Keboncinta.com — Umat Islam meyakini adanya kehidupan setelah kematian, termasuk alam kubur atau alam barzakh. Dalam fase ini, manusia akan menghadapi ujian berupa pertanyaan dari dua malaikat yang dikenal sebagai Munkar dan Nakir.
Pertanyaan tersebut berkaitan dengan keyakinan seseorang selama hidup di dunia, seperti siapa Tuhannya, apa agamanya, dan siapa nabinya. Jawaban yang diberikan menjadi bagian dari ujian keimanan di alam kubur.
Namun, muncul pertanyaan mengenai apakah ujian tersebut hanya berlaku bagi umat Nabi Muhammad SAW atau juga dialami umat-umat terdahulu?
Persoalan ini ternyata telah dibahas oleh sejumlah ulama. Ibnu Qayyim al-Jauziyah, misalnya, menguraikan beberapa pendapat dalam kitabnya yang berjudul Ar-Ruh.
Dalam ajaran Islam, alam kubur merupakan bagian dari kehidupan setelah kematian. Alam ini disebut juga alam barzakh, yakni tempat penantian manusia sebelum dibangkitkan pada hari kiamat.
Rasulullah SAW pernah menjelaskan pentingnya fase kehidupan tersebut melalui sebuah hadis:
"Sesungguhnya kuburan merupakan persinggahan pertama menuju akhirat. Jika seseorang selamat melampauinya, maka setelahnya akan menjadi lebih ringan. Namun, jika ia tidak selamat melampauinya, maka yang akan dihadapi setelahnya jauh lebih berat."
(HR At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Hadis tersebut menggambarkan bahwa kehidupan di alam kubur merupakan fase penting yang akan dilalui manusia setelah meninggal dunia.
Salah satu ujian yang dijelaskan dalam sejumlah riwayat adalah pertanyaan dari dua malaikat kepada orang yang telah meninggal.
Baca Juga: Tugas Malaikat Munkar dan Bedanya dengan Nakir: Pertanyaan Kubur dan Bahasa yang Digunakan
Dalam hadis riwayat Imam Bukhari dari Anas bin Malik RA, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa ketika seseorang telah dimasukkan ke dalam kubur dan orang-orang yang mengantarkannya meninggalkan tempat tersebut, ia masih dapat mendengar suara langkah kaki mereka.
Setelah itu, datanglah dua malaikat yang mendudukkannya dan mengajukan pertanyaan mengenai Nabi Muhammad SAW.
Orang beriman akan menjawab bahwa Muhammad adalah hamba Allah sekaligus utusan-Nya. Kemudian, diperlihatkan kepadanya tempat di neraka yang telah digantikan dengan tempat di surga.
Dalam riwayat lain, pertanyaan tersebut dijelaskan mencakup tiga pokok utama, yaitu siapa Tuhan yang disembah, apa agama yang dianut, dan siapa nabi yang diikuti.
Pertanyaan ini bukan sekadar menguji kemampuan seseorang menghafal jawaban. Ujian tersebut berkaitan dengan keimanan dan keyakinan yang tertanam selama hidup di dunia.
Mengutip penjelasan Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam kitab Ar-Ruh, terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai siapa saja yang mendapatkan pertanyaan di alam kubur.
Setidaknya terdapat dua pandangan utama yang dibahas dalam persoalan ini.
Pendapat pertama menyatakan bahwa ujian atau pertanyaan kubur secara khusus ditujukan kepada umat Nabi Muhammad SAW.
Pandangan ini dinisbatkan kepada Imam at-Tirmidzi. Salah satu landasan yang digunakan adalah hadis Rasulullah SAW:
"Sesungguhnya umat ini akan diuji di dalam kuburnya."
(HR Muslim)
Selain itu, terdapat hadis lain yang menjelaskan bahwa Rasulullah SAW mendapat wahyu mengenai ujian yang akan dihadapi umatnya di alam kubur.
Menurut pendapat ini, penyebutan umat dalam hadis tersebut menunjukkan adanya kekhususan bagi umat Nabi Muhammad SAW. Karena itu, pertanyaan kubur dipahami sebagai ujian yang secara khusus diberikan kepada umat beliau.
Berbeda dengan pandangan sebelumnya, Abul-Haqq Al-Asybaili dan Imam Al-Qurthubi berpendapat bahwa pertanyaan kubur tidak hanya berlaku bagi umat Nabi Muhammad SAW, tetapi juga mencakup umat-umat terdahulu.
Pendapat ini didasarkan pada pemahaman bahwa istilah "umat ini" dalam hadis tidak harus dimaknai secara khusus sebagai umat Islam. Istilah tersebut juga dapat dipahami sebagai umat manusia secara umum.
Dengan demikian, umat yang hidup sebelum diutusnya Nabi Muhammad SAW juga berkemungkinan mengalami ujian di alam kubur.
Pandangan ini menunjukkan bahwa persoalan pertanyaan kubur tidak hanya berkaitan dengan umat Islam, tetapi juga menyangkut kehidupan manusia setelah kematian secara keseluruhan.
Baca Juga: Benarkah Dajjal Takut pada Dukhan yang Muncul Jelang Kiamat? Ini Penjelasan Haditsnya
Selain dua pandangan tersebut, terdapat pula ulama yang memilih untuk tidak memastikan apakah pertanyaan kubur hanya berlaku bagi umat Nabi Muhammad SAW atau mencakup seluruh umat manusia.
Sikap ini dinisbatkan kepada Abu Umar bin Abdul Barr. Ia memandang bahwa hadis mengenai ujian kubur belum cukup untuk memastikan secara mutlak bahwa ujian tersebut hanya berlaku bagi umat Islam atau juga seluruh umat terdahulu.
Perbedaan pandangan ini memperlihatkan bahwa persoalan cakupan pertanyaan kubur merupakan pembahasan yang memiliki ruang perbedaan pendapat di kalangan ulama.
Pertanyaan Malaikat Munkar dan Nakir di alam kubur merupakan bagian dari perkara gaib yang diyakini dalam Islam. Namun, mengenai apakah pertanyaan tersebut hanya ditujukan kepada umat Nabi Muhammad SAW atau juga umat terdahulu, terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama.
Imam at-Tirmidzi berpendapat bahwa ujian kubur secara khusus berlaku bagi umat Nabi Muhammad SAW. Sementara itu, Abul-Haqq Al-Asybaili dan Imam Al-Qurthubi berpandangan bahwa pertanyaan tersebut juga dapat mencakup umat-umat sebelumnya.
Ada pula ulama yang memilih tidak memastikan salah satu pendapat karena persoalan tersebut termasuk perkara gaib yang membutuhkan landasan dalil yang jelas.
Terlepas dari perbedaan tersebut, umat Islam hendaknya menjadikan keyakinan terhadap kehidupan alam kubur sebagai pengingat untuk memperkuat iman, memperbaiki amal, dan mempersiapkan diri menghadapi kehidupan akhirat.
Wallahu a'lam.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir