Teknologi
Hilmi An Naufal

Bikin Gambar Ala Ghibli dengan AI, Apakah Melanggar Hak Cipta? Ini Penjelasannya

Bikin Gambar Ala Ghibli dengan AI, Apakah Melanggar Hak Cipta? Ini Penjelasannya

13 Agustus 2026 | 06:35

KebonCinta.com – Hanya dengan mengunggah foto dan memberikan beberapa instruksi, sebuah gambar realistis dapat berubah menjadi ilustrasi dengan warna lembut, latar penuh detail, karakter bermata ekspresif, dan suasana yang mengingatkan orang pada film animasi Jepang.

Pada Maret 2025, kemampuan baru image generation GPT-4o membuat praktik seperti ini meledak di media sosial.

OpenAI meluncurkan 4o image generation pada 25 Maret 2025. Model tersebut mampu membuat gambar dari instruksi teks, melakukan transformasi terhadap gambar yang diunggah, mempertahankan konteks percakapan, serta mengikuti instruksi visual yang jauh lebih kompleks dibandingkan sistem sebelumnya.

Tak lama kemudian muncul tren yang kerap disebut “Ghiblification”: foto keluarga, hewan peliharaan, meme hingga berbagai peristiwa diubah menjadi ilustrasi yang mengingatkan publik pada estetika Studio Ghibli. Fenomena itu kemudian memicu perdebatan mengenai hak cipta dan masa depan seniman.

Namun pertanyaan hukumnya tidak dapat dijawab hanya dengan kalimat:

“Gaya Ghibli punya hak cipta, berarti tidak boleh ditiru.”

Persoalannya jauh lebih rumit.

Pertama, Gaya dan Karya Bukan Hal yang Sama

Dalam hukum hak cipta Amerika Serikat, salah satu poin penting adalah perbedaan antara gaya artistik dan ekspresi konkret dalam sebuah karya.

U.S. Copyright Office dalam laporan mengenai AI dan digital replicas secara eksplisit menyatakan bahwa hukum hak cipta Amerika Serikat tidak melindungi artistic style sebagai elemen terpisah dari sebuah karya.

Artinya, konsep umum seperti warna lembut, ilustrasi dua dimensi, pemandangan penuh detail, suasana fantasi, atau teknik visual tertentu tidak otomatis menjadi hak eksklusif satu seniman atau studio.

Tetapi jangan salah memahami bagian ini.

Hal tersebut bukan berarti semua gambar yang disebut “Ghibli style” otomatis aman.

Copyright Office juga menjelaskan bahwa sebuah output yang diminta “in the style of” seseorang masih dapat menimbulkan masalah apabila hasil akhirnya tidak sekadar meniru gaya, tetapi ikut mereplikasi elemen yang dilindungi dari karya tertentu.

Inilah perbedaan terpenting.

Membuat karakter baru dengan atmosfer animasi fantasi Jepang tidak sama dengan menghasilkan kembali Totoro, Catbus, Calcifer, No-Face, susunan adegan tertentu, atau desain karakter yang sangat mirip dengan karya aslinya.

Semakin banyak ekspresi spesifik dari karya asli yang disalin, semakin berbeda pula persoalan hukumnya.

Jadi, Menulis “Studio Ghibli Style” Tidak Otomatis Berarti Pelanggaran Hak Cipta?

Dalam konteks hukum Amerika Serikat, tidak otomatis.

Copyright Office menyatakan artistic style sendiri bukan objek hak cipta yang berdiri terpisah. Hak cipta terutama melindungi ekspresi konkret suatu karya.

Namun hasil akhirnya tetap harus diperhatikan.

Bayangkan dua permintaan AI.

Permintaan pertama:

“Buat ilustrasi desa fantasi dengan warna pastel, latar alam yang detail, pencahayaan lembut, dan nuansa animasi tradisional Jepang.”

Permintaan kedua:

“Buat karakter yang persis seperti Totoro berdiri di halte yang komposisi, latar, dan penampilannya sama dengan adegan film.”

Risikonya jelas tidak sama.

Permintaan kedua semakin dekat dengan reproduksi elemen dari karya tertentu yang memang mendapat perlindungan.

Karena itu, pertanyaan yang lebih tepat bukan sekadar:

“Apakah gaya ini punya hak cipta?”

Tetapi:

“Seberapa banyak elemen karya asli yang sebenarnya direproduksi dalam hasil tersebut?”

Ada Masalah Kedua yang Berbeda: Data untuk Melatih AI

Perdebatan mengenai Ghibli sebenarnya mempunyai dua lapisan hukum yang sering dicampur menjadi satu.

Lapisan pertama adalah output.

Apakah gambar yang dihasilkan menyalin karya yang dilindungi?

Lapisan kedua adalah training.

Apakah karya berhak cipta digunakan untuk melatih model AI dan, jika iya, apakah penggunaannya sah?

Ini merupakan pertanyaan hukum yang berbeda.

U.S. Copyright Office dalam laporan mengenai generative AI training menegaskan analisis fair use tidak dapat diputuskan melalui satu aturan sederhana. Penilaiannya bersifat kasus per kasus dan penggunaan karya pada tahap berbeda dalam pengembangan AI juga dapat memerlukan analisis yang berbeda.

Laporan tersebut juga mencatat karya yang sangat kreatif, seperti film, seni visual, musik, atau novel, berada lebih dekat dengan inti perlindungan hak cipta dibandingkan materi yang sangat faktual atau fungsional.

Jadi mengatakan:

“Style tidak dilindungi, berarti data apa pun boleh digunakan untuk training AI”

juga merupakan kesimpulan yang terlalu jauh.

Persoalan training AI masih menjadi salah satu bagian paling diperdebatkan dalam hukum hak cipta modern.

Bagaimana dengan Indonesia?

Indonesia mempunyai Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta.

Undang-undang tersebut melindungi karya dalam bidang ilmu pengetahuan, seni, dan sastra. Karya seni rupa seperti gambar dan bentuk ekspresi visual termasuk dalam kategori yang memperoleh perlindungan, sementara pengadaptasian, pengaransemenan, dan pentransformasian karya juga berkaitan dengan hak ekonomi pencipta.

Hak cipta Indonesia pada dasarnya juga berangkat dari perlindungan terhadap ciptaan yang diwujudkan dalam bentuk nyata, bukan sekadar gagasan abstrak.

Karena itu, persoalan gambar “ala Ghibli” di Indonesia pun sebaiknya tidak disederhanakan menjadi “mirip gaya berarti pasti melanggar”.

Perlu dilihat apakah hasil tersebut mengambil ekspresi konkret, karakter, komposisi, atau bagian substansial dari karya yang mendapat perlindungan.

Untuk penggunaan komersial atau sengketa nyata, penilaian hukum tentu sangat bergantung pada fakta setiap kasus dan yurisdiksi yang digunakan.

Nama “Studio Ghibli” Juga Membawa Persoalan Lain

Ada pula bagian yang bukan semata-mata soal hak cipta.

Studio Ghibli adalah identitas sebuah perusahaan dan brand.

U.S. Copyright Office mencatat bahwa meskipun gaya sebagai gaya tidak mendapatkan hak eksklusif tersendiri melalui copyright, sengketa mengenai peniruan dapat menyentuh kerangka hukum lain seperti unfair competition, passing off, trademark, atau kondisi ketika masyarakat dibuat mengira suatu produk berhubungan atau didukung oleh pihak tertentu.

Contohnya berbeda lagi.

Membuat satu ilustrasi untuk koleksi pribadi tidak sama dengan menjual paket:

“Official Studio Ghibli AI Portrait Service.”

Jika tidak memiliki hubungan resmi dengan Studio Ghibli, penggunaan kata “official” jelas berpotensi membuat konsumen mengira ada persetujuan atau afiliasi yang sebenarnya tidak ada.

Jadi masalahnya dapat bergeser dari hak cipta ke penggunaan identitas merek dan potensi menyesatkan konsumen.

Bagaimana Jika Hanya Mengubah Foto Sendiri?

Risikonya cenderung berbeda apabila seseorang hanya mengubah foto pribadinya menjadi ilustrasi yang terinspirasi animasi fantasi dan menyimpannya untuk penggunaan pribadi.

Situasinya menjadi lebih sensitif ketika hasil tersebut:

  • mereproduksi karakter tertentu;

  • menyalin komposisi atau adegan karya asli;

  • dijual sebagai merchandise;

  • digunakan untuk bisnis dengan nama Studio Ghibli;

  • atau dibuat seolah-olah merupakan produk resmi studio.

Jadi konteks penggunaan mempunyai peran penting.

Satu gambar lucu yang dikirim ke grup keluarga dan seribu kaus yang dijual dengan karakter yang sangat menyerupai karya asli jelas merupakan dua situasi yang berbeda.

Jangan Salah Kutip Hayao Miyazaki

Ada satu hal lain yang perlu diluruskan dari berbagai unggahan mengenai tren ini.

Ketika gambar ala Ghibli viral pada 2025, banyak unggahan menggunakan pernyataan Hayao Miyazaki mengenai AI dan memberikan kesan seolah-olah ia baru saja bereaksi terhadap tren ChatGPT.

Padahal pernyataan terkenalnya mengenai AI berasal dari 2016, jauh sebelum GPT-4o maupun tren Ghibli AI muncul.

Ketika itu Miyazaki diperlihatkan sebuah demonstrasi animasi eksperimental berbasis AI yang menampilkan gerakan tubuh aneh. Reaksinya kemudian dikenal luas sebagai kritik keras terhadap penggunaan AI dalam animasi. Pernyataan lama tersebut kembali viral ketika tren ChatGPT-Ghibli muncul pada 2025.

Jadi tidak tepat menulis seolah-olah kutipan lama tersebut merupakan respons resmi Miyazaki terhadap fitur GPT-4o pada 2025.

Perdebatan Jepang dan OpenAI Kemudian Makin Serius

Kontroversinya tidak berhenti pada meme yang viral.

Pada perkembangan berikutnya, Content Overseas Distribution Association atau CODA—organisasi antipembajakan Jepang yang anggotanya antara lain Studio Ghibli Inc.—mengirim permintaan tertulis kepada OpenAI pada Oktober 2025 terkait persoalan konten Jepang dan penggunaan materi berhak cipta dalam AI.

Kasus tersebut terutama berkaitan dengan Sora 2 dan generasi video, sehingga tidak boleh dianggap sebagai gugatan khusus terhadap tren gambar GPT-4o.

Namun peristiwa itu menunjukkan kekhawatiran industri konten Jepang terhadap AI generatif kemudian bergerak jauh melampaui perdebatan warganet.

Pada April 2026, CODA menyatakan telah menerima laporan dari OpenAI bahwa perusahaan akan menghentikan penyediaan Sora 2 sebagai produk. CODA mengatakan pembicaraan mengenai perlindungan karya dan generative AI tetap berlanjut.

GPT-4o Image Generation Juga Sudah Bukan Teknologi Terbaru ChatGPT

Ada satu pembaruan penting jika membahas artikel ini pada 2026.

Fitur 4o image generation yang viral pada Maret 2025 bukan lagi sistem image generation terbaru di ChatGPT.

OpenAI pada 16 Desember 2025 memperkenalkan versi baru ChatGPT Images dengan model image generation flagship baru. Untuk API, model tersebut diperkenalkan sebagai GPT Image 1.5. OpenAI menyebut peningkatannya meliputi editing yang lebih presisi, instruction following yang lebih kuat, dan generasi yang lebih cepat.

Jadi jika sebuah artikel pada 2026 menyebut “fitur AI baru ChatGPT-4o”, konteks waktunya perlu diperbarui.

GPT-4o image generation memang menjadi teknologi yang memicu ledakan gambar Ghibli pada 2025, tetapi dunia image generation ChatGPT sudah bergerak ke generasi berikutnya.

Bagaimana Mengetahui Gambar Dibuat AI?

Sejak peluncuran 4o image generation, OpenAI juga memasukkan metadata C2PA pada gambar yang dihasilkan untuk membantu menunjukkan bahwa gambar berasal dari sistem OpenAI. Perusahaan juga mengembangkan mekanisme internal untuk memeriksa asal sebuah generasi.

Teknologi provenance seperti ini semakin penting ketika gambar sintetis makin sulit dibedakan dari karya digital biasa.

Namun metadata bukan penyelesaian seluruh persoalan copyright.

Ia hanya membantu menjawab pertanyaan:

“Dari mana gambar ini berasal?”

Bukan otomatis:

“Apakah gambar ini melanggar hak cipta?”

Pertanyaan kedua tetap membutuhkan analisis terhadap karya, penggunaan, dan hukum yang berlaku.

Jadi, Apakah Gambar Ala Ghibli dari AI Melanggar Hak Cipta?

Jawabannya adalah:

belum tentu.

Dalam pendekatan hukum Amerika Serikat yang dijelaskan U.S. Copyright Office, artistic style secara terpisah tidak dilindungi seperti sebuah karya konkret. Namun hasil AI dapat memasuki wilayah pelanggaran ketika ikut mereplikasi ekspresi yang dilindungi dari karya tertentu.

Masalah data untuk melatih AI juga merupakan pertanyaan berbeda dan sampai sekarang tetap menjadi arena hukum yang kompleks. Analisis fair use tidak memiliki satu jawaban yang berlaku untuk seluruh model, seluruh dataset, dan seluruh penggunaan.

Karena itu, pendekatan yang lebih aman bagi kreator adalah menggunakan AI untuk membuat sesuatu yang terinspirasi, bukan mencoba menghasilkan salinan karya, karakter, maupun frame tertentu.

Alih-alih meminta:

“Buat persis seperti adegan film X.”

deskripsikan kualitas visual yang ingin diperoleh.

Misalnya:

“animasi dua dimensi yang digambar tangan, warna cat air lembut, desa fantasi hijau, pencahayaan sore hangat, karakter orisinal, dan latar penuh detail.”

Hasilnya masih bisa mempunyai suasana yang diinginkan tanpa harus menggantungkan seluruh karya pada identitas satu studio.

Teknologi AI memang membuat batas antara inspirasi, imitasi, dan reproduksi semakin sulit terlihat.

Tetapi justru karena itu, satu prinsip lama dalam dunia kreatif menjadi semakin penting:

terinspirasi oleh karya orang lain berbeda dengan mengambil karya orang lain.

Tags:
teknologi

Komentar Pengguna