Keboncinta.com-- Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) membuat dunia pendidikan menghadapi perubahan yang semakin cepat. Peserta didik kini dapat memperoleh informasi dalam hitungan detik, tetapi kemudahan tersebut juga menghadirkan tantangan baru, mulai dari derasnya arus informasi hingga persoalan nilai dan karakter.
Di tengah perubahan tersebut, Menteri Agama Nasaruddin Umar mengingatkan bahwa peran guru tidak boleh berhenti sebagai penyampai materi pembelajaran. Guru memiliki tugas yang lebih besar dalam membimbing peserta didik agar mampu menggunakan pengetahuan dengan bijak serta memiliki karakter dan akhlak yang kuat.
Pesan itu disampaikan Nasaruddin Umar saat mengukuhkan Pengurus Konfederasi Organisasi Profesi Guru Kementerian Agama periode 2026–2030 sekaligus membuka Simposium Organisasi Profesi Guru di Jakarta, Selasa, 18 Agustus 2026.
Lantas, apa yang menjadi perhatian Menag terhadap guru di tengah perkembangan AI dan fenomena post-truth?
Menurut Nasaruddin Umar, perubahan zaman membuat tanggung jawab seorang guru semakin kompleks. Guru tidak hanya berperan memberikan pengetahuan, tetapi juga membantu membentuk karakter generasi yang akan menghadapi masa depan.
Pembelajaran idealnya tidak berhenti ketika peserta didik mampu memahami sebuah materi. Pengetahuan yang diperoleh perlu diarahkan agar dapat menghasilkan sikap dan tindakan yang memberikan manfaat.
Karena itu, guru diharapkan mampu menjalankan peran sebagai pembimbing intelektual sekaligus pembentuk moral dan spiritual peserta didik.
Pendidikan pada akhirnya bukan hanya tentang seberapa banyak materi yang dikuasai siswa. Lebih dari itu, pendidikan juga berkaitan dengan bagaimana ilmu tersebut digunakan dalam kehidupan.
Menag menggambarkan tugas tersebut sebagai upaya menyalakan "lentera hati" dalam diri peserta didik. Kecerdasan yang dimiliki perlu berjalan beriringan dengan karakter dan akhlak.
Tantangan pendidikan juga semakin besar dengan munculnya fenomena post-truth. Dalam kondisi ini, fakta dan pengetahuan tidak selalu menjadi dasar utama seseorang ketika membentuk pandangan atau mengambil sikap.
Derasnya informasi di ruang digital membuat peserta didik dapat menemukan berbagai macam informasi dengan sangat mudah. Persoalannya, tidak semua informasi tersebut memiliki dasar yang benar atau dapat dipertanggungjawabkan.
Karena itu, kemampuan siswa tidak cukup hanya sebatas mengingat informasi. Mereka juga perlu dibekali kemampuan untuk memilah, memahami, menguji, dan mempertimbangkan informasi sebelum menggunakannya.
Dalam kondisi seperti ini, guru memiliki peran strategis untuk membantu siswa membangun pola pikir kritis sekaligus memiliki landasan nilai ketika menghadapi berbagai informasi.
Kemajuan AI menjadi salah satu perubahan yang tidak dapat dilepaskan dari masa depan pendidikan. Teknologi ini menawarkan berbagai peluang untuk membantu manusia, termasuk dalam proses pembelajaran.
Namun, kemajuan teknologi juga perlu diiringi dengan pembentukan karakter. Teknologi yang semakin canggih tidak akan otomatis menghasilkan kehidupan yang lebih baik apabila penggunaannya tidak disertai tanggung jawab moral.
Karena itu, pendidikan agama dan pembentukan akhlak dinilai tetap memiliki posisi penting di tengah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Ilmu pengetahuan perlu mendapatkan arah melalui nilai sehingga pemanfaatan teknologi tidak hanya mengejar kecanggihan, tetapi juga mempertimbangkan kepentingan manusia dan kehidupan bersama.
Dalam pesannya kepada organisasi profesi guru, Menag juga mengangkat sejarah Baitul Hikmah di Baghdad sebagai salah satu gambaran mengenai perkembangan ilmu pengetahuan pada masa kejayaan Islam.
Baitul Hikmah dapat menjadi pengingat bahwa kemajuan ilmu, teknologi, dan nilai keagamaan tidak harus ditempatkan dalam ruang yang terpisah.
Hubungan antara pengetahuan dan nilai tersebut dinilai penting untuk membangun peradaban yang maju sekaligus memiliki fondasi moral.
Pesan ini menjadi relevan di tengah perkembangan teknologi saat ini. Kemajuan sains dan AI diharapkan tidak hanya menghasilkan inovasi, tetapi juga memberikan manfaat yang lebih luas bagi kehidupan manusia.
Selain persoalan teknologi dan karakter, Menag juga mendorong organisasi profesi guru di lingkungan Kementerian Agama untuk menghadirkan gagasan baru dalam pendidikan.
Salah satu gagasan yang mendapat perhatian adalah ekoteologi, yaitu pendekatan yang menghubungkan kepedulian terhadap lingkungan dengan nilai moral dan keagamaan.
Melalui pendekatan tersebut, peserta didik dapat diajak memahami bahwa menjaga lingkungan bukan hanya persoalan sosial. Merawat alam juga berkaitan dengan tanggung jawab manusia terhadap kehidupan dan ciptaan.
Pendidikan diharapkan mampu melahirkan generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat.
Baca Juga: Beasiswa Unggulan 2026 untuk Siapa? Cek Kriteria Penerima S1 Hingga S3
Menag juga kembali menyoroti pentingnya pendidikan berbasis cinta. Pendidikan agama diharapkan tidak menjadi ruang untuk menanamkan kebencian terhadap kelompok atau pemeluk agama lain.
Sebaliknya, pendidikan perlu menjadi sarana untuk membangun pemahaman mengenai keberagaman, toleransi, dan sikap saling menghormati.
Melalui pendekatan berbasis cinta, peserta didik diharapkan mampu tumbuh sebagai generasi yang dapat hidup berdampingan dalam masyarakat yang memiliki latar belakang beragam.
Konsep tersebut juga diarahkan untuk membangun keseimbangan antara pengetahuan, kecerdasan emosional, dan tanggung jawab sosial.
Perkembangan AI mungkin mengubah cara peserta didik memperoleh informasi dan belajar. Namun, peran guru dalam membimbing penggunaan pengetahuan tetap memiliki posisi penting.
Guru tidak hanya bertugas menjelaskan apa yang harus diketahui siswa, tetapi juga membantu mereka memahami mengapa pengetahuan tersebut penting dan bagaimana menggunakannya secara bertanggung jawab.
Baca Juga: TPG 2026 Cair Setiap Bulan, Guru Wajib Cek Data Ini agar Nominal Tunjangan Tidak Bermasalah
Di tengah banjir informasi dan perkembangan teknologi yang semakin cepat, pendidikan membutuhkan guru yang mampu menggabungkan kecerdasan akademik dengan pembentukan karakter.
Pesan Menag tersebut menjadi pengingat bahwa secanggih apa pun teknologi yang digunakan dalam pendidikan, pembentukan akhlak, nilai kemanusiaan, kepedulian terhadap lingkungan, dan kemampuan berpikir tetap menjadi bagian penting dari proses pendidikan.***