KebonCinta.com-- Sosis untuk sarapan, kornet sebagai lauk, atau daging asap sebagai pelengkap makanan sering menjadi pilihan karena praktis dan mudah disajikan. Rasanya yang gurih membuat produk-produk tersebut digemari banyak orang. Namun, apakah daging olahan aman jika dikonsumsi setiap hari?
Daging olahan memang dapat menjadi sumber protein, tetapi cara pengolahannya membuat produk ini berbeda dari daging segar. Beberapa jenis daging olahan mengandung garam dalam jumlah tinggi serta bahan pengawet tertentu. Jika menjadi menu harian tanpa diimbangi pola makan yang seimbang, kebiasaan tersebut patut diperhatikan.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melalui Badan Internasional untuk Penelitian Kanker (IARC) menggolongkan daging olahan sebagai karsinogen Grup 1, yaitu bahan yang memiliki bukti kuat dapat menyebabkan kanker pada manusia, khususnya kanker kolorektal atau kanker usus besar dan rektum. Penggolongan ini menunjukkan kekuatan bukti ilmiah, bukan berarti tingkat bahayanya sama dengan semua zat lain dalam kategori tersebut.
Baca Juga: Sering Makan Sebelum Tidur? Kenali 4 Dampaknya bagi Kesehatan dan Cara Mengatasinya
Daging olahan adalah daging yang mengalami proses tertentu untuk meningkatkan cita rasa atau memperpanjang masa penyimpanan. Proses tersebut dapat berupa penggaraman, pengasapan, pengawetan, fermentasi, atau penambahan bahan pengawet.
Beberapa contoh yang mudah ditemukan sehari-hari antara lain:
Tidak semua produk daging memiliki proses yang sama. Karena itu, penting membaca daftar bahan pada kemasan untuk mengetahui jenis produk, kandungan garam, dan bahan tambahan yang digunakan.
Salah satu alasan utama para ahli menyarankan pembatasan daging olahan adalah kaitannya dengan kanker kolorektal. Bukti ilmiah menunjukkan bahwa konsumsi daging olahan dapat meningkatkan risiko kanker ini, dan risikonya cenderung bertambah seiring jumlah yang dikonsumsi.
WHO pernah mengutip analisis yang memperkirakan bahwa konsumsi 50 gram daging olahan setiap hari berkaitan dengan peningkatan risiko relatif kanker kolorektal sekitar 18 persen. Angka tersebut merupakan peningkatan risiko relatif berdasarkan penelitian, bukan berarti 18 dari setiap 100 orang yang mengonsumsi daging olahan pasti terkena kanker.
Temuan ini bukan alasan untuk langsung panik jika sesekali mengonsumsi sosis atau kornet. Hal yang lebih penting adalah memperhatikan kebiasaan dalam jangka panjang dan menghindari konsumsi berlebihan secara terus-menerus.
Baca Juga: Sering Makan Sebelum Tidur? Kenali 4 Dampaknya bagi Kesehatan dan Cara Mengatasinya
Sebagian produk daging olahan mengandung banyak natrium karena garam digunakan dalam proses pengolahan dan pengawetan. Asupan natrium yang berlebihan dapat meningkatkan tekanan darah dan berkontribusi terhadap risiko penyakit kardiovaskular.
Dampaknya bergantung pada kandungan produk yang dikonsumsi serta pola makan seseorang secara keseluruhan. Orang yang perlu membatasi natrium, misalnya karena memiliki tekanan darah tinggi atau kondisi medis tertentu, sebaiknya lebih cermat memilih produk kemasan.
Periksa informasi nilai gizi sebelum membeli. Bandingkan kandungan natrium antarproduk dan perhatikan ukuran sajian agar jumlah yang dikonsumsi tidak melebihi perkiraan.
Mengandalkan daging olahan sebagai lauk utama setiap hari juga berpotensi mengurangi variasi makanan. Padahal, tubuh membutuhkan beragam zat gizi yang dapat diperoleh dari sayuran, buah-buahan, biji-bijian utuh, kacang-kacangan, dan berbagai sumber protein.
Jika sosis atau kornet selalu menjadi pilihan utama karena praktis, seseorang mungkin lebih jarang mengonsumsi bahan pangan segar yang kaya serat.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir