Pendidikan
Rahman Abdullah

Bukan Kurikulum Baru, Ini Arah Pembelajaran Mendalam 2026 yang Wajib Dipahami Guru

Bukan Kurikulum Baru, Ini Arah Pembelajaran Mendalam 2026 yang Wajib Dipahami Guru

20 Agustus 2026 | 12:42

Keboncinta.com-- Istilah pembelajaran mendalam atau Deep Learning semakin sering muncul dalam dunia pendidikan sepanjang 2026. Kehadirannya membuat banyak guru dan sekolah bertanya-tanya, apakah pendekatan tersebut menandakan adanya kurikulum baru yang harus diterapkan di sekolah?

Jawabannya tidak demikian. Pembelajaran mendalam bukanlah kurikulum baru yang menggantikan kurikulum yang telah digunakan sekolah. Pendekatan ini lebih menekankan perubahan cara belajar, sehingga peserta didik tidak berhenti pada tahap menerima dan menghafal materi, tetapi benar-benar memahami konsep, mampu menerapkannya, serta dapat menghubungkan pengetahuan dengan kehidupan nyata.

Karena itu, guru memiliki peran penting dalam menerjemahkan pendekatan ini ke dalam kegiatan pembelajaran yang sesuai dengan kondisi peserta didik dan karakteristik satuan pendidikan.

Baca Juga: Beasiswa Unggulan 2026 Disebut Telah Dibuka, Berikut Link Resminya

Pembelajaran Mendalam Bukan Kurikulum Baru

Penerapan pembelajaran mendalam pada dasarnya mengarahkan proses pendidikan agar lebih berfokus pada kualitas pengalaman belajar murid.

Jika pembelajaran selama ini sering dipahami sebagai proses penyampaian materi dari guru kepada siswa, pendekatan pembelajaran mendalam mendorong proses yang lebih luas. Peserta didik diharapkan dapat memahami alasan mempelajari suatu materi, mengaitkannya dengan kehidupan sehari-hari, mencoba menerapkan pengetahuan, kemudian melakukan refleksi terhadap proses yang telah dilalui.

Dengan pendekatan tersebut, keberhasilan pembelajaran tidak hanya dilihat dari seberapa banyak materi yang telah disampaikan guru. Hal yang lebih penting adalah sejauh mana peserta didik memahami pengetahuan dan mampu menggunakannya dalam situasi yang relevan.

Oleh sebab itu, guru tidak perlu menganggap pembelajaran mendalam sebagai kewajiban untuk mengganti kurikulum secara keseluruhan. Pendekatan ini justru dapat diintegrasikan ke dalam proses pembelajaran yang sudah berjalan.

Permendikdasmen Nomor 1 Tahun 2026 Menjadi Landasan

Pembelajaran mendalam memperoleh landasan dalam regulasi melalui Permendikdasmen Nomor 1 Tahun 2026 tentang Standar Proses pada PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah.

Peraturan tersebut mulai berlaku pada 5 Januari 2026 dan menggantikan Permendikbudristek Nomor 16 Tahun 2022. Kehadirannya menjadi bagian dari penyesuaian penyelenggaraan pendidikan terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Baca Juga: Pensiunan PNS Wajib Tahu, Ini Cara Mengatasi Autentikasi Wajah TASPEN yang Gagal

Dalam konteks pendidikan, istilah Deep Learning juga perlu dipahami secara tepat. Istilah tersebut tidak merujuk pada teknologi kecerdasan buatan atau sistem AI, melainkan pendekatan pedagogis yang menekankan proses belajar secara lebih mendalam.

Fokusnya adalah membawa peserta didik dari sekadar mengetahui materi menuju kemampuan memahami, mengaplikasikan, dan merefleksikan pengetahuan yang diperoleh.

Tiga Prinsip Utama Pembelajaran Mendalam

Dalam penerapannya, pembelajaran mendalam bertumpu pada tiga prinsip yang dapat diterapkan secara terpadu dalam kegiatan belajar mengajar.

Prinsip pertama adalah berkesadaran atau mindful. Melalui prinsip ini, peserta didik diarahkan untuk mengetahui tujuan pembelajaran sekaligus memahami mengapa materi yang dipelajari penting bagi dirinya.

Kesadaran tersebut diharapkan dapat membantu membangun motivasi belajar yang lebih kuat. Siswa tidak hanya mengikuti pembelajaran karena kewajiban, tetapi mulai memahami tujuan dari aktivitas belajar yang dilakukan.

Prinsip kedua adalah bermakna atau meaningful. Pembelajaran perlu dikaitkan dengan pengalaman dan kehidupan nyata peserta didik. Dengan demikian, materi yang diperoleh di ruang kelas tidak berhenti sebagai pengetahuan teoritis atau hafalan.

Ketika siswa mampu melihat hubungan antara materi pelajaran dengan persoalan yang mereka temui sehari-hari, pengetahuan akan menjadi lebih relevan dan berpotensi lebih mudah dipahami.

Prinsip ketiga adalah menggembirakan atau joyful. Lingkungan belajar perlu dibangun agar positif, aman, menantang, dan memberikan ruang kepada siswa untuk berdiskusi maupun melakukan kesalahan sebagai bagian dari proses belajar.

Suasana pembelajaran yang menyenangkan bukan berarti menghilangkan tantangan. Sebaliknya, siswa tetap didorong untuk berpikir dan mengeksplorasi pengetahuan, tetapi dalam lingkungan yang mendukung keterlibatan aktif mereka.

Baca Juga: Pensiunan PNS Wajib Tahu, Ini Cara Mengatasi Autentikasi Wajah TASPEN yang Gagal

Murid Didorong untuk Memahami, Mengaplikasikan dan Merefleksikan

Tiga prinsip tersebut kemudian terhubung dengan pengalaman belajar yang mencakup memahami, mengaplikasikan, dan merefleksikan.

Pada tahap memahami, peserta didik tidak sekadar mengingat informasi, tetapi berusaha memperoleh pemahaman terhadap konsep yang dipelajari. Guru dapat memberikan pertanyaan, contoh, atau aktivitas yang membantu siswa melihat hubungan antarkonsep.

Selanjutnya, pengetahuan tersebut dapat dibawa ke tahap mengaplikasikan. Siswa diberikan kesempatan menggunakan apa yang telah dipelajari untuk menyelesaikan persoalan, mengerjakan proyek, melakukan praktik, maupun menghadapi situasi yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.

Tahap berikutnya adalah refleksi. Peserta didik diajak melihat kembali proses belajar yang telah dilalui, memahami hal yang sudah dikuasai, menemukan bagian yang masih perlu diperbaiki, serta mempertimbangkan bagaimana pengetahuan tersebut dapat digunakan dalam situasi lainnya.

Ketiga pengalaman tersebut tidak harus selesai dalam satu kali pertemuan. Guru dapat merancangnya secara bertahap sesuai tujuan pembelajaran, kondisi kelas, serta kebutuhan peserta didik.

Apa yang Perlu Dilakukan Guru?

Penerapan pembelajaran mendalam menuntut guru lebih cermat dalam merancang pengalaman belajar. Fokusnya bukan sekadar menyelesaikan seluruh materi, tetapi memastikan siswa memperoleh kesempatan untuk memahami konsep secara lebih utuh.

Guru dapat mulai dengan merancang pertanyaan pemantik, menghadirkan persoalan yang dekat dengan kehidupan siswa, memberikan kesempatan berdiskusi, melakukan praktik atau proyek, serta menyediakan waktu untuk refleksi.

Baca Juga: Guru Wajib Bersiap!

Tags:
pendidikan Deep Learning kurikulum

Komentar Pengguna