Wajib SD 2027, Kemendikdasmen Gandeng 101 Kampus untuk Latih Guru
Sebaliknya, siswa akan didorong untuk mencoba menulis, mengungkapkan pendapat, serta menggunakan bahasa Inggris dalam percakapan sederhana. Kesalahan dalam pengucapan maupun penyusunan kalimat dipandang sebagai bagian dari proses belajar yang wajar.
Guru juga diharapkan memberikan ruang bagi siswa untuk bereksplorasi tanpa takut melakukan kesalahan. Selama pesan yang disampaikan dapat dipahami, proses pembelajaran perlu tetap memberikan pengalaman positif dan membangun kepercayaan diri anak.
Pendekatan ini menempatkan kemampuan komunikasi sebagai salah satu tujuan awal pembelajaran bahasa Inggris. Dengan demikian, siswa tidak hanya mengenal bahasa Inggris sebagai kumpulan aturan dan teori, tetapi juga sebagai alat untuk menyampaikan gagasan dan berinteraksi.
Pengenalan bahasa Inggris sejak kelas 3 SD menjadi bagian dari upaya memperkuat kompetensi peserta didik dalam menghadapi kebutuhan komunikasi global. Namun, keberhasilan kebijakan ini tidak hanya ditentukan oleh materi dan kurikulum, tetapi juga oleh kemampuan guru menciptakan suasana belajar yang sesuai dengan tahap perkembangan anak.
Guru memiliki peran penting dalam membangun lingkungan pembelajaran yang inklusif, interaktif, dan tidak menghakimi kesalahan siswa. Melalui proses tersebut, anak diharapkan memiliki motivasi untuk terus belajar sekaligus keberanian menggunakan bahasa Inggris.
Kebijakan ini disampaikan Abdul Mu'ti dalam kegiatan Koordinasi dan Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) Bantuan Pemerintah Pengembangan Kompetensi Guru Sekolah Dasar dalam Mengajar Bahasa Inggris (PKGSD MBI) di Hotel Merlynn Park, Jakarta Pusat, Kamis (5/11/2026).
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir