Biaya Murah dan Kampus Top, China Jadi Penantang Baru Inggris untuk Studi Luar Negeri

Biaya Murah dan Kampus Top, China Jadi Penantang Baru Inggris untuk Studi Luar Negeri

21 Januari 2026 | 13:55

Keboncinta.com-- Dalam beberapa tahun terakhir, peta tujuan studi luar negeri mengalami perubahan yang cukup mencolok.

Jika sebelumnya negara-negara Barat seperti Inggris dan Amerika Serikat mendominasi pilihan pelajar internasional, kini China tampil sebagai destinasi yang semakin diminati.

Meski belum sepenuhnya menggantikan posisi Inggris sebagai tujuan utama, tren ini menunjukkan adanya pergeseran preferensi dan strategi pendidikan global yang menarik untuk dicermati.

China sejatinya bukan pemain baru dalam dunia pendidikan internasional. Negara ini telah lama mengembangkan sektor pendidikan tinggi dan secara konsisten menempati posisi tiga besar negara tujuan mahasiswa internasional bersama Amerika Serikat dan Inggris.

Baca Juga: Patch Dapodik 2026.c Resmi Dirilis, Ini Panduan Update Aman untuk Operator Sekolah

Pada tahun 2018, jumlah mahasiswa asing di China bahkan mendekati setengah juta orang, melampaui jumlah mahasiswa internasional di Inggris pada periode yang sama.

Capaian tersebut menjadikan China sebagai negara dengan populasi mahasiswa internasional terbesar kedua di dunia saat itu.

Meningkatnya minat studi ke China tidak lepas dari sejumlah faktor strategis. Biaya kuliah dan biaya hidup di China relatif lebih terjangkau dibandingkan banyak negara Barat.

Di sisi lain, sejumlah universitas ternama seperti Tsinghua University dan Peking University berhasil menembus peringkat atas dunia, menawarkan kualitas pendidikan yang kompetitif serta berbagai program berbahasa Inggris.

Selain kualitas akademik, peluang mempelajari bahasa Mandarin, memperluas jaringan global, serta pengalaman hidup di lingkungan multikultural menjadi daya tarik tersendiri.

Baca Juga: Arab Saudi Terapkan Teknologi Pintar Hitung Jamaah di Masjidil Haram Jelang Ramadan dan Haji

Dukungan pemerintah China melalui berbagai skema beasiswa dan kebijakan internasionalisasi kampus juga turut mendorong pelajar dari berbagai negara untuk memilih China sebagai tujuan studi, baik jangka pendek maupun jangka panjang.

Meski popularitas China terus meningkat, Inggris tetap mempertahankan posisinya sebagai salah satu tujuan utama pendidikan tinggi internasional.

Pada tahun akademik 2023/2024, Inggris masih menerima puluhan ribu mahasiswa asing, dengan China, India, dan Nigeria sebagai negara penyumbang mahasiswa terbesar.

Namun, dinamika juga terjadi di sektor pendidikan Inggris. Pemerintah Inggris belakangan mencabut target jumlah mahasiswa internasional dan mulai mengalihkan fokus pada pengembangan kampus serta ekspansi pendidikan Inggris ke luar negeri.

Kebijakan ini menunjukkan adanya tantangan struktural sekaligus peluang baru dalam strategi global pendidikan Inggris.

Baca Juga: Mengenal Karakter Soal TKA 2026 SD dan SMP, Orang Tua Wajib Tahu!

Menariknya, jumlah pelajar China yang memilih Inggris masih tergolong tinggi. Banyak universitas di Inggris mencatat aplikasi yang stabil, meski fluktuasi tetap terjadi akibat kebijakan visa, kondisi ekonomi global, serta perubahan preferensi individu.

Dengan perkembangan tersebut, belum dapat disimpulkan bahwa China sepenuhnya “mengalahkan” Inggris sebagai tujuan studi luar negeri. Sebaliknya, kedua negara tampak mempertahankan daya tariknya masing-masing.

China unggul dalam aspek biaya, peluang regional, dan pembelajaran budaya Asia, sementara Inggris tetap menjadi pilihan bagi pelajar yang menginginkan pengalaman pendidikan Barat dengan jaringan akademik global yang kuat.

Ke depan, persaingan dan dinamika ini diperkirakan akan terus membentuk lanskap pendidikan internasional, seiring pelajar semakin selektif dalam menentukan tujuan studi yang sesuai dengan kebutuhan dan peluang masa depan mereka.***

Tags:
pendidikan Internasional Kuliah Kampus

Komentar Pengguna