Pendidikan
Dewi Safitri

BGN Klaim MBG Turunkan Angka Siswa Berangkat Sekolah dalam Kondisi Lapar, 16 Persen Belum Terjangkau

BGN Klaim MBG Turunkan Angka Siswa Berangkat Sekolah dalam Kondisi Lapar, 16 Persen Belum Terjangkau

17 Oktober 2026 | 22:04

KebonCinta.com - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) diklaim membawa perubahan terhadap pola konsumsi dan kondisi siswa sebelum memulai kegiatan belajar di sekolah. Badan Gizi Nasional (BGN) menyebut persentase peserta didik yang berangkat sekolah dalam keadaan lapar turun dari 56 persen menjadi 16 persen. 

Meski demikian, pemerataan akses pangan bergizi dan pembentukan kebiasaan makan sehat masih menjadi pekerjaan yang perlu dilanjutkan.

Baca Juga: Sisa Makanan MBG di Bandung Tak Langsung Dibuang, Dipilah dan Dimanfaatkan Jadi Pakan Ternak 

Kepala BGN Sudaryono menyampaikan bahwa penurunan tersebut menjadi salah satu indikator perubahan yang dikaitkan dengan pelaksanaan MBG. Data yang dipublikasikan melalui laman resmi BGN pada sabtu (17/10/2026) itu juga menunjukkan peningkatan konsumsi protein hewani serta buah dan sayuran setelah program berjalan.

Baca Juga: Sisa Makanan MBG di Bandung Tak Langsung Dibuang, Dipilah dan Dimanfaatkan Jadi Pakan Ternak 

Menurut data yang disampaikan BGN, konsumsi protein hewani meningkat dari 26 persen menjadi 84 persen. Sementara itu, tingkat konsumsi buah dan sayur dilaporkan naik dari 65 persen menjadi 90 persen.

Angka-angka tersebut menunjukkan perubahan yang diklaim terjadi selama pelaksanaan program. Namun, untuk menilai dampak MBG secara menyeluruh, data tersebut perlu dibaca bersama metodologi pengukuran, cakupan wilayah, serta kondisi kelompok siswa yang belum menerima manfaat program.

Baca Juga: BGN Uji Coba MBG Model Prasmanan di Sekolah, Makanan Bisa Lebih Hangat dan Siswa Bisa Tambah Porsi 

Masih ada siswa yang belum terjangkau

BGN menyatakan bahwa sekitar 16 persen anak masih berada di wilayah yang belum tersentuh program MBG. Kondisi ini menjadi tantangan bagi pemerintah untuk memperluas jangkauan layanan agar akses terhadap makanan bergizi tidak bergantung pada lokasi tempat tinggal siswa.

Pemerataan menjadi aspek penting karena persoalan pemenuhan gizi tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan makanan, tetapi juga kemampuan keluarga memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari. Program makan di sekolah dapat membantu menyediakan asupan bagi siswa, tetapi tidak serta-merta menyelesaikan seluruh persoalan kerawanan pangan di rumah tangga.

Karena itu, keberhasilan program perlu dinilai bukan hanya dari jumlah makanan yang disalurkan atau penerima yang terdata, melainkan juga dari konsistensi kualitas makanan, keterjangkauan layanan, dan perubahan kondisi gizi anak dalam jangka panjang.

Konsumsi bergizi perlu diikuti pendidikan gizi

Peningkatan konsumsi protein hewani, buah, dan sayuran menjadi salah satu perubahan yang dilaporkan BGN. Protein hewani, seperti telur, ikan, ayam, dan daging, berperan dalam mendukung pertumbuhan serta perkembangan anak. Sementara itu, buah dan sayuran menyediakan vitamin, mineral, serat, dan zat gizi lain yang dibutuhkan tubuh.

Namun, tersedianya makanan bergizi belum tentu langsung membentuk kebiasaan makan sehat. Anak juga perlu memahami pentingnya mengonsumsi makanan yang beragam dan seimbang, termasuk membiasakan diri mengonsumsi sayur serta buah.

Dalam konteks tersebut, peran guru dan orang tua menjadi penting. Sekolah dapat mengintegrasikan edukasi gizi ke dalam kegiatan pembelajaran, sedangkan keluarga dapat memperkuat kebiasaan tersebut melalui pola konsumsi sehari-hari di rumah.

BGN juga menekankan bahwa penyediaan makanan bergizi perlu berjalan beriringan dengan pendidikan gizi. Dengan pendekatan tersebut, manfaat program diharapkan tidak hanya dirasakan ketika siswa memperoleh makanan di sekolah, tetapi juga tercermin dalam kebiasaan makan mereka di luar lingkungan pendidikan.

Dampak program perlu diukur secara menyeluruh

Penurunan persentase siswa yang berangkat sekolah dalam kondisi lapar merupakan indikator yang relevan untuk mengevaluasi program bantuan pangan. Meski demikian, klaim keberhasilan tersebut tetap perlu didukung transparansi data dan evaluasi berkala agar masyarakat dapat memahami bagaimana perubahan itu diukur.

Evaluasi juga perlu mencakup kualitas dan keamanan makanan, pemerataan distribusi, kesinambungan layanan, serta dampaknya terhadap kondisi gizi dan proses belajar siswa. Aspek-aspek tersebut penting agar perluasan program tidak hanya berorientasi pada kuantitas penerima, tetapi juga pada mutu layanan.

Pada akhirnya, MBG berpotensi menjadi bagian dari upaya memperkuat pemenuhan gizi anak usia sekolah. Namun, keberhasilan jangka panjangnya akan bergantung pada kemampuan pemerintah memastikan akses yang merata, menjaga kualitas makanan, dan membangun edukasi gizi yang berkelanjutan. Penyediaan makanan dan pembentukan kebiasaan hidup sehat perlu berjalan bersama agar manfaat program tidak berhenti pada satu kali makan di sekolah.

Tags:
MBG sekolah Makan Bergizi Gratis BKN

Komentar Pengguna