Karena doa tersebut berkaitan dengan permohonan agar tidak hidup seorang diri, sebagian orang mengamalkannya ketika berharap memperoleh pasangan hidup. Namun, perlu dipahami bahwa konteks utama doa dalam Surah Al-Anbiya ayat 89 adalah permohonan keturunan, bukan secara khusus permintaan jodoh.
Ayat ini dapat menjadi pengingat agar seseorang tidak berputus asa dalam berdoa. Setiap permohonan hendaknya disertai kesabaran, ikhtiar, dan keyakinan bahwa Allah mengetahui kebutuhan hamba-Nya.
Selain doa yang terdapat dalam Al-Qur’an, seseorang juga dapat menyampaikan permohonan dengan redaksi doa umum. Berikut contoh doa yang dapat digunakan untuk memohon pasangan yang baik dan menjadi teman dalam kehidupan agama, dunia, serta akhirat.
Arab:
رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ زَوْجَةً طَيِّبَةً أَخْطُبُهَا وَأَتَزَوَّجُ بِهَا وَتَكُوْنُ صَاحِبَةً لِي فِي الدِّينِ وَالدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ
Latin:
Rabbi hab lī min ladunka zaujatan ṭayyibah, akhṭubuha wa atazawwāju bihā wa takūnu ṣāḥibatan lī fid-dīni wad-dunyā wal-ākhirah.
Artinya:
“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku seorang istri yang baik dari sisi-Mu, yang aku lamar dan nikahi, serta menjadi pendampingku dalam urusan agama, dunia, dan akhirat.”
Arab:
رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ زَوْجًا طَيِّبًا وَيَكُوْنُ صَاحِبًا لِي فِي الدِّينِ وَالدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ
Latin:
Rabbi hab lī min ladunka zaujan ṭayyiban wa yakūnu ṣāḥiban lī fid-dīni wad-dunyā wal-ākhirah.
Artinya:
“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku seorang suami yang baik dari sisi-Mu, dan menjadi pendampingku dalam urusan agama, dunia, dan akhirat.”
Kedua redaksi tersebut merupakan contoh doa umum, bukan lafaz khusus yang secara pasti dinukil dari Al-Qur’an atau hadis. Seseorang boleh memohon kepada Allah dengan bahasa dan susunan kalimatnya sendiri selama isi permohonannya baik dan tidak bertentangan dengan syariat.
Doa ini menekankan bahwa pasangan hidup bukan hanya seseorang yang hadir dalam urusan dunia, melainkan juga teman untuk saling mendukung dalam ketaatan dan kehidupan akhirat.
Baca Juga: Sering Terlewatkan: Kapan Sebenarnya Jam Paling Utama untuk Memanjatkan Doa di Hari Jumat?
Berdoa dapat dilakukan kapan saja. Namun, terdapat waktu dan adab yang dianjurkan agar seseorang lebih khusyuk ketika menyampaikan permohonannya kepada Allah SWT.
Sepertiga malam terakhir termasuk waktu yang memiliki keutamaan untuk berdoa. Dalam hadis sahih, Rasulullah SAW menjelaskan tentang keutamaan waktu tersebut ketika Allah menyeru hamba-Nya untuk berdoa dan memohon ampun.
Seseorang dapat memanfaatkan waktu ini untuk salat tahajud, beristigfar, dan memohon agar diberikan pasangan yang baik. Suasana malam yang tenang juga dapat membantu seseorang lebih fokus dalam beribadah.
Waktu antara azan dan iqamah termasuk waktu yang dianjurkan untuk berdoa. Dalam hadis riwayat Abu Dawud dan Tirmidzi, Rasulullah SAW menyebutkan bahwa doa antara azan dan iqamah tidak tertolak.
Karena itu, seseorang dapat memanjatkan doa memohon pasangan yang seiman pada waktu tersebut. Doa juga dapat disampaikan dengan menyebutkan harapan mengenai agama, akhlak, dan tujuan membangun rumah tangga.
Hari Jumat memiliki keutamaan tersendiri dalam Islam. Dalam sejumlah hadis disebutkan adanya waktu pada hari Jumat ketika doa seorang Muslim yang memohon kebaikan dapat dikabulkan.
Salah satu pendapat yang dikenal menyebut waktu tersebut berada pada penghujung hari Jumat, menjelang Magrib. Seseorang dapat memperbanyak doa pada waktu ini, termasuk memohon pasangan hidup yang baik.
Salah satu adab berdoa adalah memuji Allah SWT dan membaca selawat kepada Rasulullah SAW. Seorang Muslim juga dianjurkan berdoa dengan penuh kerendahan hati serta mengakui kebutuhan dirinya kepada Allah.
Menghadap kiblat dan mengangkat tangan ketika berdoa termasuk adab yang dianjurkan dalam sejumlah keadaan. Namun, adab tersebut tidak perlu dipahami sebagai syarat sah setiap doa.
Doa hendaknya dipanjatkan dengan hati yang tulus dan penuh harap.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir